nina bobo
seneng saja lihat ada orang asing menyanyikan lagu tradisional indonesia ini.
mungkin begitu ya, kita baru menaruh penghargaan SETELAH orang asing memberikannya dulu.
seneng saja lihat ada orang asing menyanyikan lagu tradisional indonesia ini.
mungkin begitu ya, kita baru menaruh penghargaan SETELAH orang asing memberikannya dulu.
sudah lama saya terkesan dengan lagu indah karya GURUH SUKARNOPUTRO ini, tapi barusan mendapatkan liriknya.
chopin adalah musisi romantik dari polandia, lahir dari keluarga campuran prancis [ayah] dan polandia [ibu] [nama chopin diucapkan sebagai syopang].
ini adalah lagu keluhan mengenai rusaknya budaya bali oleh karena ketidaktahuan orang bali sendiri akan bahayanya pengaruh luar yang tidak diseleksi.
mungkin begitu maksudnya. silakan simak sendiri teks lirik dan lagunya.
CHOPIN LARUNG
Yen Chopin padem ring Bali (Jika Chopin meninggal di Bali)
kerarung saking Daksina (dihanyutkan dari Selatan)
Titiang mengenang Bali (Diriku mengenang Bali)
sunantara wong ngrusak – asik negara (sementara orang mengganggu negara/bumi)
Sang jukung kelapu – lapu (Perahu terombang-ambing)
santukan Baruna kroda (karena dewa laut murka)
Nanging Chopin nenten ngugu (Namun Chopin tiada memahami)
kadang ipun ngrusak seni – budaya (kadang bangsanya merusak seni budaya)
Risedeg sang jukung kampih (Ketika sang perahu terdampar)
ring Legian – Kayuaya (di Legian-Kayuaya)
‘te – lonte ring sisin pasih (pelacur di pinggir pantai)
anak lacur melalung ngadolin ganja (orang miskin telanjang menjual ganja)
Chopin ten uning ring Bali (Chopin tidak tahu mengenai Bali)
wong putih mondok ring Kuta (orang putih (bule) tinggal di Kuta)
Asing lenga lali ring Widi (Lupa pada Tuhan)
tan urungan jagi manemu sengkala (tak urung bakal menemui malapetaka)
Gending Chopin maring ati (Lagu Chopin di hati )
nabuhang wirama duka (melantunkan irama duka)
Duh nyama braya ring Bali (Duh, saudara-saudara di Bali)
dong sampunang banget nunaning prayatna (tolong jangan terlalu…..)
di tengah cibiran masyarakat pada polisi, juga di tengah kegemparan hendak disahkannya UU KEAMANAN NASIONAL yang melucuti peran polisi, saya justru menaruh hormat pada mereka.
tiga hari lalu saya terima SIM A dan C saya, setelah berkali-kali saya dinyatakan tidak lulus dalam ujian praktik mengendara motor dan mobil, di polres bantul. ada saja kesalahannya, yang bagi saya terlalu sepele:
hal yang sepele ini tanpa ampun lagi membikin saya dinyatakan tidak lulus. dengan perasaan jengkel, saya mulai menduga-duga bahwa ada “permainan” yang sedang dimainkan oleh para polisi ini untuk memeras saya, seperti tuduhan masyarakat dan media selama ini.
tapi tidak, sama sekali tidak.
pada akhirnya, saya dinyatakan lulus. tanpa membayar biaya tambahan sedikit pun.
yang mengesankan bagi saya adalah: kedua polisi di lapangan praktik itu tekun menjalankan tugasnya. tanpa pandang bulu mereka tegas menyatakan lulus atau tidak lulus. seperti mesin mereka menjelaskan kesalahan-kesalahan saya. mungkin ini juga sudah berulang kali dilakukan pada lain orang. saya jadi tambah banyak pengetahuan mengenai seluk-beluk berkendara, dari penjelasan mereka berkaitan dengan kesalahan-kesalahan saya.
pada hemat saya, hal bagus ini justru yang harus dilihat media-massa. bukan yang jelek-jeleknya.
kita perlu sekali polisi yang bertugas di antara warga negara [polis] bukan tentara yang sudah ada tugasnya sendiri mempertahankan kedaulatan negara.
para polisi lalu lintas ini punya prinsip dan aturan yang mereka hidupi. tapi aturan ini dilanggar justru oleh para mengguna kendaraan di jalan raya.
praktik berkendara di jalanan kita sungguh-sungguh biadab. seperti tidak kenal aturan saja semua!
mungkin mereka tidak pernah mengenal ujian praktik berkendara ketika mendapatkan SIM mereka.
fotografer yang sedang dipamerkan lagi karya-karyanya di BENTARA BUDAYA YOGYAKARTA, adalah seorang pribumi rendahan [terbukti dari nama baptis yang menggunakan nama yahudi :CEPHAS, bukan nama latinnya: PETRUS] dengan kamera di tangan bisa melihat isi tempat tinggal junjungannya.
kamera telah mengubah status sosialnya!
kamera membuat tembok2 tinggi kraton yang melindungi privacy itu serasa gak berarti, karena begitu foto dicetak dan diterbitkan di majalah atau di pameran, maka semua orang jadi tahu isi ruang yang terlindungi kokoh oleh benteng tebal itu, tanpa harus merubuhkannya.
[memamerkan ke publik suatu benda yang dilindungi privacy akan membuat juru kunci kehilangan arti. demikian pula karcis gak dibutuhkan lagi.]
Basilica: The Splendor and the Scandal: Building St. Peter’s by R.A. Scotti
My rating: 3 of 5 stars
buku ini mau mengisahkan pembangunan [kembali] basilika st.petrus setelah lembaga kepausan pindah ke roma dari avignon di abad ke-15. basilika pertama yang dibangun oleh kaisar konstatin dibangun ulang dan dipulihkan kemegahannya sebagaimana orang di abad ke-15 itu membayangkannya.
dari jaman ke jaman, basilika st. petrus ditafsir ulang dan secara akumulatif dibikin semakin megah. para arsitek di tiap jaman dalam menangani pembangunan ulang basilika ini selalu berhadapan dengan kontinuitas dan diskontinuitas: ada yang tetap dipertahankan tapi ada yang diperbaiki dan dibawa maju.
buku ini mencoba bercerita luar dalam.
segi-segi fisik basilikanya sendiri maupun peristiwa-peristiwa historik yang berlangsung di dalamnya. bagaimana pun, arsitektur bukan melulu wadah, namun juga “kulit luar” dari apa yang ada di dalamnya.
memang buku ini memberi informasi rinci seperti yang dibutuhkan oleh peneliti arsitektur, karena buku ini memilih untuk menyajikan basilika secara menyeluruh, lahir batin, segi fisik mau pun non-fisiknya.
enteng berisi deh…
delapan hari dalam cahaya.
jadilah terang.
kitalah terang itu.
demikianlah ide yang tertangkap dari peringatan orang yahudi pada pembangunan kembali BAIT ALLAH yang kedua. peringatan untuk menjadi terang ini bersamaan dengan peringatan natal, di bulan desember, berhubung asosiasi orang kristen yang memahami dirinya juga sebagai “terang” itu.
[tambahan rujukan di wikipedia]