the invention of “saru”

seharian kemaren menemukan beberapa artikel yang menggunakan judul “inventing” atau “invention”. sejak dari tulisan eric hobsbawmthe invention of tradition” hingga tulisan tentang lahirnya atau ditemukannya [kembali] pengetahuan-pengetahuan tertentu, tradisi, kebiasaan, adat tertentu. pada dasarnya, tradisi yang ditemukan ini adalah semacam konstruksi “masa lalu rekaan” sebagai respons terhadap situasi masa kini. memberi jawab terhadap masalah masa kini dengan menggunakan rumusan yang ‘seolah-olah’ kita warisi secara tradisional dari masa lalu.

dan hari ini saya menghadapi buku dengan judul “the invention of  pornography: obscenity and the origins of modernity, 1500-1800”  yang disunting oleh sejarawan perempuan lynn hunt. mengaku diinspirasi oleh serial buku foucault [the history of sexuality 1-3], buku suntingan ini merupakan hasil dari suatu konferensi dengan tajuk sama di pennsylvania, 1991.

kita tidak tahu secara pasti kapan pornografi lahir,  sebagaimana banyak pengetahuan lain juga tidak bisa ditetapkan kapan ia dirumuskan. tapi yang agak pasti, usaha membuat hal privat menjadi publik itu dimungkinkan oleh gairah rasa ingin tahu yang berkembang di sekitar renesans, pencerahan dan nantinya berkembang setelah maraknya industri media cetak. pendeknya, pornografi berhubungan dengan modernitas.

memang penempatan gambar alat genitalia atau aktivitas kopulasi secara terbuka itu sudah dikenal sejak jaman gerika kuna, dan di india bahkan lebih kuna lagi. tapi itu semua tidak sedang menyerempet-nyerempet kaidah sosial semasa. artinya, pornografi berkaitan dengan ‘ketidaknormalan’, dengan usaha melawan kenormalan yang meminta kebebasan. secara tegas penulis mengatakan bahwa [h.10],

although desire, sensuality, eroticism and even the explisit depiction of sexual organs can be found in many, if not all, times and places, pornography as a legal and artistic category seems to be an especially western idea with a specific chronology and geography. as a term in the modern sense, pornography came into widespread use only in the nineteenth century

pornografi juga berkaitan dengan adanya peningkata kontrol karena munculnya demokratisasi yang dinilainya ‘kebablasan’. dan buku ini menempatkan kasus-kasusnya, rusia, italia, inggris, belanda dan utamanya prancis di tahun-tahun awal modernitas pasca renesans: 1500- 1800. kurang lebih sejaman dengan pendirian candi sukuh di jawa tengah [1450-an].

pornografi mengambil tempat di perbatasan, antara kepatuhan dan pencarian alternatif terhadap suatu sistem norma. dan keberanian seperti ini sudah berlangsung di banyak tempat dan waktu. hanya berkat kapitalisme media massa saja maka persebaran ini jadi meluas dan menjadi suatu kategori pengetahuan tersendiri yang bernama promografi, eh…pornografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *