Archive of ‘book review’ category

riwayat sosial kopi

The Devil's Cup: A History of the World According to CoffeeThe Devil’s Cup: A History of the World According to Coffee by Stewart Lee Allen

My rating: 4 of 5 stars

the imams complained their mosques were empty while the coffee houses were always full” [p.49]

okelah,
buku ini mengambil bentuk reportase perjalanan penulis melacak balik perjalanan kopi dalam sejarah dunia, sejak ia dikenal orang. ia memulainya dari ethiopia. tidak saja karena di situlah berawal legenda si penggembala kambing –kaldi– yang heran melihat tingkah kambing-kambingnya setelah mengunyah daun dan biji kopi, namun di situ jugalah kopi punya peran sosial di dunia sekitar timur tengah hingga eropa.
tempat di mana kopi justru tidak dikenal dengan nama itu, tapi: buna.

dari ethiopia, penulis berangkat ke yemen. ke kota sana’a dan al makkha.
tempat kopi dikenal oleh dunia sebagai mokka. tempat di mana kopi juga mendapatkan ‘saudara perempuan’nya yang berupa daun-daun qat yang memabokkan.

qat atau khat,sya tidak tahu mana penulisan yg betul untuk daun yg dikunyah dan berefek memabokkan serta bikin orang kecanduan ini.
ia disebut sebagai an evil sister oleh penulis.
ia jumpai sejak di ethiopia namun dikonsumsi masal di makkha yemen oleh pegawai selepas tengah hari. seperti halnya orang kita ngopi dan ngobrol untuk melarikan diri dari pekerjaan 🙂

perjalanan ini dibuat dengan mengambil ‘titik nol’nya di ethiopia, kemudian menjalar ke yemen dan dari sana dengan bersentuhan dengan perkembangan islam minuman yang pernah dilarang di kalangan muslim ini justru menyebar dan diidentikkan dengan minuman mereka.

bila beer itu identik dengan eropa, maka kopi identik dengan islam.”

penulis mengandalkan bacaan-bacaan lain untuk mengurutkan timeline perjalanan kopi ini. lalu dari situ ia melakukan perjalanan, mengurutkan dari masa lalu yang legendaris [ethiopia] sampai ke masa kita di kafe-kafe starbuck dan sebagainya.

cara menulisnya lucu.
menyenangkan bacanya.
dan saya kira, itu penting untuk mengisahkan riwayat sosial minuman ini: menyenangkan mengetahui keragaman jenisnya, keragaman cara membuat dan menikmatinya, serta yang mau ditonjolkan oleh buku ini: peran-peran kopi dalam politik, perdagangan, kebudayaan hingga kepercayaan.

siip dah!

kontinuitas pasar

Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna: Abad VIII-XI MasehiPasar di Jawa Masa Mataram Kuna: Abad VIII-XI Masehi by Titi Surti Nastiti

My rating: 3 of 5 stars

buku ini tidak hendak membuktikan adanya kontinuitas antara pasar di jawa tengah abad ke-8 dengan pasar masa kini. tidak pula hendak mendapatkan “hal-hal yang tetap” dari pembandingan gagasan yang disebut pasar di kedua jarak waktu sejauh 13 abad itu.
tapi, memang dari mulanya buku ini sudah punya anggapan bahwa ada kontinuitas itu tadi. bahwa pasar sebagaimana disebut dengan istilah “pekan” oleh prasasti-prasasti itu masih berlangsung pada masa kini secara esensial, dengan variasi-variasinya.

jadi dengan demikian, buku ini hendak membuat cerita tentang fenomen pasar -di masa lalu mau pun di masa kini- di tempat-tempat yang secara toponim dianggap sama: apa saja komoditasnya, siapa saja pelakunya, di mana tempatnya, bagaimana bentuk fisik tempat itu….
dipilihlah dua desa yang secara toponim adalah dua desa yang disebut oleh prasasti-prasasti: satu di temanggung jawa tengah dan satunya di dekat malang jawa timur. mataram kuna memang pernah berkuasa di jawa tengah dan kemudian pindah ke jawa timur untuk mendapatkan akses perdagangan interinsular.

menghadirkan kembali secara lengkap peristiwa pasar masa lalu dengan mengandalkan prasasti dan relief-relief candi, sudah tentu pekerjaan yang luar biasa susahnya. karena kedua sumber resmi itu dibuat oleh pihak elite dan untuk kepentingan lain yang tidak untuk memotret kejadian pasar.
penulis menggunakan model “analogi” sebagaimana diterangkan oleh robert archer.

