dinding

lagu ciptaan the scorpion dibikin ketika dinding pemisah ruang di kota berlin selesai diruntuhkan. ketika elemen arsitektural pemisah itu tidak lagi berfungsi, karena kedua belah pihak yang semula terpisah olehnya, kini telah sepakat untuk menyatu.

seandainya kedua belah pihak itu tetap berkukuh pada perbedaan pendiriannya, maka dinding itu akan tetap dipertahankan berdiri di tempatnya. dinding mewakili pemisahan, mewakili perbedaan. adalah pembatas ruang yang definitif.

lagu “the wind of change” jadi semacam monumen karena menandai perubahan itu, dari terpisah menjadi saling merembes untuk menyatu, terembus oleh angin kencang perubahan.

lain halnya dengan pemisahan antara israel dan palestina. dua bangsa yang serumpun itu kini semakin menegaskan perbedaannya. paling tidak, demikianlah yang terungkap dari video yang memerlihatkan proses pembangunan dinding beton panjang yang meliuk-liuk memerangkap pergerakan orang agar hanya berada di tempatnya saja, tidak melebar, meluap ke mana-mana.

pembangunan dinding ini memerlihatkan kepercayaan bahwa dinding adalah sarana terpercaya untuk menyatakan pemisahan. bahwa itu tidak efektif lagi untuk mencegah peluru kendali lewat melampauinya, tidak jadi soal. karena yang didirikan adalah suatu simbol, yakni simbol pemisahan. dan mungkin juga simbol kebencian, seperti judul yang dipakai oleh video sepanjang 8 menit itu.

orang bersusah payah, dengan biaya luar biasa mahal, untuk mendirikan simbol. dan sepanjang sejarah, belum banyak yang mencoba untuk menafsir makna dinding sebagai pemisah ini.  yang dilakukan hanyalah memberi bentuk yang berbeda, tapi muatannya tetap dipertahankan, bahwa dinding adalah pemisah.

di jepang, ada penulis terkenal di paro abad XX –junichiro tanizaki– yang mengisahkan bahwa dinding rumah petani jepang itu diafan, yang memungkinkan hubungan luar dan dalam itu seperti hubungan osmosis yang saling meresap. beda dari dinding kastil para shogun mereka yang tebal dan berfungsi untuk bertahan dari serbuan musuh.

dinding di tepi barat, mau pun di kastil jepang memang dibuat dengan kepercayaan bahwa penguasaan ruang adalah perkara kekuasaan. juga di berlin, demikian pula benteng-benteng kota lama -termasuk yogyakarta- baik yang sudah runtuh maupun yang masih tegak, merupakan simbol kekuasaan itu.

ada yang masih utuh, ada pula yang sudah runtuh. ada yang utuh karena kekuasaannya sendiri memang masih bertahan, ada pula yang utuh karena dibikin utuh oleh aktor yang lain, kapitalisme industri pariwisata, misalnya.

dinding itu, runtuh atau utuh, masih saja menyimpan ide tentang pemisahan dan penguasaan. divide et impera? huh… embuh!

2 Comments on dinding

  1. ESP
    July 1, 2009 at 3:34 pm

    Kantor saya pindah ke lokasi yang lebih strategis, new high rise building, dan tentu interior baru, yg konon aliran post-modern atau embuh aliran apa.

    Ruang kantor seluas 1 lantai penuh, yg tentu mahal, dan tanpa dinding. Hanya direksi dan 4 ruang meeting yg berbentuk ‘room’, sedangkan yg lain tergeletak di ‘aula’ tadi, tidak peduli dia junior-staff ataupun General Manager.

    Untuk menjaga privacy, yg toh tidak berhasil, antar workstation ditata berjauhan, yg malah boros ruangan. Di antara workstations ada meja bulat yang dimaksudkan untuk rapat kecil.

    Setiap ada yg bertelepon atau berdiskusi atau bercanda, suaranya terdengar oleh tetangga hingga radius 7 atau 8 workstation. Setiap ada yang makan atau bawa sesuatu, akan terlihat dari seluruh ‘aula’. Saya merasa terganggu konsentrasi dan kurang privacy.

    Saya kehilangan manfaat dinding partisi …..

    =ESP=

  2. anto
    July 1, 2009 at 5:54 pm

    he..he..
    dinding adalah penanda batas-batas privacy, atau ruang kekuasaan seseorang. batasnya sendiri bisa abstrak bisa nyata. bisa hanya dalam bentuk ‘kesan’ tapi juga bisa nyata bisa dipegang-pegang.
    ada orang [atau bangsa] yang menuntut batas itu [atau partisi itu] berwujud nyata. tanpa itu mereka tidak merasa nyaman. tapi ada pula orang yang bisa merasa nyaman, meski batas-batas privacynya gak nyata.
    anda dan saya tumbuh dalam alam yang membutuhkan kejelasan batas privacy.
    saya juga gitu,
    blas gak bisa kerja kalau masih berada di ruangan terbuka tanpa sekat itu. tapi, sebaliknya, teman-teman saya ada yang bisa enjoy kerja di tempat seperti itu…dan produktif lagi..!
    nganyelke tenan, kerja dengan heterogenitas tinggi seperti ini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *