Archive of ‘travell report’ category

kupanggili namanya…[tapi dia gak denger]

kupanggili dia, micky, ketika hendak menyeberang jalan di kuanino, kupang. tapi dia tidak mendengar. bukan salah dia, tapi lantaran saya memanggilinya dari angkot atau kendaraan umum yang membunyikan musik keras-keras… berdentam-dentam sehingga melarutkan panggilanku ke arah dia.

di kupang, juga di alor dan di sumba, semua angkot [nama setempat: otobemo atau bemo kota untuk membedakan dengan otobis yang melayani trayek antar kota] ketika beroperasi selalu membunyikan musik sangat keras [bagi ukuran saya]. musiknya pun tergolong musik ritmik yang dicipta tidak untuk mengiringi larik-larik puitis liriknya, tapi melulu untuk menghadirkan irama kencang serba tegesa-gesa. bunyi klaksonnya pun bermacam-macam jenisnya…

di sini, bila ada angkot tidak membunyikan musik keras seperti itu tidak akan laku. tidak ada penumpang mau ikut.

saya mengerti itu. saya mengerti bagaimana proses berjalan, bagi orang di kupang [juga di tempat-tempat lain di nusa tenggara timur], ternyata penuh warna suara. semarak. jalan adalah lokasi perjumpaan sehingga tiap ada kesempatan berjumpa, maka peristiwa itu harus dirayakan.

di sepanjang jalan, kaset [atau CD] itu diputar tanpa henti. menyusuri jalur-jalur sirkulasi kota, tiap-tiap hari…

ampupu

ini adalah nama kayu paling banyak digunakan orang timor untuk bahan membuat rumah bulatnya. tergolong sebagai kayu eucalyptus, kayu ini banyak terdapat di timor barat hingga ke timor leste.

selain digunakan untuk rangka bangunan, batang kayu ini -yang berukuran besar- bisa dibelah menjadi dua dan setelah dihilangkan isinya maka bentuk setengah tabung itu bisa digunakan untuk penutup bubungan atap rumah bulat. menurut orang-orang di fatmnasi, penutup bubungan yang menggunakan kayu ampupu ini lebih baik dari pada hanya menganyam alang-alang di bubungan itu. anyaman alang-alang masih bisa tertembus air bocor.

kayu ini hanya diletakkan begitu saja di bubungan. ia menjepit alang-alang penutup bubungan sehingga tidak memungkinkan air hujan merembes bocor ke dalam rumah. peletakannya lateral terhadap arah angin, atau pada umumnya diletakkan sesumbu dengan entrance [pintu] rumah. untuk menghindari terlontar karena tekanan angin barat/timur yang pada musim-musim tertentu amat kuat. dengan alasan yang sama, pintu rumah bulat umumnya berada di selatan atau utara.

ketakutan di tanah kering

majapahit konon sudah menyebut batas-batas kontrol negaranya hingga jauh ke kepulauan di timur.  dan nagarakretagama juga menyebutkan bahwa majapahit melakukan hubungan perdagangan dengan penduduk pulau di ujung timur kekuasaan kontrolnya itu.

konon -demikian mengikuti david boyce yang menulis tentang sejarah dan kebudayaan timor-, dari istilah “timur” itulah pulau itu mendapatkan namanya: timor. jadi, nama timor bukan berasal dari bahasa latin timore, yang berarti takut, tapi berasal dari posisinya yang berada di ujung timur kontrol negara majapahit.

penduduknya sendiri menyebutnya sebagai tanah kering, atau dalam bahasa setempat -dawan- disebut pah meto. nama yang lebih otentik karena langsung menunjuk pada keadaan fisik yang  tergelar di depan mata.

tapi, meski pun disebut sebagai tanah kering, negarakretagama menyebut pulau ini sebagai penghasil kayu cendana. bahkan inspektur perdagangan kekaisaran cina chau ju kua mencatat bahwa pulau ini “berbukit-bukit dan semuanya diliputi oleh hutan lebat yang penuh oleh kayu cendana”.

