Archive of ‘art events’ category

membawa bukti, membawa berkah

ini adalah tradisi jawa yang dikenakan pada orang suci islam: sunan kudus.
mengganti luwur, atau selubung makam, bagi orang jawa adalah momen penting karena kain itu adalah satu-satunya barang yang bisa dibawa keluar dari makam. ketika mengunjungi makam orang suci identik dengan mengunjungi tempat yang sulit dan sakral, maka bila kita bisa membawa pulang sesuatu darinya, itu sama dengan membawa ke rumah kesakralan dari orang suci tadi. sama seperti kita menyimpan relikwi.
tindakan ini seperti membawa pulang air dari makam suci, atau membawa pulang daun pohon yang tumbuh di makam suci, atau bunga yang mekar di sana.. tindakan untuk mengabadikan sawab berkah kesucian orang tadi ke dalam rumah kita.
ada kalanya,
selubung makam tadi tidak untuk dibawa pulang dan dibagi-bagi, tapi cukup disaksikan, dengan munculnya fotografi dan video. dengan alat-alat itu, maka momen tadi bisa disaksikan dan dibawa pulang sebagai bukti.
membawa pulang bukti adalah gagasan modern, tapi gagasan mula-mulanya adalah membawa pulang sawab berkah dari orang suci yang kita datangi makamnya.

video di atas diambil dari KOMPAS.

suluk salju

semalam nonton suluk salju slamet gundono di pesantren kali opak.
pesantren yang memang dibangun di tepi sungai keramat opak, sungai yang konon terjadi dari patahan pulau jawa.

suluk salju sudah dibawakan slamet gundono berkali-kali dengan judul yang berbeda. pada dasarnya, ini adalah kisah mengenai BHISMA dan AMBA. BHISMA adalah anak DEWI GANGGA, dengan demikian dia adalah ANAK AIR, yang selama hidup wadat, suci, tidak menikah.  dengan kata lain, pertunjukan adalah juga kisah pencarian akan air bersih yang didamba masyarakat ketika pencemaran alam berlangsung di mana-mana.

suluksalju dipentaskan di pendapa terbuka yang memungkinkan mereka para aktor bermain air dengan bebas. air memang “dimainkan” di sini.

suluk salju meleburkan dalang dan wayang. ini melanjutkan tradisi yang sudah ada: penonton menonton wayang sekaligus aktivitas dalang dan niyaga yang mementaskannya. sama seperti pertunjukan wayang kulit sekarang.
dan slamet gundonon memang aktor, selain dalang. di suluk salju dia memainkan wayang sekaligus jadi wayang.
karenanya suluk salju lalu jadi tontonan yang berlapis-lapis: kita mendengar kisah, melihat kisah dimainkan dan sekaligus melihat dalang yang memainkan wayang itu terlibat dalam kisah. di suluk salju produk dan proses produksi disajikan ke hadapan penonton serentak bersama-sama.
[apakah arsitektur bisa memperlihatkan produk dan sekaligus proses produksinya, tektonikanya?]

dulu,
pertunjukan wayang kulit hanya memperlhatkan wayangnya saja. penonton duduk di pringgitan menghadap kelir dan melihat bayang-bayang yang hidup bergerak-gerak.
kini, posisi penonton wayang sudah sama dengan dalang, sehingga aktivitas dalang dan niyaga terlihat penonton. sinden pun yang dulu tersembunyi kini menghadap penonton!

suluk salju dipentaskan di tepi sungai opak, ketika masyarakat setempat mendamba turunnya hujan. pilihan waktu tempat yang tepat untuk event yang hebat.
kali opak adalah penghubung laut selatan dengan gunung merapi yg melewati juga candi shiwaistik prambanan. sungai ini di prambanan juga menjadi pembatas alamiah kerajaan surakarta-yogyakarta. kali opak adalah sungai keramat, terjadi dari retakan pulau jawa. seringkali penduduk mendengar bunyi gemuruh tanpa wujud di sepanjang sungai itu yang disebut sebagai lampor: balatentara laut selatan yang hendak mendaki ke gunung merapi. kali opak adalah “jalan raya” penghubung laut selatan dan merapi. karena itu gempa 2006 juga melewati sungai ini.

meski pun suluk salju itu terkesan bebas, tapi pertunjukan suluk salju bukanlah pertunjukan tanpa kendali. kebebasan ekspresi pelaku dan respons penonton seperti sudah diprediksi. sehingga bisa dikatakan disain dari suluk salju bukanlah membuat produk jadi, tapi mendisain proses-proses yang ada frame atau kisi-kisinya. di pertunjukan itu, proses-proses tadi diserahkan pada berbagai aktor: pemain, penonton, wiyaga, wartawan yang simpang siur, anak-anak setempat yg kebetulan lewat.

pertunjukan semalam memang “memainkan” air. air selain dikisahkan [yakni kisah bhisma si anak air] juga air digunakan untuk properti pertunjukan: pancuran dipakai sebagai pemisah ruang dan pemberi efek hujan. balok-balok es [bukan salju] juga dipakai untuk membentuk ruang, badkuip dipakai sbg “panggung”. ember, gayung, waskom dan berbagai wadah air digunakan sebagai properti. juga sebagai wayangnya!
adegan dialog di kerajaan astina diperagakan dengan pecahan ember plastik oleh slamet gundono. orang tahu bahwa itu adalah wadah air yang sudah tidak bisa menjalankan fungsinya lagi: pecahan ember, yang jadi raja agung suyodhana. ironik.

pilihan tempat dan waktu penyelenggaraan pertunjukan suluk salju saya kira cocok. demikian pula dengan pilihan issue: ajakan untuk menghargai kemurnian air juga cocok dengan realitas sekarang ini.

terima kasih untuk mas jadul maulana, pengasuh pondok pesantren kali opak, yang telah memberi makanan rohani melalui pertunjukan slamet gundono ini.

1 2 3 42