latest publications

midadareni

MC acara malam itu mengucapkan midadareni sebagai sebuah kata.

konon, dia menerangkan, kata itu ada hubungannya dengan widadari [yang dia ucapkan sebagai midadari] yang turun dan merasuk ke dalam diri temanten putri. widadari atau midadari adalah makhluk surgawi yang melayani para dewa di swargaloka yang -katanya cerita- cantik jelita semua. acara malam menjelang pernikahan rekan saya malam itu mengumpulkan kerabat dekat yang berjaga-jaga hingga tengah malam karena esok harinya pagi-pagi benar, temanten putri akan dirias bagi pernikahan siangnya.

pengucapan midadareni sebagai sebuah kata memungkinkan kita terpeleset sehingga tidak menangkap gagasan yang terkandung di dalamnya. midadareni itu seharusnya ditulis midada reni. atau bila ditulis dalam aksara jawa adalah hamidada reni. (ha) midada adalah tindakan membikin widada, yakni membikin agar berada dalam keadaan selamat tanpa cacat. dengan kata lain hamidada adalah tindakan ‘nylameti’, mengharap dan mengusahakan keselamatan. sedangkan reni adalah sinonim bagi seorang putri, lady, gadis, atau anak perempuan. hamidada reni dengan demikian adalah usaha-usaha atau upaya untuk membuat seorang gadis (dalam hal ini temanten putri) agar selamat, tidak cacat, hingga pernikahannya.

tradisi nylameti temanten putri merupakan tradisi yang lahir dari masyarakat agraris yang menempatkan perempuan sebagai penjamin kelangsungan keturunan. lelaki yang memberi benih, perempuan yang menjaga, merawat dan membesarkan. perempuan punya peran kultural di sini, oleh sebab itu perempuan jelang menikah harus berada dalam keadaan selamat tanpa cacat. tugas keluarganyalah yang menjagainya hingga ia berpindah ke rumah pria yang menikahinya.

gagasan untuk menjagai perempuan hingga detik-detik terakhir jelang dinikahi ini memperlihatkan penghargaan masyarakat akan kelangsungan generasi agar generasi penerus itu berada dalam rawatan ibu yang selamat, sehat, tanpa cacat. dengan demikian, maka tindakan nylameti atau amidada temanten putri ini perlu dilakukan dan perlu diterangkan makna di balik istilah yang digunakannya. di dalamnya ada doa, harapan, dan usaha keluarga agar keluarga baru nanti meneruskan generasi yang baik juga.

amidada reni, pada hemat saya, perlu dimaknai dari arah ini. bukan atau jangan dihubungkan dengan gagasan tentang kecantikan widadari. cantik atau tidak cantik, seorang reni harus diwidada, harus dijaga keselamatannya agar dia meneruskan anak dan merawatnya hingga dewasa.

malam itu, meski berbeda pendapat dengan penjelasan MC, saya mengharap semoga keturunan yang terlahir dari keluarga baru itu juga sehat dan paham akan harapan orang tua dan keluarganya.

abstraksi dan pengalaman

saya sadari, selama ini rupanya saya belajar arsitektur dari abstraksi. kita perlakukan arsitektur sebagai komposisi dari konsep-konsep abstrak seperti: titik, garis, bidang, volume. dengan mengabaikan bahan yang akan berperan sebagai titik, garis, bidang dan volume itu, maka dilakukanlah transformasi padanya: ditambah, dikrowok, ditempel, ditopang, digantung, dipuntir, ditekuk dan berbagai operasi transformatif lainnya.

kita diminta untuk menyebut dinding sebagai bidang tegak, lantai sebagai bidang horizontal bawah, langit-langit [dan kadang-kadang atap] sebagai bidang horizontal atas, kaca sebagai bidang transparan, pintu dan jendela disebut sebagai bukaan

begitulah, maka kegiatan di studio adalah kegiatan yang mengolah konsep-konsep abstrak tadi menjadi suatu komposisi abstrak pula, suatu abstraksi mengenai arsitektur yang tersusun atas elemen-elemennya. bila pun arsitektur abstrak ini hendak diletakkan di suatu situs yang real, maka situs tadi harus juga diabstraksikan, diubah menjadi suatu benda abstrak yang terbangun dari komposisi titik, garis, bidang atau volume.

