kontestasi di masa transisi

Keselarasan dan Kejanggalan: Pemikiran-pemikiran Priayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX

 

 

 

Keselarasan dan Kejanggalan: Pemikiran-pemikiran Priayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX
by Savitri Prastiti Scherer
My rating: 5 of 5 stars

buku ini membahas pemikiran-pemikiran kebangsaan dari para priyayi jawa di awal abad ke-20.
mengapa priyayi jawa?
karena merekalah yang pertama-tama bersentuhan dengan ide tentang kebangsaan [nasionalisme] dibandingkan bagian masyarakat jawa yang lain. pada diri merekalah -yang merupakan kelompok elite pribumi- berlangsung kontak-kontak antara ide-ide modern seperti ide kebangsaan tadi dengan warisan tradisi yang mereka hidupi.
memang di awal abad ke-20 itu banyak bermunculan ide-ide para elite pribumi yang disampaikan ke publik, baik melalui media cetak yang sedang booming, maupun melalui berbagai rapat-rapat atau pertemuan (vergadeeringen).
tidak heran bila kemudian terbangunlah suatu masa yang sering disebut sebagai ‘masa transisi‘.
tapi masa transisi ini bukanlah masa yang stabil dan sudah jelas sosoknya. sebaliknya di dalam masa transisi ini berlangsunglah dinamika debat, eyel-eyelan, bantah membantah di kalangan mereka.
dalam bingkai waktu dan suasana jaman seperti itulah buku ini menempatkan 3 orang priyayi jawa dalam perbincangan: suwardi suryaningrat, cipto mangunkusumo, soetomo.
ada yang menarik,
sebagai pembuka, buku ini mengangkat gamelan sebagai metafora atau kiasan.
gamelan itu merupakan orkestrasi dari berbagai instrumen musik yang begitu beragam perbedaannya. namun demikian ada peran-peran yang bisa dibedakan di dalam harmoninya, misalnya antara antara peran instrumen pamurba dan pamangku. 
metafora ini sungguh jitu, representatif, untuk membantu pembaca dalam memahami perbedaan ide dalam pertarungan para priyayi dalam menyikapi ide kebangsaan waktu itu.
karena memang begitulah dinamika terjadinya suatu institusi [dalam hal ini negara bangsa] yakni terjadi dan mengikat warganya melalui dinamika kontestasi ide pada awalnya.

bagi saya, buku ini luar biasa keren!
ape loe…
ape loe…
ape loe…

View all my reviews

the dig

setelah menyelesaikan nonton film ini, saya lalu donlod ebooknya. ini memang suatu film yang didasarkan pada buku, tulisan john preston. saya menikmati dua media yang berbeda caranya hadir di depan pemirsa/ pembaca.

di buku, kisah penemuan artifak kuna di sutton hoo ini disajikan sebagai catatan harian dari masing-masing karakternya.
misalnya, bab-bab buku itu disusun seperti ini:
– edith pretty: april-may 1939
– basil brown: may-june 1939
-dst.
sedangkan di film, suatu tontonan yang dalam rentang waktu sekitar 1-2 jam harus selesai, kisah kesemua karakter itu dirangkai dalam suatu urutan yang jalin menjalin. dan dalam hal ini film sudah memerankan perannya dengan baik. kita bisa mengikuti keseluruhan pergulatan karakter secara utuh.

pergulatan apa, emangnya?
memang “the dig” ini adalah kisah penemuan sebuah artifak kuna, yang menurut tulisan di wikipedia, salah satu yang terbesar di antero eropa. tapi, kayaknya bukan itu fokus film maupun bukunya.
peristiwa penemuan artifak oleh basil brown -arkeolog yang meski telah menerbitkan buku populer ttg arkeologi namun gelar akademiknya gak tinggi- yang kemudian dilupakan oleh museum british, ini berlangsung dalam waktu ketika inggris hendak terlibat dalam perang dunia kedua.

basil brown juga mengerjakan penugasan penggalian ini dari seorang janda [edith pretty] beranak satu yang penyakitan di dadanya: heartburn, kata si anak tentang sakit ibunya.
bagi edith pretty, ada bayang-bayang kematian yang bergulat di luar sana, maupun di dalam dadanya.

sementara,
basil brown tidak peduli dengan keadaan luar, ia terus menggali gundukan tanah di halaman pekarangan edith pretty. pernah sekali ia hampir mati karena kurugan [tertimbun] tanah galiannya sendiri. tapi untung ia ditolong dan merasa dihidupkan kembali oleh edith pretty, tuannya dalam penggalian arkeologi ini.

ia bersemangat menggali sesuatu yang menurut firasatnya bakal berarti. ia menggali kemungkinan untuk menghidupkan kembali peninggalan masa lalu yang dilupakan orang. bahkan menurut arkeolog yang lebih tinggi pendidikannya, tidak mungkin temuan basil brown ini lebih tua dari abad ke 8.