tapi kayu cendana timor sudah langka di akhir tahun 2008.  tidak mudah lagi melihatnya. tidak terbayangkan bahwa pernah ada orang menulis pulau itu sebagai diliputi oleh hutan kayu cendana. menurut cerita beberapa orang tua di fatumnasi, dulu banyak memang kayu itu tapi kemudian banyak ditebang dan dijual keluar pulau.

tanah kering yang menghasilkan kapur pualam itu pun mempertontonkan industri baru yang lagi marak: marmer! bukit-bukit diledakkan dan digerogoti, digergaji menjadi lempengan-lempengan marmer untuk dijual keluar pulau.

di desa terpencil itu orang-orang desa tidak merasa takut. karena mereka sudah tidak punya daya untuk melawan usaha orang-orang yang akan mengubah tanah kering mereka menjadi komoditas untuk dijual keluar. justru mungkin hanya orang-orang luar seperti saya inilah yang merasa takut, bahwa kelak pulau di ujung timur negeri ini pun akan tergadaikan seperti petani di jawa yang sudah terusir dari tanah-tanah milik mereka sendiri.

saya jadi teringat syair lagu leo kristi yang melihat pesta panen tebu:

“…roda lori berputar-putar,
siang-malam…
tapi bukan kami punya”

lopo

di fatumnasi hanya satu lopo yang saya jumpai. didirikan di tepi jalan dan sekarang difungsikan sebagai halte angkot. karena fungsi itu maka peninggian lantai tidak dilakukan untuk memudahkan pergerakan orang dari dan ke angkot-lopo

lopo adalah salah satu tipe bangunan khas timor. hanya karena struktur semi publik ini terbuka tanpa dinding, maka di daerah yang sedingin fatumnasi tidak banyak struktur ini dijumpai. dan di hari itu, seharian tidak ada satu pun orang terlihat berkerumun di lopo. agaknya, struktur ini memang tidak populer untuk nongkrong masyarakat desa di sana. beda dari daerah-daerah timor lain [di kefa, misalnya] yang lebih hangat. di fatumnasi, tipe bangunan yang mudah dijumpai adalah rumah bulat [umekbubu] itu.

struktur lopo ini adalah tipikal bale yang populer di kawasan nusantara: hanya punya atap dan tiang-tiang penyangga. dan sama seperti geometri dari umekbubu, lopo berdenah lingkaran dan bisa diakses dari semua arah. karena bersifat lebih publik katimbang ume, maka atap alang-alang itu tidak turun hingga menyentuh tanah, seperti halnya yang terjadi pada ume. atap alang-alang untuk lopo dibuat dengan ketinggian orang dewasa.

lalu, di mana orang-orang bergerombol, berhimpun, saling bertemu? di rumah-rumah. oleh sebab itu, desa ini tidak bisa terlalu besar. berkelompok-kelompok mereka tinggal. bila akan berkumpul maka mereka berkumpul dari rumah ke rumah.

prosesi pusaka

saya menulis  ini  setelah bangun  dari istirahat karena semalam ikut prosesi kirab pusaka di istana mangkunagaran surakarta. saya datang bersama adik karena diundang untuk mendampingi pusaka nomor 2

[entah diberi nama apa pusaka ini. demikianlah keheranan saya: pusaka kok tidak diberi nama dengan kyai sebagaimana selama ini saya kenal, tapi dengan  nomor].