karena komposisi ini adalah abstraksi, maka ia bisa divisualisasi dengan bahan dan media yang bermacam-macam: model grafis CAD, maket dari karton maupun plastik, gips, dsb. maket-maket tersebut memodelkan pohon, tanah, genting, kaca, teraso, beton, kayu dengan bahan yang sama. tidak hadir di sana kualitas atau karakteristik masing-masing bahan. demikian pula dengan model CAD, maka arsitektur yang dilahirkan seolah mengapung tanpa berat, tanpa tarikan gravitasi, bisa diputar kesana-kemari dengan ringannya.

beda halnya dengan cara memandang arsitektur yang berangkat dari pengalaman. pengalaman tubuh dengan segenap inderanya dalam berinteraksi dengan pasir, tanah, bata, batu, bambu, kayu, plastik, besi, kaca yang memiliki segenap sifat-sifatnya: berat, ringan, porous, getas, lentur, mengilap, kusam, kasar, licin…

bila kita melihat bangunan atau arsitektur sebagai realitas yang tersusun atas bahan-bahannya, maka kita akan tahu bahwa itu semua punya bobot, punya kualitas permukaan, kelenturan, porositas yang berbeda-beda dari bahan satu dengan yang lain.  kita tidak bisa memaksa bambu dibuat bidang datar sedatar beton pracetak. sulit pula membuat sambungan bambu sebersih sambungan las pada besi baja. sebenarnyalah, bahan-bahan itu sudah punya sifat yang justru harus ‘diajak bekerja sama’ katimbang ditundukkan untuk menuruti kemauan arsiteknya.

belajar arsitektur bisa menempuh kedua hal itu sekaligus. untuk itu nantikan posting berikut…

membangun(kan) polisi tidur

penghuni perumahan kami banyak yang anggota POLRI. sekitar 6 orang dari 50-an rumah. dari yang berpangkat rendah hingga yang tinggi.

lain dari itu, perumahan kami pun banyak polisi tidur. demikian kami menamai gundukan semen yang melintang di jalan untuk mencegah orang ngebut di jalanan perumahan itu. ada yang menggunduk sekali, ada yang dua kali dan ada pula yang dirupakan sebagai peninggian jalan.
berhubung jalanan di perumahan kami ini miring ke arah timur, maka gundukan-gudukan ini juga berfungsi untuk mencegah air hujan menggelontor ke timur. seringkali, rumah-rumah di bagian timur perumahan kami ini kebanjiran, mendapatkan limpahan air hujan dari jalan arah barat.

mencegah orang ngebut dengan membangun polisi tidur, menyusahkan banyak pihak. bukan hanya para pengebut. orang biasa yang bukan pengebut pun dipaksa untuk berjalan dengan terantuk-antuk sehingga amat menyiksa dan menjengkelkan sekali. hukuman untuk satu orang ternyata mengenai semua orang.

polisi adalah institusi yang muncul dari kehidupan kota (polis) yang berperan menjaga agar warga kota bisa saling tenggang rasa, menghormati kebutuhan dan kewajiban masing-masing. suatu gambaran yang diturunkan dari kehidupan mengkota (urban) di gerika kuna. polisi bertindak menjagai agar tatanan yang mengatur masyarakat kota tadi dilakukan dengan konsekuen. mereka tidak bertindak demi kekuasaan yang ada dalam dirinya, mereka adalah abdi negara atau kota.

mengatur kesantunan berlalu-lintas di perumahan harusnya ditanamkan sejak dari rumah tangga. nilai-nilai sopan santun berada di tempat publik harusnya dibina sejak di rumah-rumah dan sekolah.
dengan membangun polisi tidur, maka seolah-olah semua pelalu-lintas adalah orang yang tidak mengerti sopan santun di ruang publik. semua pelintas jalan terkena ketidaknyamanan berjalan. semua seperti dihukum, ditempeleng, bila lewat di jalan berpolisi tidur.

membangun polisi tidur di jalanan merupakan tindakan tidak senonoh karena ikut menghukum orang yang tidak bersalah sekali pun. karena itu, saya menyambut gembira ketika pak RT perumahan kami (yang kebetulan juga adalah anggota POLRI) berencana membongkar semua polisi tidur di perumahan kami. lebih lanjut, beliau juga memelopori pembangunan sumuran-sumuran peresap di beberapa titik jalanan perumahan sebagai pengganti polisi tidur.

