Archive of ‘art events’ category

menunggu penonton

mendatangkan turis memang pilihan yang banyak diambil oleh banyak bangsa yang merasa punya keunikan kultural.
mereka ini tahu bahwa orang modern selalu mencari keunikan. tapi sayangnya, membangun keunikan itu punya risiko ‘membekukan’ dinamika kultural. demi memenuhi kebutuhan orang modern [dan memikat mereka] maka banyak masyarakat tradisional yang rela untuk mementaskan tari sakral untuk dollar. rela menyingkir dari rumah tradisional warisan moyangnya guna difungsikan menjadi museum, dst. yang pendeknya, rela menjadi tontonan orang- orang modern yang haus akan identitas kultural yang sudah tidak mereka miliki lagi.
kita, sebagai pemilik tradisi, sudah tidak peduli lagi dengan warisan moyang kita. mengkaji pun tidak. paling hanya melestarikan wujud luarnya saja agar disangka masih melanjutkan tradisi moyang, tapi sebenarnya hanya ‘mementaskan’ pertunjukan seolah-olah belaka.

saya meratapi ini untuk warisan kultural jawa, tempat saya dibesarkan. tapi juga untuk mengingatkan saudara-saudara di sumba, semoga nasib kulturalnya lebih baik, tidak harus ‘menjual diri’ menjadi tontonan guna kebutuhan pariwisata.

pariwisata adalah serupa pedang bersisi dua [sayang, parang sumba hanya punya satu sisi tajam ya..]: bisa mendatangkan berkat dan celaka.

di kampung rangga baki, kodi, saya lihat beberapa kerajinan tangan yang bagus. tapi khusus dijual untuk orang barat. ketika saya tanyakan bagaimana seandainya saya yang beli, dia tidak mau lepas… 🙁
orang-orang ini sudah tergantung sekali pada kedatangan orang barat. mereka lebih suka duduk-duduk menunggu orang barat datang.
saya duga, mereka akan selalu tergantung dari pariwisata, sementara di saat yang sama mengabaikan tanah garapan yang sebenarnya bisa menyibukkan mereka tiap harinya. sayang…

1 40 41 42