mentah dan mateng

welcoming makan-makan

welcoming makan-makan,
originally uploaded by lihatlah.

makanan merupakan sebentuk bahasa yang juga punya lingkup berlakunya.
ada teritori yang dimiliki untuk bisa digolongkan sebagai yang bisa dimakan atau dimuntahkan.

beberapa waktu lalu kami menerima anggota baru di lab sejarah arsitektur. dan kami menandai momen itu dengan makan-makan. dari kami yang terdiri dari berbagai asal ini tidak semua bisa memakan hidangan yang disajikan. seperti halnya belajar bahasa, maka coba-coba dilakukan dengan icip-icip: apakah yang tercicipi itu cocok dengan lidah [artinya dengan pengalaman sebelumnya] atau belum.

ada rekan yang kaku memahami, bahwa “masak” atau mateng itu bila dikenai api. udang yang segar tapi belum dikenai api [entah dibakar, digoreng atau direbus] itu dianggapnya “masih mentah”. belum masak, belum mateng dan belum siap disantap.
tapi,
tindakan icip-icip tadi mengajarkan bahwa lidah dan makanan itu punya gramatika sendiri. tidak harus tunduk pada pakem yang sudah ditanam di otak.
udang segar itu enak di lidah, bila disajikan oleh orang yang paham bagaimana menyajikannya.

akhirnya, malam itu kami bersuka ria karena mengalami suatu bentuk
persaudaraan baru. persaudaraan yang dibangun oleh bahasa baru yang kami jelajahi dengan menggunakan lidah kami.

saya jadi paham, mengapa makan-makan begitu penting dalam peradaban. bahkan, puncak liturgi gereja pun berupa makan-makan. momen ketika bahasa baru digunakan dan di situlah terjadi komuni, saling berbagi… dalam komunikasi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *