ketegangan di perbatasan

mempertahankan imperium

pilihan penulis untuk membahas tjarda -sebagai GG terakhir dalam periode kolonisasi Belanda di Hindia- saya nilai jitu.
ini pilihan yang pantas karena buku ini hendak memperlihatkan kekuatan-kekuatan non-personal yang bekerja pada jabatan GG serta nasib tanah koloni yang dalam kekuasaan dia. selama ini, penulisan sejarah terlalu memberi peran besar pada ‘individu hebat’ dan mengesampingkan kekuatan non-personal [misalnya: kondisi ekonomi, politik, sosial dsb.] di masanya. tjarda sebagai agen pemegang jabatan GG berada dalam resultante kekuatan-kekuatan itu.

tentang tjarda sendiri, dia adalah politisi yang sangat dihormati oleh banyak pihak. bahkan juga oleh lawan-lawan politiknya. sjahrir menyanjungnya sebagai lebih manusiawi dibanding pendahulunya.
tjarda sesungguhnya merupakan figur yang memainkan peran besar pada keruntuhan Hindia Belanda dan secara tidak langsung pada kelahiran negara Indonesia.

penelitian yang mendahului buku ini menyajikan penjelasan mengenai masa pemerintahan gubernur jenderal terakhir Hindia Belanda tersebut. masa pemerintahan tjarda menyimpan episode-episode penting mengenai pemantik motivasi kemerdekaan indonesia.

melalui sejarah tokoh yang menjabat peran publik inilah sejarah mengungkap atmosfer jaman ketika sang tokoh menjalankan tugas jabatannya. memperlihatkan kekuatan-kekuatan mana saja yang harus dikelola oleh seorang penjabat GG.
 

dialog dalam buku

buku kumpulan tulisan ini tersusun dari tulisan-tulisan orang yang terpilih oleh para editornya.
dengan editor dua orang, masing-masing punya preferensi siapa yang akan diundang dalam “ajang dialog” berupa buku ini. ada satu penulis yang sebenarnya diundang tapi batal untuk ikut serta. dia dipilih karena tulisannya yang amat berpengaruh, “the netherlands-indies”. beliau adalah J.S. Furnivall furnivall, yang sebelum memenuhi tugasnya dalam buku ini wafat terlebih dulu.
saya sebut buku ini seperti ‘ajang dialog’ karena memang di dalamnya berlangsung berbagai pendapat yang tidak selalu selaras satu sama lain.
seperti kita ketahui, di sekitar proklamasi kemerdekaan berlangsung silang pendapat di kalangan para ilmuwan belanda sendiri. ada yang setuju indonesia melepaskan diri dari kesatuan dengan kerajaan balanda, namun banyak pula yang tidak setuju dengan ide itu.
dengan sengaja kumpulan tulisan ini tidak menyertakan pemikiran dari kalangan indonesia sendiri. baudet editornya menjelaskan hal itu, agar dialog atau kontestasi ide tetap konsisten berada dalam kalangan mereka.
ada beberapa arah tinjauan terhadap situasi abu-abu itu: pendidikan, ketatanegaraan, peradilan, perekonomian, peran zending dan missie, dan beberapa lagi.
kedua editor sendiri menyumbang tulisan yang diletakkan di belakang.
saya kira,
strategi dalam menyusun buku sebagai ajang dialog dari pendapat-pendapat yang saling bersilangan ini cocok dengan topik yang dibahasnya, yang juga simpang-siur alias abu-abu.
dengan cara demikian maka pembaca sungguh dihargai, karena dibolehkan mengetahui bagaima suatu peristiwa historis itu tidak bisa hitam-putih, namun ada spektrum yang memperkaya kita dalam memandangnya.
ini buku lama, terbit dalam bahasa indonesia tahun 1987, sementara aslinya terbit 1961. tapi asyik dalam mengikuti berbagai pandangan yang dibiarkan terbuka pada kita.
mungkin yang agak tidak lancar adalah terjemahan yang bagi orang masa sekarang kurang luwes, kurang mengalir. tapi itu tidak terlalu mengganggu bagi saya.
saya lebih terfokus pada cara masing-masing penulis menempatkan dirinya.

stroom listrik dalam istana jawa

jejak listrik di tanah raja, 2021

judulnya bagus, dan editingnya pun bagus: bagaimana dua istana [karaton surakarta dan pura mangkunagaran] itu menyikapi datangnya teknologi modern via kolonisasi.
namun, separo lebih buku ini menyajikan fakta dari berbagai sumber mengenai kesibukan dua istana di surakarta dalam pemasangan jaringan listrik di kota tersebut, sehingga buku yang diniatkan untuk mengulas dampak sosial budaya listrik jadi kurang terakomodasi.
mengapa sudut pembahasan dampak sosial budaya dari listrik penting dibicarakan?
karena selain listrik menjadi andalan bagi pabrik-pabrik milik kedua istana, juga terang yang disinarkan dari lampu listrik itu bisa mengubah cara orang jawa menghayati ruang.
orang jawa tradisional [rasanya juga orang-orang nusantara lain] mengandalkan cahaya sebagai pembagi aktivitas: ada aktivitas siang dan ada aktivitsa malam. selain pembagi aktivitas, juga cahaya menjadi sarana pembagi ruang: bagian yang terang untuk aktivitas publik duniawi, sedangkan yang remang-reman adalah aktivitas privat dan spiritual. interior rumah orang jawa [dan rumah orang nusantara] tidak tersekat-sekat oleh dinding, tapi oleh intensitas cahaya dalam membagi kegiatan dalam ruang interior rumah.
apa jadinya bila ruang yang semula bergradasi itu sekarang jadi homogen sama terangnya di segenap sudut?
kota surakarta ketika mengenal listrik memang jadi bersih, jadi aman karena penjahat enggan ketahuan kegiatannya, dan membikin kedudukan kedua istana jadi makin moncer, cemerlang, bersinar kembali.
dari buku ini saya belajar mengenai bagaimana kedua istana tradisional itu mengadopsi teknologi modern yang justru makin memancarkan cahaya kekuasaan mereka. modernitas ditaklukkan di pusat kekuasaan jawa.

kontestasi di masa transisi

Keselarasan dan Kejanggalan: Pemikiran-pemikiran Priayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX

 

 

 

Keselarasan dan Kejanggalan: Pemikiran-pemikiran Priayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX
by Savitri Prastiti Scherer
My rating: 5 of 5 stars

buku ini membahas pemikiran-pemikiran kebangsaan dari para priyayi jawa di awal abad ke-20.
mengapa priyayi jawa?
karena merekalah yang pertama-tama bersentuhan dengan ide tentang kebangsaan [nasionalisme] dibandingkan bagian masyarakat jawa yang lain. pada diri merekalah -yang merupakan kelompok elite pribumi- berlangsung kontak-kontak antara ide-ide modern seperti ide kebangsaan tadi dengan warisan tradisi yang mereka hidupi.
memang di awal abad ke-20 itu banyak bermunculan ide-ide para elite pribumi yang disampaikan ke publik, baik melalui media cetak yang sedang booming, maupun melalui berbagai rapat-rapat atau pertemuan (vergadeeringen).
tidak heran bila kemudian terbangunlah suatu masa yang sering disebut sebagai ‘masa transisi‘.
tapi masa transisi ini bukanlah masa yang stabil dan sudah jelas sosoknya. sebaliknya di dalam masa transisi ini berlangsunglah dinamika debat, eyel-eyelan, bantah membantah di kalangan mereka.
dalam bingkai waktu dan suasana jaman seperti itulah buku ini menempatkan 3 orang priyayi jawa dalam perbincangan: suwardi suryaningrat, cipto mangunkusumo, soetomo.
ada yang menarik,
sebagai pembuka, buku ini mengangkat gamelan sebagai metafora atau kiasan.
gamelan itu merupakan orkestrasi dari berbagai instrumen musik yang begitu beragam perbedaannya. namun demikian ada peran-peran yang bisa dibedakan di dalam harmoninya, misalnya antara antara peran instrumen pamurba dan pamangku. 
metafora ini sungguh jitu, representatif, untuk membantu pembaca dalam memahami perbedaan ide dalam pertarungan para priyayi dalam menyikapi ide kebangsaan waktu itu.
karena memang begitulah dinamika terjadinya suatu institusi [dalam hal ini negara bangsa] yakni terjadi dan mengikat warganya melalui dinamika kontestasi ide pada awalnya.