pusaka  dalam  tradisi mangkunagaran  umumnya  adalah alat-alat bela  diri yang berupa persenjataan. tapi  tadi malam ada  juga  baju peninggalan pendiri wangsa mangkunagaran ini [mangkunagara I atau sering disebut sebagai pangeran samber nyawa]. artinya, konsep pusaka itu bisa luwes. karenanya maka bentuknya pun bisa berupa bermacam-macam benda. bisa alat pertanian [demikian yang berlaku di karaton surakarta yang bahkan menghadirkan sekeluarga kerbau di samping alat pertanian], bisa alat pertahanan [tombak, keris, pedang dsb.], bisa pula bangunan [misalnya masjid demak, atau makam imagiri]…

apa pun bentuknya, pusaka itu selalu berupa benda yang didapat karena mewarisi dari orang tua atau yang didapat dari nenek moyang. karenanya maka yang memilikinya berarti dianggap mendapatkan restu dari nenek moyang. dalam masyarakat  pertanian, gagasan untuk memiliki pusaka ini hidup menyertai gagasan tentang kontinuitas kelangsungan hidup suatu wangsa atau keluarga. suatu wangsa sebaiknya bisa beranak-pinak makin banyak dan hidup terus selama mungkin. dalam ingatan dengan atau tanpa bantuan alat-alat pengingat yang disebut pusaka tadi.

saya menulis ini sambil mengingat, seorang nenek di fatumnasi yang wafatnya menyiptakan arakan panjang orang-orang sedesa yang melayatnya. berkelompok-kelompok mereka melayat orang tua papa yang tidak bisa meninggalkan apa-apa ini. di jenazahnya, berlembar-lembar  kain tenun adat dipersembahkan orang-orang sedesa baginya,  juga  bagi anak-cucu yang ditinggalkannya.  bagi keluarga ini gagasan tentang  pusaka  tentu berbeda  dari orang pedalaman jawa yang semalam mengarak pusakanya di hadapan ribuan orang yang menyemut berdiri di kiri-kanan yalan yang dilewati.

api di umekbubu

barusan diskusi dengan teman-teman mengenai api dan ruang.
sudah diketahui bahwa perapian merupakan pusat dari kegiatan merumah. di sekitarnya berlangsung kegiatan yang membutuhkan terang, panas dan kehangatan darinya.
api diperlakukan sebagai sumber dari hal-hal tadi. semakin mendekat, semakin kita mendapat. dan semakin menjauh semakin menyusutlah yang kita dapat.

relasi sosial yang diakibatkan dari rumah yang berpusatkan api ini jelas adalah relasi yang berpusatkan pada orang-orang yang dianggap sebagai sumber. orang-orang yang punya lebih banyak pengalaman hidup, yang tidak lain adalah orang-orang tua.

belum ada 1o hari lalu saya tidur dan berdiskusi di dalam rumah pak ande [andreas] di desa fatumnasi. rumah yang lebih rendah dari tinggi badan saya sendiri ini juga berpusatkan di api. tempat semua anggota keluarga -termasuk ayam dan 2 ekor anak babi- berkumpul di dekatnya mengharapkan kehangatan.

dinding bulatnya, maupun keempat tiang penyangga lantai atas dan permukaan bawah lantai atas tadi semuanya berselimutkan jelaga. berkilat-kilat dengan bau kayu bakar yang khas. juga jagung-jagung yang dikeringkan dengan digantung, dan segala perabot dapur serta rumah tangga berselimutkan jelaga.

dapur? tidak ada dapur di sini. satu ruang untuk segala keperluan. ruang tunggal ini belum dipecah-pecah oleh nama kegiatan yang menggunakannya. ada -memang- pembagian tempat, tapi tidak ada pembagian ruang.

api yang mampu menembusi ruang dengan intensitas yang semakin jauh semakin redup ini juga membuat ruang semakin dekat ke api semakin utama, semakin publik. dan sebaliknya, semakin ke luar semakin gelap, semakin privat. di ruang-ruang tepi itulah berbagai keperluan privat juga dilangsungkan.

di rumah ini, kami tidur dan berlindung dari udara luar yang menggigilkan.