bagi saya, saya paham kesulitan rekonstruksi masa lalu pasar. karena itu, membaca kisah tentang pasar dengan cara mendampingkan keterangan masa lalu dengan kejadian masa kini, terus menerus perasaan ini disergap oleh rasa ragu. tapi saya senang didongengi dengan macam-macam informasi seputar pasar masa lalu, sebagaimana disajikan oleh buku ini.

saya memang selalu ragu dengan ide tentang kontinuitas.

tapi asyik aja dah baca kisah-kisah gini!

mengagungkan masa lalu

Pararaton: Alih Aksara dan TerjemahanPararaton: Alih Aksara dan Terjemahan by Agung Kriswanto

agak mudah bagi saya untuk mengikuti buku ini.
bahasanya dekat dengan bahasa jawa baru, tidak sesulit membaca negarakretagama.
lagi pula, pararaton ini mengambil bentuk “gancaran”, bukan puisi, sehingga niat menyajikan suatu kisah yang runtut lebih nampak.
namun demikian,
kisah yang tuntut itu sering mengalahkan atau mengabaikan fakta historis. hal yang lazim dalam penulisan kisah berlatar sejarah.
pararaton ditulis sesudah negarakretagama, meski pun peristiwa yang dikisahkannya berlangsung di masa sebelum majapahit. ini suatu kisah untuk mengesahkan bahwa majapahit adalah keturunan dari ken angrok, berandal dari timur gunung kawi.
saya senang dengan bagaimana keberandalan tokoh sentral ini disajikan dengan lugu apa adanya. gimana ken angrok suka memperkosa cewek yang ditemuinya, gimana ia menyusun siasat licik sampai jadi raja., gimana lika-liku pengkhianatan dan bunuh-membunuh di lingkaran elit penguasa diketahui penulis.
penulis di masa majapahit akhir itu rupanya punay kebebasan dalam menyajikan kisahnya… dan keadaan jawa di jaman ken angrok itu tergambar tertib. ada aturan jelas, memperkosa cewek jelas dianggap kejahatan, petugas keamanan kerajaan terus memburu dan merekam penjahat yang dicari. meski pun akhirnya mereka semua diam ketika si penjahat itu jadi raja. gak ada yang berani ngomongin masa lalu rajanya.
penulis kisah ini nampak berpihak pada kawasan timur gunung kawi sehingga eksplorasi kawasan ini nampak jelas: masyurnya daerah itu sbg daerah perajin emas, munculnya brahmana di sana [lohgawe yg orang india menetap di timur kawi]…
ini buku cerita. bukan catatan historik.
cerita untuk meneguhkan keutamaan dan kontribusi orang-orang timur kawi dalam menurunkan kerajaan besar majapahit.

the green prince

Son of Hamas: A Gripping Account of Terror, Betrayal, Political Intrigue, and Unthinkable ChoicesSon of Hamas: A Gripping Account of Terror, Betrayal, Political Intrigue, and Unthinkable Choices by Mosab Hassan Yousef

My rating: 3 of 5 stars

mmm…
mulai kerasa, bahwa kayaknya penulis buku ini [mosab] gak sendirian dalam menuliskan pengalaman hidupnya di palestina. ramallah, khususnya. banyak fakta yang baru bisa didapatkan dari luar. juga laporan mengenai kejadian-kejadian di luar palestina yang berlangsung sejamannya, tentu ia peroleh dari sumber luar, bukan pengalaman pribadinya.
seberapa besar peran editor buku ini dibanding dengan peran penulisnya yang memiliki pengalaman langsung dari cerita-ceritanya?
saya baca buku ini karena justru tertarik untuk mengetahui “pandangan orang dalam” hamas.
banyak hal yang saya baru tahu, berhubung isu arab – palestina memang tidak pernah menarik minat saya untuk tahu lebih banyak lagi.
namun demikian, saya selalu terganggu oleh kenytaan bahwa yang ia tuliskan ini bukanlah representasi gagasannya. ada pengaruh orang lain di dalam narasinya.
dari sudut itu, saya rasa usaha saya tidak tercapai.
namun demikian, baiklah, untuk sementara saya teruskan saja dulu membacanya.

