Archive of ‘book review’ category

alat yang berpengaruh

witold rybczynski mendapat permintaan untuk menulis tentang ‘alat yang paling berpengaruh pada milenium ini’. permintaan ini sebenarnya hanyalah permintaan untuk menulis sebuah esai pendek. tapi, demikian pergulatannya dalam menanggapi permintaan itu, ia membutuhkan penjelajahan banyak hal untuk sampai kepada simpulan akhir.

dia menimbang, mungkin yang paling berpengaruh adalah kacamata dan berbagai perkembangan lensa yang bisa menjadi teleskop untuk mengamati bintang-bintang di semesta, juga bisa menjadi mikroskop yang bisa mengamati renik yang tidak ditangkap mata biasa. dunia memang terbukti telah berubah karena kontribusi penemuan ‘alat melihat’ ini. orang-orang biologi, astronomi dan yang bergelut dengan teks pasti menganggap alat ini adalah penemuan berpengaruh.

tapi, bila kacamata dan berbagai lensa tadi hanya terasa di dua atau tiga disiplin ilmu, mungkin orang dari kalangan lain punya alat unggulan yang lain? dunia pertukangan, misalnya.

dunia pertukangan, maksud saya adalah pertukangan kayu, mengenal dengan baik alat potong [berbagai jenis gergaji, kapak, pahat, parang…], alat pengatur [waterpas, penyiku, lot, dsb..], penghalus [pasah, amplas, dsb…], pelubang [bor], penyambung [paku, sindik, sekrup, lem..]. alat-alat itu telah memengaruhi perkembangan kemampuan manusia dalam membangun rumah, bangunan-bangunan, monumen dan kotanya.

masyarakat yang belum mengenal logam, tidak bisa mengembangkan alat-alat penghalus, atau juga pelubang. rumah-rumah adat dari masyarakat yang baru mengenal logam belakangan [sumba, misalnya] akan menghasilkan bangunan yang secara nisbiah besar-besar, karena kayunya tidak dipotong menjadi balok dan kolom yang persegi yang bisa menghemat dimensi.
sedangkan orang jawa yang sudah duluan mengenal logam, bahkan mengukir batu pun bisa dilakukan dengan halus, seperti sudah ditunjukkan pada relief candi-candi mereka.

salah satu alat pertukangan dari logam yang penting, menurut rybczynski [aduh, ribet amat menuliskannya. belum lagi mengucapkannya], adalah gergaji. orang mesir kuna sudah mengenalnya. gergaji orang mesir mirip dengan gergaji jepang, yang memotong barang ketika ditarik, bukan didorong seperti gergaji kita di indonesia. ‘gergaji dorong‘ itu meminta bahan logam yang kuat supaya tidak tertekuk ketika didorong untuk memotong. sedangkan ‘gergaji tarik‘ itu bisa dibuat dari logam yang lebih tipis, karenanya maka potongannya bisa lebih halus, tipis.

tuan kita yang namanya sulit dieja tadi menuliskan penjelajahannya tentang alat-alat yang berpengaruh itu di buku tipisnya “one good turn: a natural history of the screwdriver and the screw“. buku asyik yang sekarang sedang tak bawa ke mana-mana…

sebenarnya, dia dalam bukunya itu mau cerita tentang penemuan sekrup dan obeng, tapi -ya itu tadi- untuk sampai ke situ, dia harus menerangkan banyak hal dulu. termasuk tentang lensa, gergaji, palu, bor dsb…
yaa… memang, untuk memahami riwayat suatu alat perlu juga diketahui konteksnya terhadap alat-alat yang lain.

viaro dan nias

barusan mendapatkan oleh-oleh dari rekan yang barusan pulang dari nias: buku alain viaro tentang arsitektur nias.

ini buku lama memang. terjemahan dari edisi bahasa prancisnya yang sudah monumental. memang, bicara arsitektur nias tidak bisa meninggalkan nama dia: alain viaro dan istrinya yang antropolog: arlette ziegler. saya pernah punya edisi prancisnya yang dicetak dari microfilmnya, tapi karena kemampuan saya dalam memahami bahasa indah ini cuma setipis kulit ari, maka hanya gambar-gambar dari buku itu sajalah yang saya kenal. teks-teksnya terbenam di tumpukan doos buku yang belum saya buka sejak gempa 2 tahun lalu.

