theklek

1.
theklek dua pasang itu dipasang menghadap keluar.
saya merasa, agaknya siang itu sang pemilik masih di dalam ruang.

cara meletakkan theklek itu juga seperti berpihak pada yang ada di dalam; terpasang dalam posisi siap digunakan oleh orang dalam yang mau keluar.
bukan sebaliknya.

tapi saya mengambil gambarnya siang-siang.
yang bagi ukuran orang normal sudah selayaknya orang tidak tinggal dalam kehangatan ruang dalam, tapi keluar, bekerja menggarap alam.

mungkin saya memahaminya sebagai orang yang dibesarkan dalam alam tropik, di mana orang lebih banyak menjalankan pekerjaan di luar ruang.
sehingga melihat theklek ini lalu timbul macam-macam pertanyaan.
pertanyaan orang yang terheran-heran pada perilaku orang dari alam lain.

melihatnya, saya merasa jadi orang luar,
sementara yang di seberang ambang pintu itu, garis liminal itu, adalah orang dalam. orang yg hidupnya sehari-hari berada dalam lingkupan bangunan pembungkus.

siang itu,
duapasang theklek yang dipasang menghadap keluar dekat ambang pintu itu, menegaskan perbedaan dua ruang dan dua alam: sana dan sini, mereka dan kita, dalam dan luar…

2.
kehadiran theklek itu tidak bisa sembunyi-sembunyi.
ketika ia berfungsi, ia berbunyi.
dan dari bunyinya itulah ia mendapatkan nama: theklek.

orang belanda menamainya klompen.
entah dari mana penamaan itu berasal.
tapi orang jawa yang tidak punya tradisi beralas kaki, ketika menjumpai alas kaki yang dikenakan orang arab, cina dan eropa, menyerah dengan menamai benda itu seturut dengan bunyinya.

menamai sesuatu dari bunyinya itu tergolong biasa dilakukan oleh banyak bangsa, sebelum bunyi tadi dipindah ke aksara, menjadi lambang-lambang grafis yang lebih stabil bentuk dan kandungan maksudnya.

orang jepang, melanjutkan warisan dari cina, memilih memelihara tradisi tulis mereka. aksara mereka itu stabil pengertiannya, atau dengan kata lain, aksara mereka itu melestarikan kestabilan hubungan antara lambang dengan maksud yang dilambangkannya. meski pun suatu aksara itu diucapkan secara berbeda-beda dari tempat satu ke tempat lain. dari jaman satu ke jaman lain.

menyadari pentingnya aksara, orang jawa memelihara kisah ajisaka yang mengenalkan aksara-aksara derivat dari india. sejak itu, ruang jawa terbuka. sejak dikenal tulisan maka bunyi-bunyi hanya beredar di kalangan privat. dan aksara yang lebih panjang usianya membikin pengertian lebih stabil, perintah raja bisa lebih luas sebarannya, lebih lama pengaruhnya…

menguasai tulisan, adalah menguasai juga ruang danwaktu.

2 Comments on theklek

  1. Epi Paris
    June 28, 2009 at 12:26 pm

    kalo orang Dayak jaman dulu, gak pake theklek atau sebangsanya (alas kaki) sehingga ketika ada atau tidak adanya mereka di dalam rumah tidak diketahui.
    Itulah sebabnya pada setiap tangga (bawah) rumah selalu disiapkan sebuah wadah berisi air untuk mencuci kaki karena tidak ada perbedaan menggunakan alas kaki di dalam atau di luar ruangan.

  2. anto
    June 28, 2009 at 4:31 pm

    terima kasih epi.
    informasi anda menarik, karena menegaskan bahwa budaya menggunakan alas kaki itu rupanya dipelajari dari persentuhan dengan budaya lain.
    orang nusantara dengan alam yang tropiknya, lebih leluasa bergerak dengan kaki telanjang.
    nama-nama yang kita berikan pada alas kaki itu -entah yang berupa alas kaki sementara seperti sandal, atau alas kaki yang dipakai lebih lama seperti sepatu- itu semua berasal dari kata asing.
    selop, trompah, sepatu, sandal, itu semua istilah-istilah asing yang dipungut lalu disesuaikan pada lidah lokal kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *