si ‘kancil’ nyolong permen

ada seorang anak, menangis di warung pak bon sebuah sekolah dasar, karena tangannya tidak bisa dikeluarkan dari dalam toples yang berisi permen di dalamnya.

genggaman tangan yang penuh permen itu tidak cukup untuk dikeluarkan lepas dari toples tadi. menangislah dia… disertai tertawa anak-anak kelas atas dan orang-orang sekitarnya. tambah menjadi-jadilah tangisnya karena ia merasa seperti dikeroyok oleh orang-orang yang tidak memahaminya. lalu, ibu kepala sekolah yang tahu kasus itu segera maklum dengan masalahnya. kepada anak tersebut berkatalah dia

genggaman tanganmu itu lepaskan saja, ambil permennya satu, nanti kan mudah buat tanganmu keluar..

si anak yang semula nekad mau mengambil permen itu banyak-banyak, melebihi harga yang cocok dengan duit yang diberikannya pada pak bon, akhirnya mau melepaskan genggaman tangan penuh permen dari hasil dia mbathi tadi, demi menyelamatkan tangannya.
sekarang tangannya selamat bisa keluar, tapi permennya cuma dapat satu.
apa boleh buat….

ibu saya menceritakan kisah itu kepada kami, anak-anaknya. suatu kejadian beneran yang beliau saksikan sendiri ketika beliau menjadi kepala sekolah di pasar beling, surakarta. kisah itu diceritakannya, dengan cara yang meyakinkan kami, tidak untuk melaporkan suatu peristiwa, tapi dimaksudkan -rupanya, baru saya sadari belakangan- sebagai cara beliau mengajar kami untuk berani mengambil keputusan. berani memilih satu dan meninggalkan selebihnya.

memang peristiwanya sungguh-sungguh terjadi, tapi ketika kisah itu dituturkan kepada orang yang tidak mengalaminya, maka kisah itu harus diatur lagi tekanan-tekanannya, dipilih lagi bagian-bagian pentingnya, disusun lagi agar cocok bagi kebutuhan pendengarnya. pendeknya, kisah itu bukan lagi peristiwanya sendiri. mungkin lebih dramatik, lebih menggugah, lebih dipahami oleh kami yang mendengarnya di tahun-tahun kemudian.

kisah yang kami dengar, adalah kisah yang sedemikian tadi, kisah yang disusun untuk anak-anak SMP yang menjelang remaja, yang jaraknya dengan peristiwanya sendiri sudah lebih dari 3 atau 4 tahun sebelumnya. kami, saya adan adik-adik yang tidak mengalami dan tidak melihat peristiwanya sendiri itu, hanya punya satu saja sumber untuk tahu kasus anak kecil nyolong permen tadi, yakni kisah yang kami dengar dari ibu.
kisah ini bila demikian halnya, bener-bener representasi. menggantikan peristiwanya sendiri tapi tidak bisa tepat sama. suatu ketidaktepatan yang mustahil dipulihkan tapi juga suatu keniscayaan bagi peristiwa itu agar diketahui oleh orang di waktu yang kemudian atau oleh orang di tempat lain.
demikianlah, kita selalu gagal dalam menangkap yang asli, atau yang dianggap benar-benar terjadi di masa lalu. kita hanya punya representasinya.

karena suatu kisah tentang peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi di masa lalu itu adalah sebuah kisah, sebuah hasil usaha sastrawi, maka ia pun tunduk pada kaidah-kaidah sastra.
bukti-bukti fisik yang berkaitan dengan peristiwa masa lalu itu pun tinggal kita temukan tidak utuh. sebagian besar sudah diboyong pergi oleh waktu… hanya sisa-sisa yang oleh usaha-usaha orang kemudian dirangkai, dihubung-hubungkan menjadi kisah baru. yang lebih meyakinkan, yang lebih menghasilkan pengajaran pada orang masa kini. jadi, kisah tentang masa lalu, atau kisah sejarah, tidak lain adalah sebuah usaha sastrawi.

kisah itu disusun tidak demi mendekati kesungguh-sungguh terjadiannya.

lha mana kita tahu bagaimana dulunya terjadi, bukankah yang kita tahu hanyalah yang sekarang kita hadapi?

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

1 Comment »

 
  • roos says:

    Setuju Om,
    Yah…dulu waktu kecil aku paling sering dapat marah dari Bapak, dan setiap “diujari”…aku terkesan tidak mau mendengarkan, sampai Bapak bilang; *mlebu kiwo metu tengen* atau maksudnya masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

    Tapi sekarang beranjak dewasa, aku malah memahami apa yang “diujari” Bapak dulu. Apapun cerita dimasa lalu selalu bisa membuat pelajaran dalam hidupku lebih berarti, Om. Sepertinya Ujar-ujaran Bapak dulu gak ada yang keluar…ngendap dan keluar setiap dibutuhkan…seperti ‘dielingke’…hehehe.

    Roos yang berusaha setiap waktu untuk lebih dewasa, tidak bisa menghilangkan sisi kekanakannya disebelah Bapak.

 

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>