Archive of ‘reflection’ category

jokowi memang beda

jokowi 1 jokowi 2
majalah TEMPO menyajikan foto bagus tentang jokowi.
foto ini diambil ketika beliau sedang menunggu proses perbaikan tanggul KANAL BANJIR BARAT di daerah latuharhari, jakarta.
fotonya dengan jitu menemukan momen ketika orang beliau sedang cemas, geregetan, dengan sikap badan jongkok.

sikap ini tergolong “ndesa”, karena tidak memedulikan jabatan dan posisi sosialnya.
beliau mengistirahatkan badan dengan jongkok di tempat. bukan duduk di tempat yang bersih atau pantas.
spontan ia merendahkan badan di tempat ia berdiri.

sikap ini berbeda dari orang-orang lain di situ.
lihatlah,
hanya beliau yang melakukannya.
mungkin beliau memang berbeda dari orang-orang yang sama-sama berada di tempat yang sama.
karena berbeda itulah maka beliau menjadi sasaran kamera wartawan.

momen ini berharga, karena dalam waktu yang mungkin sebentar, memperlihatkan perbedaan kultur antara beliau dengan orang-orang lain di sekitarnya.

banijr

air
di mana-mana
juga di mata

peta banjir jakarta dari kedutaan besar australia

kekejaman agama

dulu pernah orang-orang “abang” disuruh jadi “putih”.
bila tidak bisa mengucapkan beberapa rumusan yang ditentukan maka darah tertumpah. maka terjadilah eksodus besar-besaran: pindah agama.
kemaren saya ketemu dengan salah satu dari mereka yang kini bekerja sebagai tukang batu. sudah lumayan sepuh.
tidak semua hal diingatnya, dan celakanya lagi, dia enggan mengungkit-ungkit masa lalu.
yang saya ingat dari obrolan dengannya:
tiyang agami niku kejeme saged ngungkuli sing mboten gadhah agami
[orang yang mengaku beragama itu kejamnya bisa melebihi mereka yang tidak beragama]

memberi dan menerima

kopi ini lama mengendapnya.
bukan kopi jenis yang biasa saya seduh tiap paginya.
mungkin terlalu lembut digiling?
atau, mungkin terlalu lembab menyimpannya?
ah, saya tidak tahu pasti.
tapi yang pasti saya mencoba menyeduhnya pagi ini.
tanpa mengeluh karena kebiasaan saya berubah karenanya.

kopi ini pemberian teman,
buah dari saling memberi.
saya mendapatkan kopi kalosi, dia mendapatkan moka arabika.
saya menerima saja pemberian dia.
karena, agar suatu pemberian itu sempurna, harus ada penerimaan.

1 2 3 6