ketertiban dan yang di luarnya

stasion ini juga bising, meski tertib dan bersih.
bising oleh mesin kereta [api] listrik yangberjalan tanpa api lagi.
hanya,
kebisingan ini tidak menjalar masuk ke dalam kereta. kebisingan ini tertinggal di emperan peron stasion, ganti berganti karena di sinilah kereta berangkat dan pergi ditingkahi suara peluit crew stasion di tiap pemberangkatan tiap kereta. gerbong itu seperti kontainer yang mengisolasi kami semua dari interaksi di luarnya: yang di dalam hanya bisa diam, menurut pada maunya kendaraan yang berjalan karena sistem yang tertib sempurna ini.

baik ketika berangkat mau pun ketika sampai di stasion berikut, saya lihat ada orang tua yang meminta-minta [wekk, di negeri sekaya ini ada saja orang meminta-minta!]
yang pertama, dia berdiri di sisi mesin ticket.
orangnya tua, perempuan berambut pendek putih semua dan bungkuk [begitu banyak orang tua dengan pinggang bungkuk di kota ini]. ia meminta sesuatu dari tiap orang yang selesai memencet-mencet mesin pencetak ticket.
saya tidak kebagian dimintainya, mungkin dia tahu saya tidak akan mengerti bahasanya. tapi, hampir semua orang juga tidak memedulikannya. hanya ada satu-dua bapak-bapak berjas hitam yang memberikan receh kembalian dari mesin ticket tadi kepadanya.

yang kedua, di stasion berikutnya.
kami berhenti di situ, dan sambil menanti rekan yang lain, adalah terlihat orang yang saya lihat berkeliling plaza stasion itu dari tadi. dari ketika saya datang hingga ketika rekan kami datang, dia berjalan, seolah ada yang menyibukkan dia. tangan kirinya membawa semacam thermos atau penyimpan air, sedangkan tangan kanannya membawa sepotong kayu entah dari mana dan untuk apa. busananya tidak keruan [sebenernya banyak juga anak muda yang modis dengan busana tidak keruan di sini. tapi berbeda dari bapak tua ini]: baju ada yang masuk, tapi tidak semuanya. sepatu kiri tidak ditalikan seperti yang dikanan.
rambut tidak disisir [sebenarnya, banyak juga orang muda yang rambutnya acak-acakan, mode yang modis. kayak yang ditampilkan di manga dengan rambut jabrik awut-awutan. tapi beda dari bapak dengan rambut putih semua ini]

kalau di tanah air, kami menamainya gelandangan. tapi tidak tahu di sini, apakah hal itu juga [diakui] ada dan diberi nama? atau, justru adalah sumber inspirasi bagi mode anak-anak muda di sini?
he..he.. saya tidak tahu.
tapi,

dari kejauhan jarak kultural, justru saya melihat pola, bahwa ada yang tunduk pada ketertiban dan ada pula yang tidak bisa ikut ketertiban itu. bisa karena sengaja untuk mendapatkan suasana lain di luarnya [dengan melawan ingin didapat inspirasi baru?], bisa pula karena tidak berdaya [mengalah dan meminta belas kasihan].

sorenya kami pulang. lewat sebuah taman yang tanpa penjaga dan mampir ke toiletnya… ya ampun! bila di stasion tadi toilet berbau wangi parfum, di taman ini toilet berbau ‘harum’ oleh buangan orang-orang makmur yang menu makannya penuh protein….
jadi,
taman yang diperuntukkan bagi siapa saja ini justru seperti sisi lain dari ketertiban tadi. rupanya, kekuasaan untuk mengatur hanya berada di tempat-tempat tertentu saja. masih ada ruang luas berlimpah-limpah yang belum dan tidak terjamahnya.
akankah ruang di ‘luar’ itu hendak kita kuasai, jinakkan, adabkan, tertibkan sehingga seluruh dunia ini menjadi satu dalam ketertiban tunggal?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *