saya datang dengan busana kaosan, ke “candi” plaosan.
cuaca sedang panas dan gerah.

di hamparan sawah luas tanpa pepohonan perindang,
itulah keadaan tempat tinggal para bhiku/bhikuni masa kini, yang oleh orang disebut sebagai candi plaosan.
tempat tinggal para bhiku ini nampak mewah, untuk mereka yang sudah berjanji untuk hidup miskin sepanjang hidupnya. mungkin ini adalah tempat tinggal persembahan penguasa yang menghormatinya. ada yang menyebutkan bahwa kompleks hunian untuk para bhiku ini dibangun oleh pramodhawardani, permaisuri rakai pikatan. sang permaisuri yang terhitung dari keluarga syailendra ini memang buddhis. sementara sang suami yang berasal dari keluarga sanjaya, adalah penganut hindu. suatu paduan yang mengherankan bagi orang masa kini sehingga sering dikutip-kutip.
bangunannya sendiri juga demikian, susah dibedakan dengan bangunan yang dibuat oleh penguasa beragama hindu yang banyak tersebat di sekitar prambanan ini. jadi, kayaknya klasifikasi bangunan atas perbedaan agama pembangunnya itu gak banyak menerangkan mengenai seluk beluk bangunannya sendiri.
tempat tinggal para bhiku di sini ada dua.
masing-masing berlantai dua, dengan disain struktur yang kurang-lebih sama: dimensi, morfologi, bahan, teknik, komposisi ruang…. rasanya semuanya sama. keduanya juga berdiri di atas halaman berpagar tinggi dengan gerbang butulan yang menghubungkan kedua halaman ini. kedua halaman juga memiliki akses sendiri-sendiri dari arah barat, yang berpenjaga dua pasang dwarapala.
di luar kedua halaman utama ini adalah berderet-deret bangunan-bangunan kecil dengan satu pintu dan deretan stupa-stupa batu yang ukurannya kurang-lebih sama dengan bangunan-bangunan kecil tadi. apakah itu bangunan untuk meditasi/menyepi dari masing-masing bhiku? entahlah. tapi deretan bangunan sebanyak 58 buah ditambah 116 stupa ini diatur tertib dengan memberikan ruang sirkulasi di sela-selanya. ruang sirkulasi yang diperuntukkan bagi prosesi atau pergerakan para bhiku yang menjalankan aktivitas rutin hariannya di sini.
jadi, secara umum, bangunan di plaosan ini mirip seperti di rara jonggrang dan candi sewu yang “mengeksplorasi unit-unit tipikal secara moduler”, di luar bangunan utamanya. bangunan-bangunan tipikal bermodul sama ini bisa ditambah jumlahnya dengan bentuk, ukuran, bahan dan teknik yang sama. rupanya, orang membangun di masa itu adalah dengan cara meniru dari pendahulunya. bangunan-bangunan pinggiran ini bisa didirikan oleh orang yang berbeda, di jaman yang berbeda pula sebab tinggal mengulang modul yang sudah ada sebelumnya dengan hasil akhir yang sama.
tindakan mengopi seperti itu mengandaikan mereka memiliki alat-alat ukur yang akurat. paling tidak, mereka sudah menguasai alat jangka, untuk mengatur skala, dan membuat garis siku. peralatan canggih lain yang harus ada adalah peralatan untuk membuat batu-batu lengkung bagi stupa-stupa. saya belum tahu dengan cara bagaimana orang waktu itu memahat batu dengan bentuk lengkung secara konsisten.
sesuatu yang luar biasa bagi saya, pengalaman dolan ke plaosan kali ini!