Archive of ‘maps’ category

[masih] bangsal tamanan

lokasi bangsal ini perlu diberitahukan karena ada beberapa rekan tertarik untuk mengunjunginya [he..he..]. bangsal tamanan ada di sebelah barat dari bangsal sri manganti, sebelah utara dari gedhong jene dan sebelah timur dari kedhaton kilen. kita masuk dari utara, di sebalik selatan dari masjid suranatan, seyogyanya kita minta ijin petugas keamanan yang jaga di sana. lihatlah, lokasi yang sangat istimewa!

revianto, arsitek muda yang banyak mengetahui seluk-beluk arsitektur kraton yogyakarta, pernah memberi keterangan bahwa “lokasi bangsal ini terlalu istimewa untuk seorang juru taman. kecuali bila juru taman itu dipahami sebagai sang baginda sendiri yang dalam tradisi kraton agraris mendapatkan gelar sebagai juru taman.

bangsal ini, berikut bagian-bagian tambahannya, dicat warna biru tua, kecuali bangsal inti yang berwarna merah, coklat dan prada keemasan. sekarang tiap hari ada ibu-ibu yang membatik di emperan depannya, sedangkan bagian timurnya dipergunakan untuk klinik kraton.

mengamati konsol atau voute yang berukirkan macam-macam binatang itu [sepasang kutilang, rusa, ayam, dan naga cina], maclaine pont membantah dugaan bahwa bangsal ini dikerjakan oleh para tukang cina [die console nu zijn oorspronkelijk ook geen chineesche form]. ini adalah bangunan bangsal jawa dengan konsep sistem struktur asli jawa dan dikerjakan oleh tukang-tukang jawa. mungkin bangsal ini buatan orang jawa pedalaman sendiri dari masa-masa ketika hubungan dengan pesisir masih lancar. ketika para tukang masih memelihara tradisi ketrampilan mereka yang gemilang.

sekarang, kemana perginya para tukang?

persebaran manusia

ada situs menarik yang menggambarkan persebaran manusia, dari awal di afrika hingga ke manusia modern masa kini. silakan klik http://www.bradshawfoundation.com/journey/

di situ dinyatakan juga peristiwa meletusnya gunung toba yang mempunyai dampak pada persebaran manusia di kawasan indonesia dan asia. lha jebul orang-orang nusantara ini lebih tua dari pada orang asia semacam cina dan jepang! whalah… jangan-jangan nenek moyang orang jepang itu bermarga simbolon atau simarmata? he..he..

FOTO GEMPA DARI SATELIT

seorang rekan mengirim situs ini untuk melihat foto satelit keadaan sekitar bantul yang dilanda gempa. silakan klik http://unosat.web.cern.ch/unosat/asp/prod_free.asp?id=21 atau http://earthquake.usgs.gov/eqcenter/eqinthenews/2006/usneb6/#maps, atau http://www.crisp.nus.edu.sg/earthquake20060527/index.html [sayang sekali saya tidak bisa mengidentifikasi secara tepat daerah mana itu].

demikian pula, ada pemilik blog [www.JejakGeografer.com] yang memberitahukan bahwa “Untuk relawan dan donatur yang perlu peta-peta up to date mengenai lokasi bencana, silakan kontak Posko bencana Gempa yang dibentuk oleh Fak. Geografi UGM. Lokasi posko di kompleks Fak. Geografi UGM, Bulaksumur Yk.”

ini berita baik.

mustinya perguruan tinggi berlaku seperti itu, memberikan bantuan lewat disiplinnya masing-masing. tidak kok memasang mahasiswanya menyorongkan kotak di jalan-jalan..:-(

MAJAPAHIT dan AMERIKA SERIKAT


semua pihak berkepentingan untuk menghidupkan kembali ingatan samar-samar akan kerajaan hindu di jawa timur ini. yang diingat sekarang adalah segi ‘kesatuan’ yang mengikat berbagai daerah di nusantara ini. meskipun ikatan itu tidak serupa dengan konsep negara kesatuan indonesia modern sekarang ini, namun dibutuhkan semacam ‘benih’ konseptual yang bisa dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa berbagai bangsa di nusantara ini pernah ‘bersatu’ ketika majapahit berkuasa.
jalan-jalan di sekitar istana negara diberi nama seputar nama kerajaan jawa abad XII itu: hayam wuruk, gajah mada dan majapahit sendiri.
demikian pula basuki resobowo diminta untuk merancang lambang negara dengan menerakan kutipan sutasoma, kitab yang berasal dari masa majapahit: bhineka tunggal ika, ‘berbeda itu satulah juga’.
kutipan ini semula bermaksud menggaris bawahi hubungan shiwa dan budha yang pada masa ditulisnya kitab itu punya pendukung sama kuat di majapahit, yang keduanya meski ‘berbeda tapi satulah juga’. namun oleh muhammad yamin, semboyan itu dimaknai sebagai usaha menonjolkan kesatuan berbagai bangsa di nusantara ini daripada perbedaannya.
semboyan ini samar-samar mengingatkan pada semboyan negara amerika serikat ‘e pluribus unum’, yang artinya juga seperti yang dimaksud oleh perancang semboyan negara indonesia yang baru saja merdeka: merskipun berbeda-beda, satulah juga.
bila semboyan negara amerika serikat digambarkan bersama dengan burung elang, maka di republik indonesia semboyan negara digambarkan sedang digenggam oleh burung garuda. burung mitis yang dikenal lewat peradaban india yang diambil alih ke dalam alam jawa ini -di jawa sendiri tidak dikenal burung garuda- leluasa untuk dijadikan sarana simbolik untuk menjadi icon. burung yang tidak pernah dijumpai dalam realitas nusantara ini telah menjadi burung simbolik, icon.

1 2