Archive of ‘art events’ category

mengenang rama dick

bila kebanyakan orang yang hadir malam itu [21 mei 2011] mengenang rama dick hartoko sj dalam hubungannya dengan sastra dan seni, maka saya mengenang beliau dalam hubungan dengan makam kuna, arsitektur dan sejarah.

ketika saya menemani beliau nyekar ke makam ibu angkatnya di kerkhof ganjuran, beliau meminta saya untuk juga mengunjungi gereja puhsarang. saya tidak tahu apa-apa tentang gereja itu. tapi, kemudian setelah hampir 20 tahun, ketika saya menulis tesis S2 di ITB tentang arsitek perancang kampus ITB itu, baru tersadarlah bahwa memang ada hubungan antara gereja ganjuran dengan gereja puhsarang dan kampus ITB.

arsitek perancang kampus itu [1919] dibaptis ulang sebagai umat katolik di gereja ganjuran di tahun 1931. dan kemudian merancang gereja puhsarang di tahun 1936.

arsitek itu pulalah [ir. henri maclaine pont] yang pernah aktif di penggalian ibu kota majapahit trawulan di tahun 1923-24 dan memelopori berdirinya museum majapahit di sana.

malam itu, saya membacakan tanda-tanda zaman bulan juni 1982 dan juni 1983, tentang sikap kebanyakan orang terhadap bangunan dan peninggalan leluhur.

beberapa media massa yang melaporkan kegiatan ini:

suster pinter yang penyanyi

dari twit mas guntur romli, saya dikenalkan pada seorang penyanyi yang adalah suster melkhiet lebanon: keyrouz marie. bukan hanya menyandang dua atribut itu saja, beliau pun memegang gelar doktor di bidang musikologi religius dan antropologi dari sorbonne.

suaranya indah, orangnya juga cantik, lagu-lagunya eksotik… lengkaplah sudah ia mengisi khasanah kita tentang hiburan dan sekaligus refleksi spiritual.

http://www.keyrouz.com/

pameran tunggal seni patung dan launching buku edhi sunarso

paneran edi soenarso di salihara
Edhi Sunarso, 78 tahun, adalah pematung modern Indonesia pertama yang mencetak karyanya dengan bahan logam. Ia memulai karirnya dari seni pahat batu dan kayu di Sanggar Pelukis Rakyat, tetapi kemudian mengembangkan patung dengan teknik cor logam. Meski banyak membuat karya-karya personal, ia lebih dikenal sebagai pematung dengan karya-karya publik. Karya-karya publiknya tersebar, terutama di Jakarta, antara lain patung “Selamat Datang”, “Pembebasan Irian Barat”, “Dirgantara”, dan diorama Monumen Nasional.

Di masa mudanya, selain magang pada pelukis terkemuka Hendra Gunawan, ia pernah mempelajari seni patung realis di Visva-Bharati Rabindranath Tagore University, Santiniketan, India (1955-1957). Corak realis ini pula yang tercermin pada karya-karyanya di ruang publik dan ia ajarkan kepada murid-muridnya di ASRI – kini FSRD ISI – Yogyakarta. Ada juga kecenderungan abstraksi, simbolisasi, dan pemiuhan, terutama pada karya-karya pribadinya. Namun, Edhi Sunarso sendiri mengaku bahwa itu sebenarnya merupakan pengembangan dari kecenderungan figuratif.

Pameran tunggal ini akan menampilkan sejumlah karya pribadi Edhi Sunarso. Akan dipajang pula foto-foto proses awal ketika monumen-monumen di ruang publik itu dibangun, yang memperlihatkan antara lain lanskap Jakarta di masa itu dan Bung Karno selaku penggagas proyek tersebut. Foto-foto dari masa lampau itu diperkaya dengan sepilihan foto masa kini, karya kelompok Liga Merah Putih (Oscar Motuloh, Yori Antar, Syaiful Boen, dan Asfarinal St Rumah Gadang), yang memperlihatkan aktualitas monumen-monumen itu di tengah perubahan kota.

Pameran tunggal seni patung “Monumen” ini akan dibuka pada hari Sabtu, 14 Agustus 2010, pukul 16:00 WIB. Terbuka untuk umum dan gratis, diakhiri dengan acara buka puasa bersama. Diadakan di Galeri Salihara, pameran ini berlangsung hingga tanggal 28 Agustus 2010, Senin-Sabtu pukul 11:00-20:00 WIB, Minggu & hari libur nasional tutup.

Dalam rangka pameran ini juga akan digelar diskusi pada hari Sabtu, 21 Agustus 2010 pukul 16:00 WIB. Bertajuk “Seni Patung, Monumen, dan Ruang Publik” dengan pembicara Jim Supangkat dan Yuke Ardhiati.

GALERI SALIHARA
Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi Ipiet di 0856-4999-0204 atau ipiet@salihara.org, atau kunjungi www.salihara.org.
Untuk keterangan lebih lanjut mengenai program Komunitas Salihara lainnya, maupun permintaan peta lokasi Komunitas Salihara, silakan hubungi melan@salihara.org atau dita@salihara.org.
Sampai bertemu di Komunitas Salihara!
Komunitas Salihara; Jl. Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520. Tel: 021-789-1202.
(Parkir terbatas, kami melayani pemesanan taksi di tempat.)

Pameran berlangsung hingga tanggal 28 Agustus 2010.
Penyelenggara: Panitia Penerbita Buku dan Pameran Tunggal Edhi Sunarso bekerja sama dengan Galeri Salihara
Partner: Liga Merah Putih
Sponsor: PT Sidola, Drs. John Mamesah, Grand Indonesia , PT Hasta Kreatifa Manunggal
Media partner: Majalah Visual Arts, C-Arts Magazine, Majalah ARTI

Informasi dan kontak selanjutnya, silakan hubungi:
Panitia Penerbitan Buku dan Pameran Tunggal Edhi Sunarso
Jalan Dongkelan No 91 RT 03 Panggungharjo, Sewon Bantul 55188
Kontak person: Barahasti [mobile 0856 283 1147 email barahasti@gmail.com] dan atau Yudianti [mobile 0815 7942 030 email byudianti@yahoo.com]
Telp 0274 7475260
Fax 0274 563 580

jas merah musim panas…

LEO KRISTI di TBY

di penghujung pertunjukan semalam, pertunjukan yang sebenarnya justru terjadi.
seusai leo kristi menyampaikan kata pamitnya, para pemuja justru merangsek meminta ia menyanyi lagi… lagi… lagi…lagi…

saat itu yang bernyanyi bukan hanya leo kristi. ia, cecil, mung dan erni “hanyalah” bagian dari kerumunan yang bernyanyi bersama. leo kristi sendiri terkadang lupa lirik lagunya, namun itu tidak masalah benar karena lirik itu sudah telanjur menyebar ke hati dan ingatan para pemujanya sekian lama, sudah mewarnai hari-hari mereka, sudah menjadi milik mereka semua, dan sudah mewarnai cara mereka memandang sesama dan alam. dua-tiga lagu dirajut bersambungan oleh reza, generasi muda yang permainan gitarnya menapak jejak leo kristi sendiri.
momen itu menggetarkan…. “masih kurasakan energi semalam” demikian seorang rekan menulis di status facebooknya. perasaan yang sama saya yakin juga masih berada di dada para pemuja semalam.

momen leburnya pemain dan penonton, menyatunya mereka dalam menghayati lirik-lirik lagunya menyingkapkan bahwa pertunjukan itu baik juga disebut sebagai performance. karena di dalam peristiwa perjumpaan semalam, ada yang dihadirkan, ada yang dibuat tersingkap dari ketertutupannya, yakni terjadinya komunitas atau kelompok orang yang saling berbagi [commune=berbagi].

rupanya penonton pertunjukan semalam dapat dibagi-bagi; ada yang datang karena untuk memelihara nostalgia bersama teman-teman sebayanya. ada pula yang datang karena mengenal lirik dan lagu leo kristi dari youtube. ada pula yang datang karena “tersesat” sekadar ingin tahu ketika ia kebetulan lewat di tempat itu.

taman budaya yogyakarta sebagai tempat berlangsungnya momen perjumpaan tadi telah dipersiapkan dengan baik oleh panitia, meski insiden putusnya dawai gitar listrik leo kristi nampak mengganggu skenario yang sudah disiapkan sang maestro dalam pertunjukannya. itu pun ikut dirasakan oleh penonton dan pemujanya. dan celetukan atau “clemongan” pemujanya jadi menarik, untuk diolah oleh leo untuk menyanyikan lagu-lagunya. ia bernyanyi menuruti permintaan pemujanya, sebagaimana laiknya pengamen jalanan yang menuruti permintaan lagu pendengarnya. dialog yang komunikatif ini… tidak lagi menurut skenario semula.

sejak semula memasuki panggung, ia mengenakan jas merah. tapi, begitu udara sekitar panggung dirasakan panas, maka ia melepas jas merahnya. ia lucuti pula kemudian celana putihnya, yang meski sudah dengan bantuan cecil, tidak bisa seluruhnya lepas dari badannya, menyangkut di sepatu kanannya.

atas permintaan penonton, ia memainkan “nyanyian musim” yang diawali dengan pernyataan waktu: “di ujung musim panas....” lagu ini tadi dimainkan dengan bagus [ tidak jadi soal, bahwa kita semua sekarang sedang berada di awal musim panas, tidak cocok dengan waktu yang ditunjuk oleh lirik lagunya].

mungkin pertunjukan semalam itu cukup berarti dalam sejarah pertunjukan musik indonesia. leo kristi yang dikenal di tahun-tahun 80-an, masih bertahan dan dielukan di 30 tahun kemudian. melintasi waktu yang sangat panjang dibandingkan penyanyi pop lain.
satu generasi mungkin, sebagaimana nampak dari banyak anak muda yang dengan built-in camera di hape mereka, bernyanyi dan merekam pertunjukan semalam.

jas merah memang sudah ia tanggalkan, tapi rasanya pertunjukan semalam itu momen bersejarah!

1 2 3 4 5 42