berharap pulang

[telat.
sudah siang.
kopi pagi sudah dingin:
manggarai overroasted.
pahit gosong dengan manis gula aren]
cleguk!

sesuk ngonthel ke desa-desa aja
jalan menuju kota gaduh slalu je..
cekluk… cekluk…

kembali ke timur.
kembali ke asal-usul.

terhenti di slogan

anti gepeng
di perhentian bangjo tandan, saya jumpai baliho ini.
baliho imbauan agar orang tidak lagi memberi uang pada pengamen, pengasong dsb.
apakah bisa terlaksana?
ah,
ini di yogya. terlalu banyak orang tidak tega melihat sesamanya menderita. sangat banyak orang yang ingin berbuat amal pada orang yang menderita.
entah itu derita bikin-bikinan, entah itu sandiwara, entah itu beneran.
tindakan memberi ini susah hilang karena titik beratnya bukan pada si penderita, tapi pada perbuatan amalnya. memberi orang yang [nampak] menderita itu dipercaya bakal diganjanr surga.
itu dia.
orang ingin benar ke surga!

negeri manakah ini?

palestina

di papua, orang mengibarkan bintang kejora bisa ditembak mati.
di jawa, orang bebas mengibarkan bendera palestina sebebas-bebasnya.

melanggar larangan di kota terlarang: drone photography

ini memang masih jadi perkara: teknologi fotografi dengan bantuan pesawat nirawak telah menggugat batas-batas privacy. demikian pula yang terjadi dengan video ini, yang konon membuat pembuatnya ditangkap polisi gara-gara pesawatnya menerobosi batas-batas kota terlarang di beijing.
siapa yang diuntungkan dengan keterbukaan seperti ini coba? tentu mereka yang tetep memelihara aksesibilitas dari berbagai bentuk intrusi. bukan cuma intrusi visual saja.

riwayat kindle dalam satu image

kindle adalah ebook reader kesayangan saya.
paling tidak hingga saat ini saya belum ingin berganti ke reder lainnya.
bisa jadi karena memang cuma ini yang saya punya. termurah dari lainnya.

kindle touch,
menggantikan kindle 3G sebelumnya yang hilang dalam perjalanan ke surabaya.

ini ebook wagu: bekerja dari format html yang dimodifikasi jadi mobi. sehingga tidak bisa terlalu banyak berharap menghasilkan tampilan seperti yang di tablet-tablet itu.
ini memang cuma buat baca ISI dari suatu dokumen.

membaca buku [ebook, tepatnya] dengan kindle mengubah secara mendasar perilakuk saya dalam membaca buku. selain memudahkan, juga membatasi. memudahkan membawa banyak buku, tapi melihat dua halaman sekaligus saja tidak bisa.

ah, ini memang alat dengan banyak keterbatasan.
tapi, biasanya satu alat untuk satu fungsi itu lebih baik. jadi, perlakukan saja kindle sebagaimana fungsinya sebagai alat baca. bukan untuk game atau browsing.
bukankah memang begitu cara orang menyayangi sesuatu: menyadari kekuatan dan keterbatasannya?

gambar berikut saya ambil dari artikel di “The Digital Reader”, yang menggambarkan riwayat disain kindle salam satu image gif saja.

1 2 3 85