gempa tidak membunuh orang, yang membunuh adalah bangunan

buku ini menarik dan mengesankan saya pribadi, meski sampulnya tidak menarik sama sekali. tapi, orang bilang “jangan menilai buku dari sampulnya”. dan semula saya memang agak merasa terpaksa ketika kali pertama menurut untuk mulai membacanya.

yang mulai memikat adalah bab pertama, introduction. bab ini menempatkan tajuk gempa bumi dalam jalinan persoalan kultural. pergerakan alamiah bumi itu ditempatkan dalam setting historis yang genting di jepang, yakni masa modernisasi meiji. masa ketika jepang mendatangkan seperangkat gagasan, pengetahuan, peralatan, barang-barang dari barat.

di masa genting ini ada dinamika dalam membaca ulang warisan tradisi: penolakan, pelestarian, penggantian, penyesuaian.. ada sebagian orang yang merasa perlu untuk mengganti yang lama dengan yang baru, ada yang justru merasa perlu melestarikan yang sudah ada, dan ada pula yang lebih pragmatis untuk menyesuaikan seturut kebutuhan. termasuk dalam perkara ini adalah respons terhadap tradisi membangun dan pengetahuan tentang bangunan

gregory clancey [sejarawan, penulis buku ini] mengembangkan 2 peristiwa gempa bumi besar di jepang -satu di kawasan kanto dan satu lagi di noobi– sebagai titik tolak. gempa ini diliput oleh koran waktu itu sehingga ada kemudahan bagi peneliti untuk mengkaji dokumentasi peristiwa ini. dan buku ini menggunakan dengan bagus sumber-sumber pertama, selain koran tadi, tapi juga tulisan-tulisan sejaman sebagai respons peristiwa besar tadi. baik pandangan barat maupun lokal [tukang kayu tradisional jepang daiku dari dulu punya kebiasaan mencatat dan menggambar prosedur pembangunan kuil yang dibuatnya, dan para pembuat gambar cungkil kayu ikut membuat ilustrasi ttg peristiwa besar tadi].

gempa tidak membunuh orang, yang membunuh adalah bangunan-bangunan“, itu ucapan yang ada benarnya. gempa yang sebenarnya biasa dan sudah sering terjadi itu jadi peristiwa luar biasa karena begitu banyak kurban jatuh. dan itu bukan karena pergerakan tanahnya, tapi karena tertimpa batu dan bata dari dinding tembok bangunan di sana.

penggunaan batu bata dan dinding tembok ini ternyata panjang sekali urusannya. di masa meiji, datangnya ratusan insinyur dari inggris yang diundang untuk memodernisasi jepang, membawa serta gagasan mengenai bangunan dan bahan yang pantas bagi gagasan modern itu. penggantian bahan banguan dari kayu ke batu bata itu menimbulkan polemik hebat, di jepang ketika mereka berjumpa dengan tradisi luar.

bangunan kayu jepang dibaca sebagai “feminin, ornamental, temporer, rapuh, masa lalu, …” sedangkan bangunan eropa dibaca sebagai “maskulin, struktural, permanen, kokoh, modern, ...dst”

bangunan tembok batu bata adalah masa depan jepang“, begitu ujar bapak arsitektur modern jepang josiah conder. orang yang sangat dihormati dan patungnya masih berdiri di university of tokyo ini [konon, mahasiswa arsitektur sehabis wisuda sering berpotret di dekat patung beliau ini]. tentu saja, ini menimbulkan polemik.

pertama, justru polemik di kalangan orang barat sendiri, di jurnal-jurnal dan koran sejaman. di kalangan mereka ada juga orang-orang yang bersimpati pada arsitektur lokal jepang, dan berseberangan pendapat dengan conder.  tidak selalu dari arsitek, tapi bisa datang dari insinyur sipil atau yang lain. kedua, resistensi dari seniman cungkil kayu yang membuat ilustrasi peristiwa gempa itu. mereka menggambarkan bangunan-bangunan bata eropa itu rubuh berantakan, tapi di latar belakang nampak kokoh berdiri kastil tradisional milik shogun mereka!

pendeknya, peristiwa alam yang alamiah itu datang pada waktu yang siap untuk terjadinya perubahan-perubahan:

  • perumusan profesi arsitek dan bagaimana mereka harus dididik, berperilaku, berbusana hingga makanan apa yang harus disantapnya tiap hari.
  • re-evaluasi peran tradisional tukang kayu daiku, yang semula punya hak-hak sedemikian istimewa setara dengan pendeta.
  • menonjolnya peran media massa dalam mendokumentasikan dan menyebarkan gagasan baru.

clancey dengan bagus mengolah sumber-sumber tulisan yang sangat luas cakupannya itu, melintasi berbagai disiplin akademik yang lazim: arsitektur, seismologi, geologi, teknik-teknik perkayuan tradisional, hingga ke politik kolonial yang mewarnai sikap-sikap para insinyur pendatang itu.

pada hemat saya, nilai penting buku ini adalah ditemukannya suatu momen historis yang membawa perubahan pada masa-masa sesudahnya, yakni gempa bumi yang berlangsung ketika susasana masyarakat sedang berada dalam sentimen imperialisme dan nasionalisme.

bukankah ini mirip juga dengan di tempat kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *