Archive of ‘essay’ category

kota malang menurut kroniknya stadsgemeente

Barusan pulang dari membuka Pameran Reproduksi Foto Malang 1939 di Bentara Budya, Yogyakarta. Sebelum sampai, sempat membaca berita meninggalnya Prof. Djoko Soekiman, pelopor studi tentang Kebudayaan Indisch.

Membicarakan Kebudayaan Indisch jadi relevan dengan pameran foto yang saya buka: yakni dengan kota yang dirancang oleh Karsten. Tokoh yang menyadari keberadaan masyarakat Indisch, dan yang menjadi inspirasi untuk perancangan kota untuk mereka. Malang adalah satlah satu kota itu.



Pada masa kini, banyak kota di negara-negara bekas jajahan menyaksikan penghacuran bangunan-bangunan lama. Umumnya adalah bangunan-bangunan yang dulu dibuat untuk kehidupan masa penjajahan.

Kita tadi menyebutnya bangunan-bangunan lama, padahal, bangunan-banguna yang dibuat pada abad XX itu oleh para sejarawan arsitektur digolongkan sebagai bangunan modern. Itu adalah masa ketika modernisasi mencapai kematangannya dalam menghadirkan ruang hidup dan gaya hidup kekotaan atau urban yang baru, tidak ada preseden sebelumnya.

Penghancuran bangunan kota salah satunya karena kita tidak punya dokumentasi mengenai nilai bangunan itu di masa lalu itu. Selain, tentu saja, karena absennya kemauan politis untuk merawat bangunan lama untuk kepentingan baru.

Keterputusan gambaran visual serta pemahaman kebanyakan orang mengenai kota sebagai ruang hidup yang telah ada dari masa lalu membuat perkembangannya jadi compang-camping, tidak kunjung ada integrasi yang makin melengkapi mozaik pengembangan kota. Keping-keping mozaiknya berserakan terus… dan terus menjalankan ritus penghancuran demi pemuasan pada yang baru.

Foto-foto yang dipamerkan ini berasal dari buku kronik dari dewan kota malang, yang mengambil rentang waktu sekitar 25 tahun. Stadsgemeente Malang ditetapkan menurut Staatsblad van Nederlandsch-Indie pada bulan Maret tahun 1914. Saya tidak tahu, apakah ada penerbitan serupa untuk rentang waktu sesudah 1939, mungkin tidak karena Jepang segera datang. Namun Dewan Kota ini pernah sebelumnya menerbitkan publikasi mengenai kota Malang dalam rentang waktu 1914-1934, yang terbit pada 1935. Tidak banyak foto di sana, tapi ada penjelasan mengenai rencana-rencana pembangunan kota dalam beberapa tahapanya.

Bicara mengenai publikasi perkembangan kota, saya masih kurang tahu pasti mengapa, pada awal abad XX itu orang rajin sekali membuat catatan mengenai kehidupan kota dan memublikasikannya. Tidak hanya tentang bangunan, namun juga keadaan demografi penduduk, komposisi pribumi dan orang eropa, tingkat pendidikan, fasilitas kehidupan kota modern, kesehatan, keamanan, transportasi, jaringan air bersih, pemadam kebakaran, pernataan pasar, jaringan selokan pembuangan, dsb. Ditambah, di tiap ada serah jabatan residen juga ada penerbitan mengenai kota dan penduduknya.

Bisa jadi, pada peralihan abad XIX-XX memang ada semacam booming publikasi. Baik tulisan maupun foto dan peta. Di akhir abad XIX sja sudah ada majalah profesi ahli bangunan [Indisch Bouwkundig Tijdschrift] yang sudah menyajikan foto-foto pembangunan bendungan di sungai Brantas serta peta-peta jalur irigasi dan pembangunan pelabuhan-pelabuhan di pesisir Utara Jawa.

Setahu saya, dewan-dewan kota besar lain juga melakukan yang sama, kita bisa melihat kronik serupa yang dikeluarkan oleh dewan kota batavia, bandung, semarang dan surabaya. Laporan yang disajikan umumnya mewah, tebal dan penuh gambar, peta, tabel, grafik yang mengesankan. Tidak heran bila banyak tulisan sejrah di masa kemudian mengandalkan catatan-catatan yang dibuat oleh mereka ini. Tentu dari kaca mata mereka juga.

Foto-foto yang dipamerkan ini hanyalah bagian dari publikasi laporan itu, dibidik dan disajikan menurut perspektfi penguasa kota pada masanya. Yakni ingin memperlihatkan kemajuan atau perbaikan yang mengarah ke pembangunan kota modern.

Ada yang menarik, sebagai bagian dari laporan kemajuan, foto-foto mengenai bangunan dalam kronik ini disajikan dengan teknik membandingkan: dulu dan sekarang. Suatu teknik untuk memperlihatkan apa yang berubah, seberapa cepat perubahan, bagaimana perubahan dilakukan, serta bagaimana evaluasi atas perubahan itu. Pada masa itu, fotografi telah dimanfaatkan sebagai alat untuk mengambil keputusan perencanaan kota serta alat untuk evaluasi perkembangan kota. Pemerintah kota giat memotret perubahan atau perbaikan fasilitas kotanya dan memublikasikannya ke warga.

Dari sisi itu kita bisa belajar dari pameran ini.

Kita pada masa kini telah dimanjakan dalam urusan produksi dan persebaran informasi. Media sosial secara cepat dan langsung dari tangan pertama menyajikan fakta-fakta di lapangan. Berbagai alat dokumentasi juga berkembang pesat, baik untuk membuat peta, membuat foto… bahkan ada drone segala… Demikian pula media persebaran informasi lewat blog, facebook, instagram, twitter dan grup-grup WA disebar banyak sekali informasi dari tangan pertama, yakni warga sendiri, megnenai perkembangan kota-kota kita.

Sayangnya, informasi yang berlimpah itu tidak kita kelola, seperti kronik yang dipamerkan kali ini, untuk menjadi alat kontrol pembangunan kota. Semoga pameran ini menyadarkan kita semua, baik yang di Balailkota maupun kita semua sebagai warga kota, untuk membangun komunikasi yang konstruktif mengenai kota yang kita sayangi ini.


liputan tentang acara ini bisa diikuti di:
satuharapan dot com

meluap ke jalanan kota

ini hari terakhir puasa.

biasanya jalanan macet, tapi hari ini sepi…
seperti hari-hari biasa.

mungkin masih menahan diri.

tapi takbiran nanti malam biasanya ramai oleh pawai…
kegembiraan orang meluap ke jalan-jalan.

tak tertahankan lagi
mungkin bakal memacetkan jalanan kota

daleman di luar

di musim kemarau ini, banyak tetangga yang menjemur daleman di jalan depan rumahnya.maklum, disain rumah-rumah mereka memang tidak memberi tempat untuk menjemur pakaian di dalam halaman sendiri. sempit dan dihabiskan untuk rumah.
saya tidak secara detil memperhatikan daleman tetangga itu, meski pun itu mereka gelar sendiri di ruang publik.
tapi, barangkali memang masyarakat kita punya tenggang rasa yang spektrumnya lebar.
hal-hal yang di buku-buku [termasuk buku-buku suci dari luar itu] dianggap tabu, di tempat kita ini bisa dimengerti. lha memang kahananok…
bukan pula hendak berlaku hebat -kayak superman, misalnya, yang pakek celana dalemnya di luar- kami biasa saja dalam menjalin harmoni dengan kondisi lingkungan.
iya,
kahanan, keadaan, atau: kondisi riil yang mengharuskan kami memilih menjalin harmoni dengan alam. itu murah dan aman. itu pula yang diajarkan dan dipelajar dari tradisi.
kami tidak menyimpan hal-hal privat di ruang kecil atau ruang khusus.
tapi di sini: di hati!

nyampah

semalam,
malioboro sudah nampak kumuh lagi oleh sampah. sama seperti hari-hari ketika kota ini penuh.
jadi,
agaknya perkara produksi sampah memang dekat dengan mentalitas kebanyakan orang, yang ingin membersihkan diri dengan membuang kotoran ke tempat lain, membersihkan interior mobil dengan membuang tissue dan kulit buah ke luar jalan, menyapu halaman dan membuangnya ke halaman orang.
mungkin juga dekat dengan kehendak menyucikan diri dengan menyebut orang lain kotor, najis, kafir, gedibal pitulikur.,.dan sejenisnya.

druhun tenanok!

mudik sebagai arus balik

menyeberang jalan wonosari semakin sulit hari-hari ini.
kepadatan semakin tinggi, jenis kendaraan yang lewat semakin beragam bentuk, ukuran dan kecepatan sehingga sebagai penduduk sana saya malah kerepotan bila hendak keluar dan masuk perumahan.

rupanya arus mudik sedang berlangsung. berangsur-angsur datang dari kota besar, dan seperti air sungai yang berbalik arah, arusnya merasuk ke cabang-cabang di hulu yang lebih kecil.

udik, atau tempat-tempat terpencil yang selama hari-hari biasa sepi ditinggal penghuni, sekarang berangsur memadat diisi kembali orang-orang yang pulang.

arus balik itu arus yang tidak normal.
yang normal adalah dari udik ke hilir. dari udik ke muara.
itulah arus dunia produksi.

tapi hari-hari ini arus itu berbalik: dari hilir mudik.
ini arusnya orang-orang yang sedang berefleksi.
kembali ke asal. mengukur perjalanan sudah sejauh mana ia mengalir.

perjalanan hidup memang aneh: hilir mudik, kerja-refleksi.

1 2 3 81