rumah bulat di batu tua

nama desa ini fatumnasi, yang menurut pak lambert oematan, bisa diindonesiakan sebagai batu tua. nama suatu desa di lereng bukit mutis, di timor. kadang kala,  nama fatumnasi bisa diartikan sebagai batu berjenggot, entah apa maksudnya. tapi di sana memang adanya batu melulu. dan di hutan lindung gunung mutis itu, pohon-pohon banyak yang batang dan rantingnya berjenggot. bersulur-sulur di sekujur batangnya.

saya ke sana, karena didorong ingin tahu lebih lanjut tentang rumah adat orang timor. orang-orang gunung yang menamakan dirinya sebagai atoni pah meto. orang-orang dari tanah kering, begitu bila diindonesiakan nama diri tadi.

rumah-rumah di fatumnasi umumnya terdiri  dari dua buah struktur bangunan. rumah bulat, yakni rumah induk, dan istanis, atau rumah depan. rumah bulat [umekbubu] adalah rumah asli mereka sebagai orang gunung. berdenah lingkaran dengan diameter sekitar 6 meter dan tinggi bangunan juga sekitar 6 meter, rumah ini memuat segenap kebutuhan tinggal dan menetap orang-orang timor.

sedangkan istanis adalah bangunan persegi panjang, berukuran sekitar 5×6 meter, dengan dinding dari pelepah dauh lontar yang disusun berderetan membentuk pola larik-larik vertikal. di sini mereka menerima tamu, dan juga membuat kamar untuk sehari-hari di musin panas. istanis bisa ada bisa tidak dan bila ada maka ia selalu diletakkan di depan atau di samping rumah bulat. ini pertanda bahwa struktur ini memang datang belakangan. dibuat belakangan.

dengan bentuk rumah bulat yang seperti itu maka bisa dimaklumi bila pengembangan suatu rumah adalah berarti penambahan struktur baru di halaman rumahnya. bentuk bulat itu sulit dikembangkan atau diperluas dalam dirinya.

pernyataan dari alun-alun yogyakarta

orang jawa kalau mau memerlihatkan keajaiban atau kekuasaannya, lihatlah apakah dia bisa menghentikan hujan.

dan tadi pagi kota yogya memang hujan, deras dan lebat sehingga kami bisa menikmati udara bersih karenanya. sesiangan hujan deras, padahal semua tahu bahwa sorenya akan ada perhelatan besar di alun-alun.
dan percaya sajalah, saudara-saudara, hujan itu berhenti sendiri sekitar pukul 14.00-an, sehingga rombongan yang akan ke alun-alun itu bersuka cita. paling tidak, itu yang dirasakan oleh beberapa orang jawa yang ikut rombongan saya.
saya ikut bus C, dari rombongan A-F. penak. bareng orang-orang sederhana dan bermacam-macam warna kulitnya: ada tionghua, batak, sumba, jawa, manado, papua, toraya… ada yang ngerti dan banyak yang tidak. ini mau ngapain..?

jam segitu, sudah sulit masuk ke seberang barat sungai code [kraton yogyakarta dibatasi oleh sungai code di timur dan sungai winanga di barat]. kami berhenti di timur jembatan sayidan. dan setelah lalu lintas bisa diatasi, enam bis itu bisa menerobos masuk hingga ke depan bank indonesia. di situ kami semua turun.
berbaris dalam rangkaian tali rafia, kami masuk ke alun-alun, yang waktu itu sudah gempar oleh teriakan para koordinator lapangan yang memegang mikrofon dan mengajak untuk memilih sultan dengan kalimat-kalimat yang sering kali aneh dan sulit masuk di nalar. pokoke sultan didorong untuk maju jadi capres.

itu memang inti acara pisowanan agung ini: mendengar pemakluman sultan mengenai kesediaannya menjadi capres. dan sekitar pukul 15.45, setelah berbagai atraksi seni dan doa-doa, beliau naik mimbar dan menyatakan kesediaannya yang ditunggu-tunggu itu. saya mendengarkan dari jarak dekat, di sekitar pohon beringin kembar:

demi bakti saya pada ibu pertiwi, saya bersedia menjadi calon presiden tahun 2009

pernyataan itu diulang 2 kali, sambil mengajak khalayak membuat ikatan jari dari kedua tangan, membentuk simbol ‘persatuan’. dan khalayak bertepuk tangan, sambil bunyi-bunyian gamelan menyahut di sekitar kami.

begitulah, memang hanya itu. tapi, ini memerlihatkan bahwa beliau memang punya power. power ‘alusan’ yang diperlihatkan dengan datangnya orang-orang sederhana. walau pun, ada pula yang menyolok dalam perhelatan itu: adalah kehadiran simbol-simbol partai republikaN. di mana-mana.

entah siapa mereka…

beberapa menit setelah pernyataan itu, kami pun beringsut pulang, mengosongkan alun-alun, memencar keluar mencari bus masing-masing.

dan hujan lebat kembali menerjang…

apa daya, ini lodaya

kursi ini sama sekali gak ergonomik. dudukannya kurang maju, kurang luas buat bokongku. sandarannya pun kurang rebah, terlalu tegak. tidak enak buat duduk, tidak enak pula untuk tidur.

demikian keluh saya ketika mulai mencoba kereta lodaya kelas bisnis. seharusnya saya maklum, bahwa ini adalah kereta api di negeri berkembang. negeri yang belum bisa membiayai pelayanan publik dengan baik. belum lagi, asap rokok dan bau kaki yang gentayangan karena sia-sia dikibas-kibas oleh kipas angin di plafond. tidak pergi-pergi. bukan salah pengelola keretanya, tapi memang kebiasaan dari manusia penggunanya sendiri masih harus diubah.

meski demikian, meski pun batin ini mengeluh, tapi tubuh saya ini penurut. dengan berbagai penyesuaian maka tertidur pulalah awak ini meski sesekali terbangun karena pegal-pegal di bahu, pinggang dan kaki-kaki.

[mungkin, kereta jenis ini cocok untuk perjalanan jarak dekat saja. perjalanan siang hari sembari ngobrol dengan teman satu kursi. dan tidak cocok untuk perjalanan selama 8-9 jam antara bandung-yogya.]

rekan sekursiku berbusana putih. agaknya dia mengikuti aturan atau disiplin tertentu yang memaknai warna putih sebagai lambang kebersihan. tapi, kalau diamati lebih dekat, busana itu ternyata dekil. demikian pula jari-jari tangannya dan tas punggungnya, dekil alias tidak bersih.

dia memelihara LAMBANG KEBERSIHAN, tapi tindakannya itu tidak mengubah kebiasaannya. dengan kata lain: dia SEOLAH bersih, tapi KENYATAANNYA tidak. dia bermain-main dengan lambang tapi antara lambang dengan yang dilambangkan tidak nyambung. mirip dengan orang yang kendaraannya menyalip begitu saja tanpa aturan, padahal di kendaraaannya itu bergantungan dan bertempelan berbagai atribut keagaman.

kereta api ketika dikenalkan di jawa, dulunya memang bukan untuk orang pribumi. tapi untuk orang-orang eropa yang sudah punya kebiasaan yang cocok dengan pengoperasian modus transport ini.
kereta api adalah kendaraan yang meminta disiplin dari pengelola maupun penggunanya. bila masyarakat berjalan tanpa disiplin, atau yang disiplinnya tidak cocok, maka modus transportasi ini pun hancur. berbagai hasil teknologi modern bisa kita beli, tapi bila tanpa disertai penyesuaian kebiasaan ke yang baru, yang cocok dengan teknologi itu, maka yang terjadi adalah konsumsi belaka. tidak mengubah secara struktural pemakainya.

seolah-olah. yaa.. seolah-olah…

1 2