pak polisi yang satu ini tidak tidur sehingga tidak perlu dibangunkan!

riwayat kakus

The Toilet Papers: Recycling Waste and Conserving WaterThe Toilet Papers: Recycling Waste and Conserving Water by Sim Van Der Ryn

yang menjadi pokok perhatian saya adalah bab pertama: notes on the history of easing thyself.  sementara, bab-bab lain melanjutkan pembahasan mengenai bagaimana buangan ini harus dikelola dalam hubungannya dengan ekologi perkotaan dan permukiman modern.

ada beberapa kisah yang disajikan di bab pertama untuk meletakkan persoalan penanganan ‘buangan’ dalam lingkungan hunian. penanganan kebutuhan biologis satu ini jelas tidak melulu alami. tiap lingkungan atau unit kultural atau masyarakat merumuskan bagaimana cara membuang kotoran badan, apa yang baik dan apa yang buruk. sehingga ini merupakan produk kultural dan tidak mengherankan bila ikut masuk juga ke dalam norma-norma suci dan direkam dalam kitab sucinya.

penulis menganggap ada perbedaan tajam antara tradisi barat dan timur dalam melakukan pembuangan kotoran badan ini. jepang dan cina dijadikan representasi timur sedangkan eropa pada umumnya jadi wakil barat. di timur, sudah ada kebiasaan membuang kotoran untuk kepentingan pupuk pertanian, sedangkan di barat baru pada pertengahan abad XIX muncul shower dan kakus [dari kata kakken yang artinya buang air besar dalam bahasa belanda]. sebelumnya, kotoran dibuang di jalan atau ditimbun di suatu tempat [17-19:].

orang inggris adalah yang pertama menggabungkan buangan cair dengan buangan padat. mereka pula yang menemukan toilet duduk, suatu kebiasaan yang sebenarnya kurang baik secara fisiologis, karena tidak alamiah dan justru menyebabkan konstipasi.

paparan singkat dalam bab pertama [dan buku ini secara keseluruhan memang tipis] ini buat saya memberi gambaran perkembangan disain toilet dan konsekuensinya pada rumah tinggal. kegiatan biologis ini ternyata baru terpikir baru-baru saja sebagai kasus disain rumah dan permukiman kota. berabad-abad lamanya kegiatan ini berlangsung ‘alamiah’ begitu saja… :-)

anti antri

baru setelah melihat dengan berjarak, saya menyadari bahwa banyak dari kita tidak menganggap penting antri. setelah beberapa waktu hidup di antara orang yang menganggap penting antri, saya melihat ada benarnya bila kita juga menghargai hal yang sama.
antri -seharusnya ditulis antre- memang konsep asing. kita tidak memiliki gagasan ini sehingga istilah antri pun harus dipungut dari luar. ada yang mengatakan kata ini diserap dari bahasa belanda aantreden yang artinya berbaris berdiri berderet-deret memanjang menunggu untuk mendapat giliran. suatu konsep yang mengandaikan pelayanan satu demi satu menurut siapa yang paling dahulu datang. pelayanan yang sedemikian ini memiliki anggapan bahwa tiap orang itu sama berharganya sehingga setiap orang perlu mendapatkan pelayanan yang sama pula.
penghargaan terhadap orang lain sebagai individu yang setara dengan saya sendiri konon masih menunggu diperkenalkan oleh orang lain. sebelum itu, hubungan antar individu adalah tindas-menindas pada yang lemah, layaknya persaingan di hutan yang berhukum rimba.

kesediaan untuk mau mengantre itu merupakan mentalitas yang dipelajari, bukan bawaan lahir. hasil suatu kegiatan kultural, bukan yang kita miliki secara natural.

bila hari ini saya melihat orang berdesak-desak untuk berada di urutan terdepan di perempatan jalan, saya kira memang bangsa kita ini kurang ajar, kurang belajar, dan tidak punya penghargaan pada sesama sebagai yang setara dengan dirinya.

terlebih bila ia menganut ajaran bahwa tidak ada kebenaran di luar ajarannya…wah… payah!  atas nama kebenaran ajarannya, ia akan bersemangat menista sesamanya. orang seperti ini akan susah diajar mengantri!