perjalanan sepatu tua

sambil dalam perjalanan sala-yogya, rekan saya mas teguh santosa membuat foto dari dalam mobilnya.
kadang foto-foto itu dibuat ketika tengah berhenti, namun juga ada yang dibuat ketika laju kendaraan itu tinggi.
perjalanan 60 kilometer itu bisa cepat bisa lambat. bisa lewat begitu saja, tapi bisa juga kaya makna.

salah satu foto yang dibuat dengan cepat itu adalah foto orang tua dan sepatu-sepatu di depannya.
agaknya itu memang sepatu-sepatu lama yang dijual lagi.
kumpulan sepatu lama yang datang dari berbagai asal, yang meski punya keterbatasan tertentu karena usia, masih bisa berfungsi sebagai alas kaki. atau pun bila sudah rusak dan menyulitkan secara fungsional, sepatu-sepatu itu sudah direparasi, diperbaiki agar kemampuan fungsionalnya hadir lagi.

sepatu-sepatu dan penjualnya itu sama-sama sudah panjang usianya.
si sepatu, bila bisa lama usianya tentunya sudah merekam banyak peristiwa di dalamnya. dia menjadi catatan tak tertulis tentang jalan yang sudah dilewati oleh pemakainya. tebal tipisnya sol bisa kita pakai untuk mendugai apakah pemakai sebelumnya itu gendut atau kurus, berjalan pincang atau lurus. dari lekukan-lekukan kulit itu bisa kita baca perilaku pemakai sebelumnya. bahkan mungkin karakter orangnya. digunakan sembari menyepak-nyepak atau dipakai di alas lantai karpet. sepatu adalah barang personal yang begitu lekat pada tubuh manusia ketika manusia itu menjalankan operasinya dalam ruang dan waktu.

hal itu saya rasakan misalnya, ketika saya mengenakan teklek orang jepang, saya jadi bisa menghayati cara berjalan mereka yang cepat dengan langkah-langkah pendeknya.
sepatu tua, semakin tua dia, semakin kaya kisahnya….

demikian juga dengan bapak tua penjualnya. semakin panjang usia, semakin banyak asam dan garam kehidupan yang disantapnya. semakin kaya dia…

sayang,
kita sering memberinya atribut “bekas” pada keduanya.
bekas guru, bekas PNS, bekas camat, bekas apalagi…

demikian pula dengan sepatunya: sepatu bekas.

kita sedemikian senang dengan barang baru. orang jawa bilang dhemenyar, dhemen barang anyar, senang pada hal yang baru.
padahal, untuk hal-hal dan barang-barang yang bersentuhan dengan tubuh [yang tidak pernah ganti body, hanya berubah ukuran atau penampilan] pengertian “baru” di situ harus dibaca secara lain. sepatu itu barang personal, ia melekat di tubuh kita, karenanya ia juga merefleksikan kita penggunanya.

dalam barang-barang seperti itu, meski perjalanan hidup kita seolah semakin bergegas saja, kita bisa berhenti sejenak. ambil momen sebentar untuk melihat-lihat diri melalui refleksi padanya.

bagi saya, momen yang dilihat mas teguh dalam perjalanannya itu sungguh monumental: penting dalam aliran waktu.

2 Comments on perjalanan sepatu tua

  1. wongeres
    October 2, 2009 at 12:22 pm

    Benar sekali, Pak Anto. Meskipun melihat sebuah sepatu dalam rangka “mendugai” pemiliknya rasanya tak cukup hanya menggunakan satu asumsi saja. Soalnya, sebagai barang personal yang bisa dilepas-pasang, sepatu tak hanya mewakili kebutuhan fisik, melainkan juga prestise, bahkan impian pribadi pemakainya. Seorang wanita gendut-pendek (maaf) misalnya, bisa saja nekat memakai high heel untuk menutupi kekurangannya.

    Sebenarnya ada yang lebih personal dan lebih jujur untuk “membaca” pemiliknya, yaitu gigi. Hayo… kenapa tidak menulis tentang gigi? Kan ada narasumber yang kompeten? Hehe…

    Salam hangat dari kampung Potorono!

  2. anto
    October 2, 2009 at 5:04 pm

    hehe… pengen sih nulis tentang gigi.
    ada bahan untuk itu.
    tapi tiap kali disebut gigi, yang teringat di benak saya itu adalah dokter giginya itu loh… wah… njuk senut-senut gitu rasane.
    nanti sajalah saya tulis nek saya sudah ketemu dokternya sendiri.
    kangen ra mari-mari caaah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *