latest publications

irshad manji di salihara

berita mengenai pembubaran diskusi buku karya penulis irshad manji oleh FPI dan POLRI membuat saya segera mencari publikasi dia yang lain di web. cukup banyak rupanya tulisan dia yang dipasang di web dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia.
artinya,
di indonesia sendiri sudah banyak pula yang membaca tulisannya. khususnya tulisannya yang diindonesiakan menjadi “beriman tanpa rasa takut” buku yang memberi gambaran mengenai masa lalu penulisnya yang dibesarkan oleh ayah yang keras, madrasah yang payah, sementara lingkungan di luarnya demokratis barat. pergulatan yang berani dihadapi, dirumuskan dalam kalimat-kalimat yang tajam. membongkari sejarah tersusunnya kitab suci, sejarah emas ketika islam membuka toleransi dengan yahudi dan kristen, dan jaman kemerosotan islam ketika kekalifahan ditegakkan.
seharusnya mata orang lalu terbuka ketika membaca buku manji ini, tapi faktanya sebaliknya.
di mana-mana manji diprotes oleh golongan muslim keras yang buas yang sudah dikenal betul oleh manji sendiri sejak dari dulunya.
mengundang manji ke salihara, tentunya juga sudah disadari akan berhadapan dengan gerombolan muslim keras yang serupa. sayang sekali panitia tidak berhasil meneruskan diskusi itu. mereka memilih untuk membubarkan diskusi seperti yang dikehendaki FPI dan polisi.
namun demikian, tulisan-tulisan irshad manji tetap bisa diakses siapa saja.
ada kebenaran di sana yang susah untuk diakui oleh orang yang sudah buta mata hatinya.

MEKANISME, bukan BENTUK

belajar dari alam tidak harus meniru bentuk-bentuk atau pola-pola yang tersedia di alam.
tidak meniru wujud binatang tertentu, atau tetumbuhan tertentu.
tapi,
kita -mengikuti leonardo da vinci- mengembangkan dan memanfaatkan MEKANISME yang bekerja pada simpul-simpul tulang belulang manusia dan binatang, untuk menghasilkan sebuah karya baru.

seniman belanda di bawah ini melanjutkan usaha tadi dengan membuat karya yang merespons kekuatan angin di pantai belanda.
suatu karya kinetik yang bisa bergerak karena menanggapi kekuatan angin.

“mercury” kitaro

bunyi seruling
adalah udara mengalir yang bernada.
udara
yang kita hirup dalam nafas
atman
yang menghidupi kita
kali ini disajikan dalam nada.
bunyi seruling
adalah nada-nada aliran kehidupan kita

merayakan kesementaraan

orang yang hidup di sekitar bunga #sakura, tentunya sanggup belajar mengenai kesementaraan hidup ini.
itukah sebabnya orang2 di sekitar bunga #sakura sini bersedia bekerja keras merebut prestasi dari dekapan kesewenangan waktu?
berbeda dari para pendiri candi dan piramida yg terpesona oleh kelanggengan, orang sekitar #sakura sini merayakan kesementaraan
monumen2 di sekitar #sakura sini sifatnya sementara, dibuat dr bahan organik dan tdk berpretensi utk berumur ribuan tahun
hasrat orang di sekitar #sakura sini, utk memimpikan keabadian dicegah oleh keadaan alamnya
tidak mungkin membangun monumen yg awet dari goyangan gempa di negeri #sakura
teknologi maju di negeri #sakura tdk utk bikin bangunan yg kaku kuat ketika digoyang gempa, mrk pilih bertahan dng bergoyang bersama.
dengan ikut bergoyang bersama gempa, orang di negeri #sakura bisa bertahan. misalkan bangunan rusak, mrk bisa bangun ulang.
BERTAHAN di negeri #sakura, berarti luwes: BISA BANGUN sehabis rebah. pantang menyerah!
hari ini carang2 #sakura terlihat mati. tapi tunggulah nanti, janji alam biasanya ditepati. pada waktunya nanti akan berbunga kembali.

why do old books smell so good?

kerja mengemis

di bordes bawah, sebelum kami mendaki ratusan anak tangga ke makam, ada larangan agar orang tidak MENGEMIS dan MENGAMEN di makam.

mungkin pembuatan larangan itu didasari pada anggapan bahwa suatu tempat yang sudah berfungsi untuk suatu kegiatan tertentu jangan dipakai untuk kegiatan yang lain. makam adalah tempat kegiatan kultural -yakni ibadah- jangan dipakai untuk kegiatan ekonomi [mencari nafkah]. suatu anggapan yang selaras dengan modernitas, yang mengejar efisiensi dan efektivitas penggunaan ruang. “tidak cocok”, “bukan pada tempatnya”…

memang di makam itu tidak ada pengemis, apa lagi pengamen.
tapi, makam itu sudah berubah menjadi institusi pengemis. di setiap kelokan arah jalan ada KOTAK AMAL yang dijaga. bila kita tidak mengisinya, akan diperingatkan penjaga agar kita memasukkan uang ke dalamnya. di pintu makam, di tangga keluar DAN masuk, di toilet, di bordes-bordes tangga… adalah kotak amal.
saya yakin jumlahnya melebihi jumlah tempat sampah yang seharusnya ada di tempat seperti itu. kita gemar menghamburkan sampah di luar tempat yang seharusnya, sementara justru kotak amal yang kita perbanyak jumlahnya.

apanya yang salah dengan budaya kita?
mengapa kita cenderung permisif terhadap pengemis?

kami mendatangi tempat itu, dan punya kesan seperti itu, setelah malam sebelumnya mengunjungi masjid agung DEMAK. yang tidak jauh beda, dan inilah yang mengawali pertanyaan serupa di hari-hari berikutnya: mengapa institusi agama tidak mendorong orang untuk menghormati kerja tapi lebih suka membiarkan para pengemis mengiba-iba?

tempat ziarah, tempat ibadah, telah menjadi semacam outlet bagi para pekerja yang merasa bahwa kesuksesan kerjanya adalah karena dorongan barokah dari tempat ziarah ini. ada timbunan uang yang tiba-tiba datang yang kemudian ditampung oleh para pengemis tadi. pekerja sukses itu melakukan kemuliaan agamawi dengan beramal, si pengemis mempertahankan kemiskinan dan kemalasannya yang tidak produktif itu dengan menjadi penadah-penadah amal mereka.

kejadian seratus tahun sebelumnya juga terjadi di eropa.
gereja dan tempat ziarah, adalah institusi pengemis. sebelum mereka disadarkan oleh nabi modernitas KARL MARX agar manusia memuliakan dirinya dengan menghormati KERJA.

kaosan di plaosan

saya datang dengan busana kaosan, ke “candi” plaosan.
cuaca sedang panas dan gerah.

di hamparan sawah luas tanpa pepohonan perindang,
itulah keadaan tempat tinggal para bhiku/bhikuni masa kini, yang oleh orang disebut sebagai candi plaosan.

tempat tinggal para bhiku ini nampak mewah, untuk mereka yang sudah berjanji untuk hidup miskin sepanjang hidupnya. mungkin ini adalah tempat tinggal persembahan penguasa yang menghormatinya. ada yang menyebutkan bahwa kompleks hunian untuk para bhiku ini dibangun oleh pramodhawardani, permaisuri rakai pikatan. sang permaisuri yang terhitung dari keluarga syailendra ini memang buddhis. sementara sang suami yang berasal dari keluarga sanjaya, adalah penganut hindu. suatu paduan yang mengherankan bagi orang masa kini sehingga sering dikutip-kutip.

bangunannya sendiri juga demikian, susah dibedakan dengan bangunan yang dibuat oleh penguasa beragama hindu yang banyak tersebat di sekitar prambanan ini. jadi, kayaknya klasifikasi bangunan atas perbedaan agama pembangunnya itu gak banyak menerangkan mengenai seluk beluk bangunannya sendiri.

tempat tinggal para bhiku di sini ada dua.
masing-masing berlantai dua, dengan disain struktur yang kurang-lebih sama: dimensi, morfologi, bahan, teknik, komposisi ruang…. rasanya semuanya sama. keduanya juga berdiri di atas halaman berpagar tinggi dengan gerbang butulan yang menghubungkan kedua halaman ini. kedua halaman juga memiliki akses sendiri-sendiri dari arah barat, yang berpenjaga dua pasang dwarapala.

di luar kedua halaman utama ini adalah berderet-deret bangunan-bangunan kecil dengan satu pintu dan deretan stupa-stupa batu yang ukurannya kurang-lebih sama dengan bangunan-bangunan kecil tadi. apakah itu bangunan untuk meditasi/menyepi dari masing-masing bhiku? entahlah. tapi deretan bangunan sebanyak 58 buah ditambah 116 stupa ini diatur tertib dengan memberikan ruang sirkulasi di sela-selanya. ruang sirkulasi yang diperuntukkan bagi prosesi atau pergerakan para bhiku yang menjalankan aktivitas rutin hariannya di sini.

jadi, secara umum, bangunan di plaosan ini mirip seperti di rara jonggrang dan candi sewu yang “mengeksplorasi unit-unit tipikal secara moduler”, di luar bangunan utamanya. bangunan-bangunan tipikal bermodul sama ini bisa ditambah jumlahnya dengan bentuk, ukuran, bahan dan teknik yang sama. rupanya, orang membangun di masa itu adalah dengan cara meniru dari pendahulunya. bangunan-bangunan pinggiran ini bisa didirikan oleh orang yang berbeda, di jaman yang berbeda pula sebab tinggal mengulang modul yang sudah ada sebelumnya dengan hasil akhir yang sama.

tindakan mengopi seperti itu mengandaikan mereka memiliki alat-alat ukur yang akurat. paling tidak, mereka sudah menguasai alat jangka, untuk mengatur skala, dan membuat garis siku. peralatan canggih lain yang harus ada adalah peralatan untuk membuat batu-batu lengkung bagi stupa-stupa. saya belum tahu dengan cara bagaimana orang waktu itu memahat batu dengan bentuk lengkung secara konsisten.

sesuatu yang luar biasa bagi saya, pengalaman dolan ke plaosan kali ini!