woow… selesai juga baca otobiografi pendek ini.
lumayan buat mengetahui situasi hamas dari dalam dan dari kacamata subyektif pelaku.
bagi mosab, penyelesaian sengketa kedua negara itu hanya lewat pengampunan, saling memaafkan.
secara personal telah ia buktikan sendiri dalam hidupnya yang mengalami perubahan drastis, perubahan pandangan hidup, untuk “mengasihi musuh”nya. apakah pengalaman personal bisa diterjemahkan ke ranah politik, itu perkara lain.
untunglah buku ini mengambil bentuk otobiografi sehingga tafsiran dan tawarannya tetap bersifat personal, bukan solusi politis.
buku ini diisi dengan kejadian-kejadian yang ia alami yang selipkan pada bingkai peristiwa-peristiwa historis yang sudah dikenal umum. ia mengisi sela-sela peristiwa historis itu dengan tafsiran dan peran dia di dalamnya.
narasi tidak lalu urut, tapi justru terputus-putus, mengikuti apa yang ia alami di mana ia berpartisipasi. malah dia sering tidak bisa memastikan jarak waktu antar kejadian, seperti ungkapan yang sering ia berikan: “beberapa minggu kemudian”. bagaimana pun, pusatnya tetap dia si “aku” yang bercerita dan berperan dalam peristiwa-peristiwa.
seorang anak pendiri hamas menjadi mata-mata israel dengan nama The Green Prince, dan kemudian menjadi kristen dan pindah ke amerika. cerita kayak gini sendiri sudah bernilai ekonomis untuk dijual. jadinya buku ini.
di sini mosab tetap menampilkan ayahnya sebagai seorang pemimpin organisasi yang dihormati, tapi dipecundangi oleh generasi baru hamas yang ingin menggunakan kekerasan. hassan yousef [sang ayah] bukanlah orang seperti itu. ia benar-benar melayani demi ALLAH saja, tidak mengenal kekerasan.
justru di dalam diri ayahnya itulah, mosab melihat nilai-nilai kekristenan mewujud.
akhirnya,
mosab tinggal di amerika, dan dia meyakinkan bahwa ayahnya masih menganggapnya sebagai anak.
beda dengan berita yang mengatakan bahwa ayahnya telah tidak menganggapnya sebagai anaknya lagi!
[silakan klik berita dari huffington post ini, atau ini ]

kangen indonesia

Kangen Indonesia: Indonesia Di Mata Orang JepangKangen Indonesia: Indonesia Di Mata Orang Jepang by Hisanori Kato

My rating: 4 of 5 stars

buku ini menyebutkan nama penerjemahnya, namun tidak menyantumkan judul aslinya. apakah semula ditulis dalam bahasa jepang atau inggris?
namun demikian, jelas terkesan bahwa kato-san sedang bercerita untuk audiens bukan-indonesia.

hal itu mewarnai pilihan-pilihan tajuk yang ia pilih untuk bercerita mengenai apa yang ia pelajari dari orang indonesia. ya, kato-san amat sopan. ia melihat keburukan atau perilaku ngawur bangsa indonesia dalam menghidupi alam modern secara positif. ia katakan itu sebagai memperkayanya atau perlu diketahui orang asing, atau hal positif yang katanya punya kontribusi penting dalam pergaulan internasional.
nampak kehati-hatiannya dalam menempatkan diri di antara indoensia dan jepang.

indonesia amat dicintainya,
dan mengherankannya, ia mencitai jakarta. kota yang sering kali dikutuk dan diemohi banyak orang asing.

buku ini merupakan catatan ringan dan personal.
disajikan secara lucu dan sopan. seperti galibnya orang jepang yang pemalu dan tidak suka menyakiti orang lain. anda harus membacanya sendiri bagaimana cara ia mengungkapkan kegemasannya ketika jam tangannya kecopetan, juga ketika dia menawar ongkos angkot, atau ketika mencoba mengamen di angkot jakarta!

tajuk-tajuk yang ada tidak disajikan kronologis, tapi mengalir saja. saya tidak menemukan apa yang jadi benang merah dari cara ia mengurutkan bab-bab tajuknya.

dari buku tipis ini, dan perkenalan saya sebentar dengan orang-orang jepang, pemahaman saya mengenai cara mereka melihat kita dan bagaimana diri kita dilihat, itu sungguh memperkaya kita dalam hidup bersaudara di masyarakat dunia.

View all my reviews

1 2 3 14