[UP DATE] Meruang di KAUMAN

tulisan ini adalah pemenuhan janji di masa lalu.

setelah menjelajahi ruang maya rekan-rekan teori arsitektur 01, saya mengambil beberapa diantaranya. selama penjelajahan itu, saya turut merasakan apa yang mereka rasakan, kadang saya harus menautkan alis, menggaruk hidung, tersenyum simpul bahkan tertawa keras. kejujuran dan keaslian sangat tercermin di setiap kata.

semoga kejujuran dan keaslian dalam menulis ini mendapat respon positif bagi penghuni jagat maya.

ini beberapa cuplikan dari ‘curhat’ mereka.

di sini, aris menuliskan bahwa pengalaman meruang itu harus dirasakan secara langsung. memiliki pengalaman meruang akan menjadi kaya jika dari luar kita masuk ke dalamnya, berada di dalamnya, lalu keluar ruang, sehingga saat kita berada di luar ruang terungkaplah pengalaman meruang yang baru saja terjadi.

untuk menjelas tulisan berwarna biru, berjalan-jalanlah ke site ini, dan juga ke site yang satu ini, keduanya meceritakan karakter ruang ketika mereka memasukinya, rasa ketika berada di dalamnya. ada ruang yang membuat terhimpit karena dimensi jalan setapak dengan dinding bangunan membentuk lorong yang sempit dengan sisi vertikal yang tinggi, sehingga bangkit merasa ‘lega’ ketika memasuki jalan yang lebih lebar.

ada imagi yang menarik dari tulisan agustina, yang melihat karakter lorong itu bernuasa ‘catwalk’ karena semua yang berjalan di lorong akan menjadi ‘fokus’ .

semua blog menyinggung ‘pasar kuliner kagetan’ yang kebetulan ada selama bulan ramadhan. dan clausie memberikan gambaran pengalaman ruangnya dengan menggunakan bahasa kuliner sebagai preseden. bisa saja karena masih terbayang haus dan teriknya matahari saat itu tatkala menulis blog.

kemudian aldo mencoba membahas, mengapa ruang ‘pasar kuliner kagetan’yang dikatakan sumpek-sempit-panas-desak-desakan tetep menjadi ‘tujuan’. kesadaran ini penting untuk para disainer agar memahami bahwa ruang yang dikatakan berhasil harus menjadi ‘tujuan’. tidak hanya sekedar indah-luas-lega-nyaman, tetapi kegiatan di dalamnya memanggil orang untuk datang dan berinteraksi dengan ruang.

ada beberapa yang menjadi deja-vu, mendadak rindu kampung halaman. ini menjadi salah satu bukti, bahwa ruang yang satu menjadi referensi bagi ruang yang lainnya. [buat yang deja-vu, semangat yaaa! entar week end atau desember bisa pulang]

tapi lain lagi yang dipaparkan oleh adit, bahwa ruang memiliki karakter yang berlainan, sesuai dengan ’siapa’ bersama kita. ada hal yang bisa kita katakan berdasarkan paparan adit, bahwa meruang itu adalah ‘pengalaman personal‘. ada ruang menjadi sumber rasa takut atau pun bahagia karena pengalaman personal pada saat berada di dalam ruang tersebut. contoh, ada rekan saya yang sangat takut naik lift, karena pernah ditodong di lift, ada yang takut ke pantai karena punya pengalaman tsunami yang mengerikan.

ada kesimpulan dari maxi, saya kutip untuk dijadikan penutup posting ini:

Meruang adalah proses berinteraksi dengan situasi dan keadaan atau tempat dengan cara melihat, meraba dan merasakan rasa yang di berikan oleh sebuah tempat baik itu menerima ataupun menolak kita”

senang sekali dengan kajian yang lebih baik dari harapan. tetap semangat meruang. dan kita kan merencanakan tujuan meruang kita selanjutnya.

2 Responses

  1. ‘ada org mirip pak eddy, duduk ngeliatin cah-cah 2008 liwat’ , kata bus sita…
    eh, ternyata emang sekilas mirip pak eddy je…

  2. Adventy Mianita B

    buu,,
    ni alamat e-mail saya (tobe_LoveNty@yahoo.co.id)

    mksh ia bu.

Leave a Reply