buku tipis ini memang kaya dengan gambar-gambar arsitektural: denah, tampak, potongan, aksonometrik, peta lokasi, perspektif yang semuanya didasarkan dari pengamatan lapangan. ada beberapa yang merupakan redraw dari peneliti sebelumnya [1920] yaitu dari de boer.

viaro adalah sedikit dari para peneliti dan penulis arsitektur yang setia untuk mengunjungi lapangan dan secara rutin mengamati perkembangannya. setahu saya dia memang rutin pergi ke nias untuk updating perkembangan arsitektur nias.

adalah tahun 1999, hampir sepuluh tahun lalu, saya berkunjung ke rumah dia yang mungil di geneva. dia bilang bahwa rumahnya diinspirasi oleh arsitektur nias [padahal, sama sekali nggak nampak nias-niasnya, he..he.. demikian penilaian saya waktu itu]. dan dia mengajak saya mengunjungi museum di kota lama geneva [museum ini tempatnya deket-deket tempat kelahiran jean calvin, di seputaran katedral st. pierre itulah], yang waktu itu sedang memamerkan berbagai hal tentang nias.
edun! banyak, bahkan terlalu banyak, artefak nias yang rupanya sudah keluar negeri dan di museum barbier-mueller itu segenap pengetahuan yang saya butuhkan untuk mengenal nias ada di sana!

kedua orang suami istri ini sama-sama mencintai nias dan mencintai kerja lapangan, meski pun bukunya ini juga mengandalkan penelitian [dan kritik terhadap] orang sebelumnya. diterbitkan dalam bahasa inggris, semoga buku terbitan museum pusaka nias ini bisa meliput khalayak pembaca yang lebih luas.

dan rasanya saya harus menyebut satu nama lagi yang memungkinkan diterbitkannya buku ini: pater hamerlee. orang yang dedikasinya tidak bisa diragukan dalam memelihara budaya tradisional nias.

yaahowu!

blockbusting?

Conceptual Blockbusting: A Guide to Better Ideas Conceptual Blockbusting: A Guide to Better Ideas by James Adams

my rating: 3 of 5 stars

ide harus selalu diadakan, tidak ditunggu-tunggu kayak nunggu gerbong sepur berderet-deret gitu. tapi, muncratnya ide rupanya tidak rutin selalu. tidak mengalir tiap-tiap kali kita perlu. dia butuh kondisi-kondisi tertentu agar mecungul lagi… artinya, hambatan-hambatan dan sumbatan ide itu selalu ada. dari sononya selalu ada dan harus selalu harus dihadapi.

entah itu perceptual, emotional, cultural, intelectual, environmental blocks… adalah hal yang perlu diterima dan dihadapi. menghadapinya sebenernya cuma sering mengajukan pertanyaan dan sering “berpikir dari arah yang lain” atau juga bisa “berpikir dengan pola yang lain”… pendeknya, menyadari kelaziman dan berpikir serta bertindak yang tidak lazim.
ah, tapi ya nggak sekalimat gitu doang laa blockbusting itu… [View all my reviews]

kopi [eh..] kafein buat kreativitas

Caffeine for the Creative Mind: 250 Exercises to Wake Up Your Brain Caffeine for the Creative Mind: 250 Exercises to Wake Up Your Brain by Stefan Mumaw

i give 4 of 5 stars!

ini buku keren: kumpulan kegiatan-kegiatan praktis untuk membangkitkan ide-ide gila kita. mula-mula audiens yang dibayangkan adalah para disainer grafis, tapi rasanya bisa juga dipakai untuk siapa saja yang menjadikan kreativitas sebagai sumber hidupnya…[halah…]

di dalamnya diberikan juga beberapa wawancara dengan para konsultan disain yang terkenal.
yang keren juga dari buku kecil tapi tebal ini adalah layout atau disain perwajahan yang dibuat oleh wendy lee oldfield. ntar deh aku tulis contoh-contoh kegiatan yang mreka tulis di buku itu. ada 250 buah je!
VIEW ALL MY REVIEWS

1 12 13 14