Archive of ‘video music’ category

boundaries

O’er the green mountains and
O’er the green valleys
I’ve walked through the country
And felt me an age
A people so strong
They resist for so long
The boundaries that hold them

Children can sing of
the coming of Spring
A young man can’t defend
What he knows to be wrong
Women so strong
Needing peace for so long
The homelands lay broken

So the refugee walks such
a long lonely road
As the weak will die off
Make the young people old
To redeem a whole country
For selling its soul
To the bastions of war

So the refugee walks such
a long lonely road
As the weak will die off
Make the young people old
To redeem a whole country
For selling its soul
To the bastions of war

Weep a fresh tear for the mass graves
I fear won’t be long
As the young perish fast the land
Wiping the tears from the young
Gifted years, the millions lay down

O’er the green mountains and
O’er the green valleys
I’ve walked through the country
And felt me an age
A people so strong
They resist for so long
The boundaries that hold them

sajak putih

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…

saya suka penampilan video musik ini, paling tidak karena:

  1. mungkin karena puisinya sendiri belum habis saya pahami [atau, tidak habis-habisnya saya pahami?].
  2. tampilan di videonya yang meminimalkan puisi ini dari visualisasi penyajinya [cuma menampilkan mata sepanjang lagu] bikin puisi ini tetap sebagai untaian kata berlagu, berirama dan berenergi tapi jelas disuarakan oleh seseorang. konsep video seperti ini bikin penasaran ajah…
  3. berikut, tema musiknya begitu sederhana, seperti mantra, bisa diulang-ulang.
  4. suara mbak ade tanesia, penyanyinya: lugu, begitu biasa, asli, otentik..

nina bobo

seneng saja lihat ada orang asing menyanyikan lagu tradisional indonesia ini.

mungkin begitu ya, kita baru menaruh penghargaan SETELAH orang asing memberikannya dulu.

chopin larung

sudah lama saya terkesan dengan lagu indah karya GURUH SUKARNOPUTRO ini, tapi barusan mendapatkan liriknya.
chopin adalah musisi romantik dari polandia, lahir dari keluarga campuran prancis [ayah] dan polandia [ibu] [nama chopin diucapkan sebagai syopang].
ini adalah lagu keluhan mengenai rusaknya budaya bali oleh karena ketidaktahuan orang bali sendiri akan bahayanya pengaruh luar yang tidak diseleksi.

mungkin begitu maksudnya. silakan simak sendiri teks lirik dan lagunya.

CHOPIN LARUNG

Yen Chopin padem ring Bali (Jika Chopin meninggal di Bali)
kerarung saking Daksina (dihanyutkan dari Selatan)
Titiang mengenang Bali (Diriku mengenang Bali)
sunantara wong ngrusak – asik negara (sementara orang mengganggu negara/bumi)

Sang jukung kelapu – lapu (Perahu terombang-ambing)
santukan Baruna kroda (karena dewa laut murka)
Nanging Chopin nenten ngugu (Namun Chopin tiada memahami)
kadang ipun ngrusak seni – budaya (kadang bangsanya merusak seni budaya)

Risedeg sang jukung kampih (Ketika sang perahu terdampar)
ring Legian – Kayuaya (di Legian-Kayuaya)
‘te – lonte ring sisin pasih (pelacur di pinggir pantai)
anak lacur melalung ngadolin ganja (orang miskin telanjang menjual ganja)

Chopin ten uning ring Bali (Chopin tidak tahu mengenai Bali)
wong putih mondok ring Kuta (orang putih (bule) tinggal di Kuta)
Asing lenga lali ring Widi (Lupa pada Tuhan)
tan urungan jagi manemu sengkala (tak urung bakal menemui malapetaka)

Gending Chopin maring ati (Lagu Chopin di hati )
nabuhang wirama duka (melantunkan irama duka)
Duh nyama braya ring Bali (Duh, saudara-saudara di Bali)
dong sampunang banget nunaning prayatna (tolong jangan terlalu…..)

1 2 3