Archive of ‘essay’ category

tangan dan kewenangan

foto diambil dari http://bit.ly/2rP26cP

seorang kawan [yudhi ahmad tahjudin] bertanya di status facebook dia, mengenai perubahan cara orang mencium tangan: mengapa sekarang tidak dikecup tapi disentuhkan pada pipi atau dahi?

saya tidak tahu jawabnya, tapi saya malah tertarik mengenai kebiasaan cium tangan itu sendiri.

cium tangan saya ketahui pertama-tama dari tradisi gereja. di situ, ketika orang mencium tangan, ia mencium cincin jabatan yang dikenakan oleh orang yang dicium. seorang uskup -misalnya- memiliki cincin jabatan sebagai gembala, demikian pula bapa paus di roma, mereka memilki jabatan khusus yang -katakanlah- menentukan hidup-mati umat. jabatan yang amat penting, sehingga menghormatinya adalah dengan mencium cincin jabatannya.

dalam terang pemahaman itu, tidak terlalu mengherankan bila juga dikenal kebiasaan mencium tangan guru, kyai, atau orang-orang yang dianggap lebih tinggi posisinya. mencium tangan adalah mencium atau menghormati jabatan, kewenangan bagi yang diciumnya. dengan atau tanpa cincin di tangan tadi.

sementara, kewenangan atau jabatan itu adalah prestasi, buah karya, buah dari ngasta, buah dari pekerjaan yang dilakukan sebelumnya. sehingga bisa dimengerti bila ketika kita mencium tangan, kita menghormati kerja, karya. usaha manusiwi untuk mengolah dunia yang kotor ini agar jadi tempat nyaman yang manusiawi.

mencium, tidak jauh dari pengertian mengendus, membaui dengan hidung. Namun, mencium juga berarti mengecup dengan bibir. namun pada masa kini, kita menjumpai tindakan mencium yang tidak menggunakan hidup maupun bibir. mencium tangan seorang guru, dulu dilakukan murid dengan menempelkan hidung atau bibir pada punggung tangan guru. sekarang punggung tangan guru itu ditempelkan pada kening atau pipi. lokasinya pindah, dari sekitar hidung dan bibir, lalu meluas ke kening atau pipi.

apa penyebanya?

saya tidak tahu. barangkali kesadaran baru akan higiene, ketika orang menyadari bahwa bekerja itu akrab dengan kekotoran, kekalutan, chaos, yang harus ditangani, ditata, diatur, ‘dibersihkan’ agar menjadi lebih baik.

bisa jadi.

apa itu arsitektur?

menerima permintaan agar menuliskan apa itu arsitektur menurut pemahaman saya, itu sungguh tidak terpikirkan.iya, apa itu arsitektur? tapi juga, untuk apa kita merumuskannya? ada kepentingan apa?

kita orang nusantara tidak mengenal istilah arsitektur itu. kita punya rumah, bangunan-bangunan, tapi tidak menyebutnya sebgai arsitektur. bahkan lihatlah saya menggunakan istilah ‘bangunan-bangunan’ dalam kalimat sebelum ini.

kita menyebutnya bangunan, sebab itu merupakan produk dari aktivitas membangun: merangkai dan menegakkan unsur-unsur atau bahan-bahan yang lebih sederhana sehingga menjadi struktur yang lebih besar.
sedangkan kata wangun dalam bahasa jawa itu selain berarti membangu [ngawangun] juga berarti pantas, baik, indah. jadi, membangun itu menghasilkan produk yang selain tegak di muka bumi, juga pantas, indah, baik.

kalau pun dipaksa untuk mengatakan sesuatu tentang arsitektur, maka harus disadari bahwa istilah ini sudah melebar ke mana-mana. ke berbagai disiplin. kita bisa memahami ketika istilah ini masuk ke ranah ekonomi sehingga ada istilah “arsitektur APBN 2019”, juga di ranah teknologi informasi dikenal “arsitektur sistem komputer”. bisa ditambah juga dari ranah-ranah keilmuan yang lain, yang di dalamnya mengandung pengertian rangkaian, susunan, jalinan yang sistemik.
barangkali wewangunan -atau bangunan- itu pun bisa disebut arsitektur karena ia merupakan produk dari tindakan membangun sehingga rangkaiannya terhubung secara sistemik.

lalu, untuk kepentingan apa kita menelisik dan merumuskan [kembali] pengertian ini? apakah sedang berlangsung erosi pengertian arsitektur mula-mula? itu baik, karena itu tanda bahwa penghayatan kita sekarang tidak klop lagi dengan istilah yang digunakan. artinya lagi, ini tanda sejarah bergerak maju.

imagiri

bukit ini masih berkabut, seperti namanya.asal kita datang pada waktunya.
waktu memang berkuasa dalam menentukan kapan identitas itu tampil sepenuhnya.

pagi hari, ketika orang belum sepenuhnya bangun dan segar badannya, bukit yang di puncaknya tertata makam itu sudah diterobosi oleh cahaya matahari lewat ranting dan dahan yang menyaringnya.

di makam ini, pagi hari adalah momen yang berharga.
saya sendiri belum pernah ke sana malam hari.
barangkali sama kualitasnya.

yang jelas,
ketika kita bangun, keindahan imagiri pun bangun.

1 2 3 4 81