diunggah oleh anto pada tanggal 09 Feb 2010
memecah dan melarutkan

dua hari ini saya menikmati suasana yang agak beda adari teman-teman PPI-TY. saya merasakan suasananya larut, tidak kaku atau sebaliknya dominatif: yang satu mendominasi yang lain.
suasana baru itu terbangun ketika makan malam merayakan salah satu teman yang berulang tahun dan yang mendapatkan pekerjaan baru di tokyo. evan, agaknya dialah teman termuda kami, mengajukan pertanyaan-pertanyaan pemecah kebekuan yang dikalimatkan -di telinga saya- seperti persoalan biasa tapi terasa ilmiah. seperti mudah tapi sebenarnya susah. butuh membayangkan persoalannya, agar bisa memecahkannya.
teman sebelah kanan saya -namanya niki, terlihat tangannya di foto di atas- segera mengambil benda-benda sekitar untuk membantu membayangkan persoalan tadi. membantu memodelkan persoalan yang berupa cerita tadi.
teman yang lain menggunakan kertas dan pena untuk kepentingan yang sama: modelling. agaknya, modelling adalah kebutuhan mutlak untuk memecahkan masalah tadi. ketika saya tanyakan, mereka semua menggunakan matematika untuk memodelkan persoalan, baru setelah itu mengambil keputusan.
mereka bertarung mengajukan mana model yang paling menjawab masalah hingga akhirnya, model teman nikilah yang paling masuk akal.
teman-teman begitu terpesona dan “masuk” ke dalam masalah tadi. mereka begitu larut di dalam proses memilih model dan menguji efektivitasnya.
mungkin itulah sebabnya bahasa inggris menggunakan kata to solve dan solving the problem. melarutkan diri dan sekaligus membuat masalah yang semula “menggumpal” jadi encer atau larut.
lain dari bahasa inggris, bahasa indonesia menggunakan kata “memecahkan” masalah. pecah, perubahan dari gumpalan besar menjadi remah yang lebih kecil adalah ide yang ada di balik kata dan tindakan “memecahkan masalah” tadi.
bagaimana pun, melarutkan, membuatnya encer, atau memecah masalah mengandaikan adanya masalah itu dulu. bila masalah bisa dirumuskan dengan baik, bisa dibayangkan, bahkan digambarkan dengan jelas, maka dia bisa diencerkan atau dipecahkan. ada orang yang kesulitan dalam membayangkan atau menggambarkan masalah. karena itu, masalahnya belum ada. belum terlahir baginya. orang lain mungkin sudah menganggapnya sebagai masalah, atau sudah melihat masalahnya, tapi dia belum. dia belum selesai menggambarkan, membayangkan atau memodelkan masalahnya. pasti, dia pun belum bisa memecahkan atau mengencerkan masalah tadi.
memodelkan masalah adalah bagian integral dari memecahkan masalah.
ibarat pintu tertutup, masalah membawa kunci pembukanya sendiri.







