relief sebagai dokumen masa lalu

Busana Jawa KunaBusana Jawa Kuna by Inda Citraninda Noerhadi

My rating: 3 of 5 stars

buku yang dikemas ulang dari skripsi sarjana ini bukan buku sejarah busana jawa.
tidak ada uraian mengenai perubahan-perubahan dari bentuk, kelengkapan mau pun teknik berbusana jawa seturut dengan waktu.
sebaliknya, buku ini menyajikan suatu uraian mengenai busana sebagaimana dikenakan oleh orang maupun dewa dalam relief karmawibhanga, di candi borobudur. ada anggapan, busana yang dikenakan orang-orang di sana [pada relief itu] mencerminkan atau adalah identik dengan busana yang dikenakan oleh orang-orang sejaman relief karmawibhanga borobudur itu dibuat.
jadi, ulasan buku ini semacam snapshot atau potret busana dalam suatu masa sebagaimana dikenal oleh pembuat relief karmawibhanga tadi.
jenis-jenis busana yang tersaji di relief tadi diklasifikasikan, lewat foto-foto casian cephas yang kemudian di-trace agar lebih jelas sebagai one line drawing. klasifikasi itu disusun dalam tabel yang memudahkan kita mengenali perbedaan-perbedaan dan kesamaan satu dengan lainnya.
klasifikasi busana ini kemudian dibandingkan dengan kelas-kelas sosial pemakainya. ada anggapan bahwa busana mencerminkan kelas sosial penyandangnya: tukang, orang kebanyakan, priyayi, raja, ratu, perempuan kelas bawah, perempuan kelas atas… bahkan dewa-dewa dan bodhisatwa pun.
busana dan kelas sosial dihubungkan sebagai relasi statis, baku, tetap, tidak berubah.
ini memang bukan buku sejarah, tidak hendak bercerita tentang perubahan-perubahan.
tapi asyik juga mengamati kekayaan dokumenter dari relief karmawibhanga ini.

hidup dalam tuntunan para kudus

My Life with the SaintsMy Life with the Saints by James J. Martin

My rating: 4 of 5 stars

memang bagus.
panteslah kalau buku ini mendapat berbagai penghargaan.
[sebenernya itu sih alasan aku beli buku ini: karena direkomendasikan bagus oleh berbagai reviewer. biasalaah... beli buku dengan uang saku terbatas memang perlu selektif]

kumpulan renungan atas biografi para tokoh historis dalam gereja katolik roma ini digunakan untuk menerangi pengalaman hidup penulisnya sendiri. para tokoh historis itu tadi ada yang sudah dibeatifikasi, dinyatakan kudus, ada pula yang belum. tapi itu tidak masalah.
yang penting, bahwa itu semua memperlihatkan bahwa ada proses belajar dan berubah yang terus menerus dikerjakan di kalangan gereja katolik agar gereja dan ajarannya itu tetap bisa mendapingi dunia yang juga terus berubah.
perubahan-perubahan yang bisa jadi aktornya berada di luar gereja, maupun dari dalam gereja sendir. ada beberapa paus, juga pemikir dari dalam gereja katolik roma, yang punya kontribusi positif bagi perubahan dunia modern yang kini kita tinggali ini.

membahagiakan sekali bisa mengikuti pergulatan, misalnya ignatius loyola, paus pius yang mengawali konsili vatikan kedua dsb., yang membuat “berita baik” [injil] jadi relevan dengan situasi masa kini, bahkan membawa perubahan dunia yang lebih manusiawi, adil dan damai.
gereja katolik dan ajarannya tidak terhenti di dua ribu tahun yang lalu, tidak terhenti di ayat-ayat dalam buku sucinya.
lha ngapain memuja-muja buku? sesuci apa pun, sehebat apa pun buku itu.

meski baru beberapa bagian yang terbaca, tapi saya puas sekali dengan buku ini.
saya yakin, pembacaan berikut juga tidak akan mengurangi jumlah bintang yang hari ini saya pasang di sini.

