ketika membaca peta

beberapa tahun yang lalu, saya sangat terkesan sekali dengan sebuah acara anak-anak di televisi, serial petualangan DORA the Explorer. rata-rata pemilik tv di indonesia, pasti tau seial ini.

yang menarik adalah dalam setiap perjalanan petualangannya, Dora dan si kera mengeluarkan peta, dan peta memberikan ‘petunjuk’ berupa tempat dengan ciri yang khas misalnya ladang jagung, gunung tinggi, rumah pohon, dsb-dsb.

nah, ternyata peta sudah menjadi bahan pelajaran bagi anak usia dini, sebagai sebuah kumpulan simbol yang memberikan informasi arah dan orientasi.

menurut om wiki, peta [map] adaalah sebagai berikut

“A map is a visual representation of an area—a symbolic depiction highlighting relationships between elements of that space such as objects, regions, and themes.

Many maps are static two-dimensional, geometrically accurate representations of three-dimensional space, while others are dynamic or interactive, even three-dimensional. Although most commonly used to depict geography, maps may represent any space, real or imagined, without regard to context or scale; e.g. Brain mapping, DNA mapping, and extraterrestrial mapping.”

demikian pula dengan undangan, yang biasanya menyertakan peta sebagai acuan orientasi tempat berlangsungnya sebuah acara. ini sangat unik, karena ‘hanya’ memuat hal-hal yang penting dalam menunjukkan arah. skala tidak diperhatikan sama sekali. tapi seluruh orang yang diundang dapat mengetahui ancer-ancer lokasi dengan mudah dibandingkan dengan hanya berbekal alamat lengkap lokasi.

nah, di kelas kita telah mencoba untuk bertukar informasi lokasi tempat tinggal kita di jogja. setiap mahasiswa membuat peta ala undangan, dan kemudian peta itu disebar dan saling bertukar dengan teman yang lain. setiap orang berusaha ’sampai’ ke lokasi bermodalkan peta ala undangan.

dari 70-an mhs, sekitar 36 org ’sampai’ dengan sukses. 14-an orang tidak sampai, sisanya bingung.

yang 36 orang sampai ke tujuan dengan bermodalkan NAMA GEDUNG/BANGUNAN dan NAMA JALAN.

yang 14 orang tidak sampai karena peta yang mereka terima kurang mencantumkan NAMA GEDUNG/BANGUNAN, walaupun nama jalan sudah ada.

sedangkan yang bingung itu karena mereka BELUM pernah ke lokasi peta, sehingga buta NAMA GEDUNG/BANGUNAN dan NAMA JALAN. Namun, ketika saya tantang, jikalau mereka ke sana sekarang dengan modal peta itu, apakah sampai juga. dijawab dengan IYA. mengapa? karena NAMA GEDUNG/BANGUNAN dan NAMA JALAN yang tercantum sudah cukup memberikan ‘petunjuk’.

ya.. begitulah bangunan berkomunikasi secara non-verbal dengan manusia. bangunan memberikan ‘petunjuk’ yang mengarahkan orientasi, sehingga tujuan dapat ditemui. ada ‘bahasa’ yang bisa kita tangkap dari ‘wajah-bentuk-warna-tekstur-skala’ banguan dan akhirnya kita menggunakannya sebagai alat penentu arah dan orientasi.

pada tingkat berikutnya kita akan mengenalkan istilah ‘landmark’ atau tengeran.

Leave a Reply