nyatanya lain,
yang ditemukan oleh basil brown itu adalah artifak yang lebih kuna dari itu. artinya, ini suatu temuan yang mengubah narasi sejarah dominan waktu itu. suatu temuan yang bersejarah.

namun,
karena status brown dinilai kurang kualifikasinya, ia dibolehkan menggali namun sebatas sebagai penggali, bukan penemu. ia terus menggali, namun namanya tidak akan disebut sebagai penemu.

tapi tidak demikian bagi edith pretty dan robert anak lakinya. brown adalah penemu, pemberi hidup baru, pemberi semangat bagi keluarga janda itu. dalam suatu kesempatan, di pesta kebun yang dihadiri para wartawan, edith pretty menyebut jelas bahwa artifak ini temuan brown.

brown tersenyum bahagia mendengarnya.
[bagi saya, komunikasi gestur, ekspresi wajah dari para pemain dalam film ini keren: subtil.]

penemuan ini menggemparkan. dan ketika hasil temuan ini diamankan di british museum, nama brown tidak dicatat. ia dilupakan. ia hanya diingat oleh orang-orang dekat seperti edith pretty, roberts, may istri brown dan kerabat pretty yang [untungnya] memotreti semua proses penemuan artifak ini.
beberapa tahun kemudian, setelah semua karakter wafat, nama brown dihidupkan lagi. ditemukan dari dokumen-dokumen personal keluarga pretty.

jadi,
ini kisah tentang apa?
apa yang bisa digali dari “the dig” ini?
bisa macem-macem.

tapi bgi saya, ini adalah kisah tentang penggalian harapan, penemuan harapan, ketika kematian mengancam.
baik di luar
maupun di dalam.

kota malang menurut kroniknya stadsgemeente

Barusan pulang dari membuka Pameran Reproduksi Foto Malang 1939 di Bentara Budya, Yogyakarta. Sebelum sampai, sempat membaca berita meninggalnya Prof. Djoko Soekiman, pelopor studi tentang Kebudayaan Indisch.

Membicarakan Kebudayaan Indisch jadi relevan dengan pameran foto yang saya buka: yakni dengan kota yang dirancang oleh Karsten. Tokoh yang menyadari keberadaan masyarakat Indisch, dan yang menjadi inspirasi untuk perancangan kota untuk mereka. Malang adalah satlah satu kota itu.



Pada masa kini, banyak kota di negara-negara bekas jajahan menyaksikan penghacuran bangunan-bangunan lama. Umumnya adalah bangunan-bangunan yang dulu dibuat untuk kehidupan masa penjajahan.

Kita tadi menyebutnya bangunan-bangunan lama, padahal, bangunan-banguna yang dibuat pada abad XX itu oleh para sejarawan arsitektur digolongkan sebagai bangunan modern. Itu adalah masa ketika modernisasi mencapai kematangannya dalam menghadirkan ruang hidup dan gaya hidup kekotaan atau urban yang baru, tidak ada preseden sebelumnya.

Penghancuran bangunan kota salah satunya karena kita tidak punya dokumentasi mengenai nilai bangunan itu di masa lalu itu. Selain, tentu saja, karena absennya kemauan politis untuk merawat bangunan lama untuk kepentingan baru.

Keterputusan gambaran visual serta pemahaman kebanyakan orang mengenai kota sebagai ruang hidup yang telah ada dari masa lalu membuat perkembangannya jadi compang-camping, tidak kunjung ada integrasi yang makin melengkapi mozaik pengembangan kota. Keping-keping mozaiknya berserakan terus… dan terus menjalankan ritus penghancuran demi pemuasan pada yang baru.

Foto-foto yang dipamerkan ini berasal dari buku kronik dari dewan kota malang, yang mengambil rentang waktu sekitar 25 tahun. Stadsgemeente Malang ditetapkan menurut Staatsblad van Nederlandsch-Indie pada bulan Maret tahun 1914. Saya tidak tahu, apakah ada penerbitan serupa untuk rentang waktu sesudah 1939, mungkin tidak karena Jepang segera datang. Namun Dewan Kota ini pernah sebelumnya menerbitkan publikasi mengenai kota Malang dalam rentang waktu 1914-1934, yang terbit pada 1935. Tidak banyak foto di sana, tapi ada penjelasan mengenai rencana-rencana pembangunan kota dalam beberapa tahapanya.

Bicara mengenai publikasi perkembangan kota, saya masih kurang tahu pasti mengapa, pada awal abad XX itu orang rajin sekali membuat catatan mengenai kehidupan kota dan memublikasikannya. Tidak hanya tentang bangunan, namun juga keadaan demografi penduduk, komposisi pribumi dan orang eropa, tingkat pendidikan, fasilitas kehidupan kota modern, kesehatan, keamanan, transportasi, jaringan air bersih, pemadam kebakaran, pernataan pasar, jaringan selokan pembuangan, dsb. Ditambah, di tiap ada serah jabatan residen juga ada penerbitan mengenai kota dan penduduknya.

Bisa jadi, pada peralihan abad XIX-XX memang ada semacam booming publikasi. Baik tulisan maupun foto dan peta. Di akhir abad XIX sja sudah ada majalah profesi ahli bangunan [Indisch Bouwkundig Tijdschrift] yang sudah menyajikan foto-foto pembangunan bendungan di sungai Brantas serta peta-peta jalur irigasi dan pembangunan pelabuhan-pelabuhan di pesisir Utara Jawa.

Setahu saya, dewan-dewan kota besar lain juga melakukan yang sama, kita bisa melihat kronik serupa yang dikeluarkan oleh dewan kota batavia, bandung, semarang dan surabaya. Laporan yang disajikan umumnya mewah, tebal dan penuh gambar, peta, tabel, grafik yang mengesankan. Tidak heran bila banyak tulisan sejrah di masa kemudian mengandalkan catatan-catatan yang dibuat oleh mereka ini. Tentu dari kaca mata mereka juga.

Foto-foto yang dipamerkan ini hanyalah bagian dari publikasi laporan itu, dibidik dan disajikan menurut perspektfi penguasa kota pada masanya. Yakni ingin memperlihatkan kemajuan atau perbaikan yang mengarah ke pembangunan kota modern.

Ada yang menarik, sebagai bagian dari laporan kemajuan, foto-foto mengenai bangunan dalam kronik ini disajikan dengan teknik membandingkan: dulu dan sekarang. Suatu teknik untuk memperlihatkan apa yang berubah, seberapa cepat perubahan, bagaimana perubahan dilakukan, serta bagaimana evaluasi atas perubahan itu. Pada masa itu, fotografi telah dimanfaatkan sebagai alat untuk mengambil keputusan perencanaan kota serta alat untuk evaluasi perkembangan kota. Pemerintah kota giat memotret perubahan atau perbaikan fasilitas kotanya dan memublikasikannya ke warga.

Dari sisi itu kita bisa belajar dari pameran ini.

Kita pada masa kini telah dimanjakan dalam urusan produksi dan persebaran informasi. Media sosial secara cepat dan langsung dari tangan pertama menyajikan fakta-fakta di lapangan. Berbagai alat dokumentasi juga berkembang pesat, baik untuk membuat peta, membuat foto… bahkan ada drone segala… Demikian pula media persebaran informasi lewat blog, facebook, instagram, twitter dan grup-grup WA disebar banyak sekali informasi dari tangan pertama, yakni warga sendiri, megnenai perkembangan kota-kota kita.

Sayangnya, informasi yang berlimpah itu tidak kita kelola, seperti kronik yang dipamerkan kali ini, untuk menjadi alat kontrol pembangunan kota. Semoga pameran ini menyadarkan kita semua, baik yang di Balailkota maupun kita semua sebagai warga kota, untuk membangun komunikasi yang konstruktif mengenai kota yang kita sayangi ini.


liputan tentang acara ini bisa diikuti di:
satuharapan dot com

meluap ke jalanan kota

ini hari terakhir puasa.

biasanya jalanan macet, tapi hari ini sepi…
seperti hari-hari biasa.

mungkin masih menahan diri.

tapi takbiran nanti malam biasanya ramai oleh pawai…
kegembiraan orang meluap ke jalan-jalan.

tak tertahankan lagi
mungkin bakal memacetkan jalanan kota

daleman di luar

di musim kemarau ini, banyak tetangga yang menjemur daleman di jalan depan rumahnya.maklum, disain rumah-rumah mereka memang tidak memberi tempat untuk menjemur pakaian di dalam halaman sendiri. sempit dan dihabiskan untuk rumah.
saya tidak secara detil memperhatikan daleman tetangga itu, meski pun itu mereka gelar sendiri di ruang publik.
tapi, barangkali memang masyarakat kita punya tenggang rasa yang spektrumnya lebar.
hal-hal yang di buku-buku [termasuk buku-buku suci dari luar itu] dianggap tabu, di tempat kita ini bisa dimengerti. lha memang kahananok…
bukan pula hendak berlaku hebat -kayak superman, misalnya, yang pakek celana dalemnya di luar- kami biasa saja dalam menjalin harmoni dengan kondisi lingkungan.
iya,
kahanan, keadaan, atau: kondisi riil yang mengharuskan kami memilih menjalin harmoni dengan alam. itu murah dan aman. itu pula yang diajarkan dan dipelajar dari tradisi.
kami tidak menyimpan hal-hal privat di ruang kecil atau ruang khusus.
tapi di sini: di hati!

1 2 3 181