bagi saya, buku ini luar biasa keren!
ape loe…
ape loe…
ape loe…

View all my reviews

the dig

setelah menyelesaikan nonton film ini, saya lalu donlod ebooknya. ini memang suatu film yang didasarkan pada buku, tulisan john preston. saya menikmati dua media yang berbeda caranya hadir di depan pemirsa/ pembaca.

di buku, kisah penemuan artifak kuna di sutton hoo ini disajikan sebagai catatan harian dari masing-masing karakternya.
misalnya, bab-bab buku itu disusun seperti ini:
– edith pretty: april-may 1939
– basil brown: may-june 1939
-dst.
sedangkan di film, suatu tontonan yang dalam rentang waktu sekitar 1-2 jam harus selesai, kisah kesemua karakter itu dirangkai dalam suatu urutan yang jalin menjalin. dan dalam hal ini film sudah memerankan perannya dengan baik. kita bisa mengikuti keseluruhan pergulatan karakter secara utuh.

pergulatan apa, emangnya?
memang “the dig” ini adalah kisah penemuan sebuah artifak kuna, yang menurut tulisan di wikipedia, salah satu yang terbesar di antero eropa. tapi, kayaknya bukan itu fokus film maupun bukunya.
peristiwa penemuan artifak oleh basil brown -arkeolog yang meski telah menerbitkan buku populer ttg arkeologi namun gelar akademiknya gak tinggi- yang kemudian dilupakan oleh museum british, ini berlangsung dalam waktu ketika inggris hendak terlibat dalam perang dunia kedua.

basil brown juga mengerjakan penugasan penggalian ini dari seorang janda [edith pretty] beranak satu yang penyakitan di dadanya: heartburn, kata si anak tentang sakit ibunya.
bagi edith pretty, ada bayang-bayang kematian yang bergulat di luar sana, maupun di dalam dadanya.

sementara,
basil brown tidak peduli dengan keadaan luar, ia terus menggali gundukan tanah di halaman pekarangan edith pretty. pernah sekali ia hampir mati karena kurugan [tertimbun] tanah galiannya sendiri. tapi untung ia ditolong dan merasa dihidupkan kembali oleh edith pretty, tuannya dalam penggalian arkeologi ini.

ia bersemangat menggali sesuatu yang menurut firasatnya bakal berarti. ia menggali kemungkinan untuk menghidupkan kembali peninggalan masa lalu yang dilupakan orang. bahkan menurut arkeolog yang lebih tinggi pendidikannya, tidak mungkin temuan basil brown ini lebih tua dari abad ke 8.

nyatanya lain,
yang ditemukan oleh basil brown itu adalah artifak yang lebih kuna dari itu. artinya, ini suatu temuan yang mengubah narasi sejarah dominan waktu itu. suatu temuan yang bersejarah.

namun,
karena status brown dinilai kurang kualifikasinya, ia dibolehkan menggali namun sebatas sebagai penggali, bukan penemu. ia terus menggali, namun namanya tidak akan disebut sebagai penemu.

tapi tidak demikian bagi edith pretty dan robert anak lakinya. brown adalah penemu, pemberi hidup baru, pemberi semangat bagi keluarga janda itu. dalam suatu kesempatan, di pesta kebun yang dihadiri para wartawan, edith pretty menyebut jelas bahwa artifak ini temuan brown.

brown tersenyum bahagia mendengarnya.
[bagi saya, komunikasi gestur, ekspresi wajah dari para pemain dalam film ini keren: subtil.]

penemuan ini menggemparkan. dan ketika hasil temuan ini diamankan di british museum, nama brown tidak dicatat. ia dilupakan. ia hanya diingat oleh orang-orang dekat seperti edith pretty, roberts, may istri brown dan kerabat pretty yang [untungnya] memotreti semua proses penemuan artifak ini.
beberapa tahun kemudian, setelah semua karakter wafat, nama brown dihidupkan lagi. ditemukan dari dokumen-dokumen personal keluarga pretty.

jadi,
ini kisah tentang apa?
apa yang bisa digali dari “the dig” ini?
bisa macem-macem.

tapi bgi saya, ini adalah kisah tentang penggalian harapan, penemuan harapan, ketika kematian mengancam.
baik di luar
maupun di dalam.

1 2 3 182