daleman di luar

di musim kemarau ini, banyak tetangga yang menjemur daleman di jalan depan rumahnya.maklum, disain rumah-rumah mereka memang tidak memberi tempat untuk menjemur pakaian di dalam halaman sendiri. sempit dan dihabiskan untuk rumah.
saya tidak secara detil memperhatikan daleman tetangga itu, meski pun itu mereka gelar sendiri di ruang publik.
tapi, barangkali memang masyarakat kita punya tenggang rasa yang spektrumnya lebar.
hal-hal yang di buku-buku [termasuk buku-buku suci dari luar itu] dianggap tabu, di tempat kita ini bisa dimengerti. lha memang kahananok…
bukan pula hendak berlaku hebat -kayak superman, misalnya, yang pakek celana dalemnya di luar- kami biasa saja dalam menjalin harmoni dengan kondisi lingkungan.
iya,
kahanan, keadaan, atau: kondisi riil yang mengharuskan kami memilih menjalin harmoni dengan alam. itu murah dan aman. itu pula yang diajarkan dan dipelajar dari tradisi.
kami tidak menyimpan hal-hal privat di ruang kecil atau ruang khusus.
tapi di sini: di hati!

nyampah

semalam,
malioboro sudah nampak kumuh lagi oleh sampah. sama seperti hari-hari ketika kota ini penuh.
jadi,
agaknya perkara produksi sampah memang dekat dengan mentalitas kebanyakan orang, yang ingin membersihkan diri dengan membuang kotoran ke tempat lain, membersihkan interior mobil dengan membuang tissue dan kulit buah ke luar jalan, menyapu halaman dan membuangnya ke halaman orang.
mungkin juga dekat dengan kehendak menyucikan diri dengan menyebut orang lain kotor, najis, kafir, gedibal pitulikur.,.dan sejenisnya.

druhun tenanok!

mudik sebagai arus balik

menyeberang jalan wonosari semakin sulit hari-hari ini.
kepadatan semakin tinggi, jenis kendaraan yang lewat semakin beragam bentuk, ukuran dan kecepatan sehingga sebagai penduduk sana saya malah kerepotan bila hendak keluar dan masuk perumahan.

rupanya arus mudik sedang berlangsung. berangsur-angsur datang dari kota besar, dan seperti air sungai yang berbalik arah, arusnya merasuk ke cabang-cabang di hulu yang lebih kecil.

udik, atau tempat-tempat terpencil yang selama hari-hari biasa sepi ditinggal penghuni, sekarang berangsur memadat diisi kembali orang-orang yang pulang.

arus balik itu arus yang tidak normal.
yang normal adalah dari udik ke hilir. dari udik ke muara.
itulah arus dunia produksi.

tapi hari-hari ini arus itu berbalik: dari hilir mudik.
ini arusnya orang-orang yang sedang berefleksi.
kembali ke asal. mengukur perjalanan sudah sejauh mana ia mengalir.

perjalanan hidup memang aneh: hilir mudik, kerja-refleksi.

tangan dan kewenangan

foto diambil dari http://bit.ly/2rP26cP

seorang kawan [yudhi ahmad tahjudin] bertanya di status facebook dia, mengenai perubahan cara orang mencium tangan: mengapa sekarang tidak dikecup tapi disentuhkan pada pipi atau dahi?

saya tidak tahu jawabnya, tapi saya malah tertarik mengenai kebiasaan cium tangan itu sendiri.

cium tangan saya ketahui pertama-tama dari tradisi gereja. di situ, ketika orang mencium tangan, ia mencium cincin jabatan yang dikenakan oleh orang yang dicium. seorang uskup -misalnya- memiliki cincin jabatan sebagai gembala, demikian pula bapa paus di roma, mereka memilki jabatan khusus yang -katakanlah- menentukan hidup-mati umat. jabatan yang amat penting, sehingga menghormatinya adalah dengan mencium cincin jabatannya.

dalam terang pemahaman itu, tidak terlalu mengherankan bila juga dikenal kebiasaan mencium tangan guru, kyai, atau orang-orang yang dianggap lebih tinggi posisinya. mencium tangan adalah mencium atau menghormati jabatan, kewenangan bagi yang diciumnya. dengan atau tanpa cincin di tangan tadi.

sementara, kewenangan atau jabatan itu adalah prestasi, buah karya, buah dari ngasta, buah dari pekerjaan yang dilakukan sebelumnya. sehingga bisa dimengerti bila ketika kita mencium tangan, kita menghormati kerja, karya. usaha manusiwi untuk mengolah dunia yang kotor ini agar jadi tempat nyaman yang manusiawi.

mencium, tidak jauh dari pengertian mengendus, membaui dengan hidung. Namun, mencium juga berarti mengecup dengan bibir. namun pada masa kini, kita menjumpai tindakan mencium yang tidak menggunakan hidup maupun bibir. mencium tangan seorang guru, dulu dilakukan murid dengan menempelkan hidung atau bibir pada punggung tangan guru. sekarang punggung tangan guru itu ditempelkan pada kening atau pipi. lokasinya pindah, dari sekitar hidung dan bibir, lalu meluas ke kening atau pipi.

apa penyebanya?

saya tidak tahu. barangkali kesadaran baru akan higiene, ketika orang menyadari bahwa bekerja itu akrab dengan kekotoran, kekalutan, chaos, yang harus ditangani, ditata, diatur, ‘dibersihkan’ agar menjadi lebih baik.

bisa jadi.

1 2 3 181