View all my reviews

ngajeni simbah

Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga)Saga no Gabai Bachan by Yoshichi Shimada

My rating: 4 of 5 stars

sebenarnya ini buku biasa saja.
tentang kisah yang juga biasa-biasa saja. tentang kenang-kenangan masa kecil bersama simbah [hehe.. bahasa jawa untuk nenek] yang prinsip hidupnya telah mewarnai penulis kisah ini.

namun,
kisah yang diceritakan itu jadi istimewa karena kita pembaca membandingkannya dengan jepang masa kini yang sudah maju dan berbeda dari yang ditampilkan dalam buku ini.
ini sejenis romantisme nostalgik yang menghadirkan ulang masa lalu yang susah sebagai pengesahan kesuksesan masa kini.

saya kira, settingnya adalah jepang tahun 50-60-an.
di masa ketika jalanan juga kumuh di hiroshima dirampas oleh pedagang kaki lima, katimbang dinikmati pejalan kaki.
ketika sungai di saga juga menjadi tempat pembuangan barang, buah dan sayur yang tidak laku di pasar. sungai ini dinamai “supermarket” oleh nenek osano, karena mereka bisa menemukan apa saja di sana. dan dari sana pulalah mereka memungut semua kebutuhan hidup sesehari mereka.
mirip situasi kita di indonesia kini.

itukah yang membuat buku ini disukai juga di indonesia? karena adanya kemiripan situasi tapi sekaligus ada semacam harapan bahwa kita nanti akan bisa seperti mereka sekarang ini?
mungkin demikian halnya,

adanya kemiripan ini membuat kisah ini jadi “ada gunanya” buat kita: memberi harapan, memberi daya tahan, untuk tetap bahagia meski pun keadaan tidak kaya. “kita adalah orang miskin yang ceria” demikian nenek osano membesarkan hati cucunya.
“kita adalah orang miskin turun-temurun. jadi, mengapa murung?”

dari sisi itu, buku ini relevan dengan situasi ikita. kita butuhkan dan juga sekaligus mirip seperti nasihat para orang tua jawa agar kita sabar dan menerima pemberian dengan hati terbuka ["narima ing pandum]. nasihat yang terumuskan demikian, mungkin karena berabad-abad lamanya orang jawa tinggal dalam kemiskinan.

tanpa bermaksud melanggengkan kemiskinan, buku ini mewartakan bahwa orang miskin bisa tetap bahagia, karena nilai orang diukur seberapa besar dia berusaha.

pada hemat saya,
buku ini bagus buat anak-anak. saya bayangkan, anak-anak saya sendiri mungkin suka. bisa jadi karena kemiripan situasinya. kemiripan cara menghadapi keadaan yang susah diubah.
“kalau nilai bahasa inggrismu jelek, katakan bahwa aku orang jepang!
kalau engkau tidak bisa menulis kanji, katakan saja bahwa aku hidup dengan hiragana dan katakana”
hehe…
begitulah ajaran nenek osano yang gigih, “ngeyel”, tidak mau menyerah.

kelebihannya, buku ini dikisahkan dengan ringan. tidak bermaksud mengaduk-aduk emosi.
datar saja caranya memilih kata dan menggambarkan emosi.
namun, rasanya buku ini jujur dengan caranya itu.

saya sempat kenal keluarga-keluarga jepang di negerinya sana.
ya seperti itulah cara mereka bereaksi terhadap kesulitan, menghibur diri dan bekerja keras meraih prestasi.
mungkin itu karena kisah sulit di masa kecil itu dikisahkan oleh pelaku yang sudah keluar dari situasi sulitnya. sehingga bisa lebih tenang. namun demikian, saya menghargai kejujurannya, keluguannya dalam bercerita.

hanya perlu waktu semalam saya selesaikan baca edisi indonesianya!

View all my reviews

basilica

Basilica: The Splendor and the Scandal: Building St. Peter'sBasilica: The Splendor and the Scandal: Building St. Peter’s by R.A. Scotti

My rating: 3 of 5 stars

buku ini mau mengisahkan pembangunan [kembali] basilika st.petrus setelah lembaga kepausan pindah ke roma dari avignon di abad ke-15. basilika pertama yang dibangun oleh kaisar konstatin dibangun ulang dan dipulihkan kemegahannya sebagaimana orang di abad ke-15 itu membayangkannya.

dari jaman ke jaman, basilika st. petrus ditafsir ulang dan secara akumulatif dibikin semakin megah. para arsitek di tiap jaman dalam menangani pembangunan ulang basilika ini selalu berhadapan dengan kontinuitas dan diskontinuitas: ada yang tetap dipertahankan tapi ada yang diperbaiki dan dibawa maju.

buku ini mencoba bercerita luar dalam.

segi-segi fisik basilikanya sendiri maupun peristiwa-peristiwa historik yang berlangsung di dalamnya. bagaimana pun, arsitektur bukan melulu wadah, namun juga “kulit luar” dari apa yang ada di dalamnya.

memang buku ini memberi informasi rinci seperti yang dibutuhkan oleh peneliti arsitektur, karena buku ini memilih untuk menyajikan basilika secara menyeluruh, lahir batin, segi fisik mau pun non-fisiknya.

enteng berisi deh…

View all my reviews

ada tapi tak teraba

ada seorang teman menulis begini di jaringan sosial:

“Entah apa kata dan alasan polisi-jaksa-KPK, dalam pengejaran ibu XXX
ini, mereka tidak bisa/belum melaksanakan tugas dengan baik. Ini harus
mereka akui, wong nyatane sampai dunia sekarang belum ketemu ..
Padhahal bu XXX kan yo manusia biasa (punya suami, punya anak), kan ya
figur nyata(ada fotonya), bukan jenis manusia sakti yg bisa ngilang
atau semacam dhemit, yg ada tapi tak teraba ya ??”

‎”yang ada tapi tak teraba”
kalimat ini menarik,
sering terdengar di kitab2 suci atau dongeng ttg tokoh hebat.
apakah mungkin dulu simbah-simbah kita berhadapan dengan fenomena serupa yang
kemudian merumuskannya dengan kalimat seperti rumusan di atas itu ya?

sejarah buku

Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (Edisi Revisi)Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia by Cindy Adams

My rating: 4 of 5 stars

yang menarik saya dari buku edisi revisi ini adalah dibukanya diskursus mengenai PENULISAN buku ini sendiri.
ternyata,
buku ini sendiri menyejarah: ada beberapa versi yang tidak sama, ada yang bisa dibilang sebagai versi terdahulu dan ada yang kemudian. ada yang disebut sebagai “edisi bahasa inggris” ada pula yang “terjemahan”. seandainya buku ini hanya terbit satu edisi yang setia pada edisi yang berbahasa inggris, maka sejarah penulisan buku ini pun pendek.
selain karena munculnya edisi terjemahan yang tidak sama versinya, bentuk yang dipilih oleh cindy adams untuk mengisahkan biografi bung karno ini pun sudah memberi peluang untuk terjadinya banyak tafsiran: ia menulis tentang seorang tokoh yang masih hidup dengan cara seolah-olah tokoh itu sendiri yang bicara langsung apda pembacanya.
siapa author yang sebenarnya dari buku ini?
ketika buku ini diterjemahkan -yakni diubah komposisi audiens pembacanya dengan memasukkan para pembaca berbahasa indonesia- maka muncul aktor baru yang mewarnai isi buku: penerjemah dan editornya.
alhasil, membaca buku ini dalam versi terjemahan akan mempertemukan pembaca dengan pihak-pihak yang menghantarkan isi buku ini kepadanya.
pendeknya,
buku ini hadir di hadapan pembaca berbahasa indonesia tidak secara lugu, tapi berbelit-belit oleh banyak kepentingan. kita tidak tahu yang sebenarnya terjadi di masa lalu, tapi terbitnya buku ini justru menyampaikan pesan tersendiri: bahwa tulisan sejarah itu adalah representasi dari kepentingan.
[emang ada buku yang menghantarkan isi atau pesan secara lugu dari author kepada pembacanya? apa sih yang "lugu" itu?]

terima kasih untuk terbitnya edisi revisi buku ini!

View all my reviews