Holland Doc Nieuws: Jalan Raya Pos
sudah lama saya nonton film ini.
mengenai kisah lama dari jalan daendells.
tapi,
kisah yang saya tonton di rumah rama mangunwijaya di jalan kuwera dulu itu bukan melulu kisah masa lalu. film yang melibatkan penulis pramoedya ananta toer ini berkisah mengenai jalan itu sendiri, bukan jalan raya pos pada masa daendells.
jalan itu ternyata masih saja menyimpan duka. duka dari orang kecil yang selalu ditindas. dari jaman ketika jalan itu dibikin, sampai ketika film itu ditayangkan. sama saja: orang kecil selau dikalahkan.
video ini cuma cuplikan saja dari film tadi, film yang kemudian dibukukan oleh pak pram sendiri.
saya senang film ini karena merupakan cara mengisahkan sejarah yang baru. juga cara menyikapi sejarah yang baru pula.
Posted via web from lihatlah
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.


Pak Pram memang seorang pemberani. Berani hidup dan berani pula untuk mati. Pak Anto, Jika hidup itu mengalir, kehendak dan tujuan hidup itu kita niatkan lebih dahulu, atau akan kita temukan sebagai sebuah simpulan setelah perjalanan mengalir itu terlebih dahulu kita jalani ya?
sayang sekali,
kita tidak diberi karunia untuk membaca ujung atau PARAN dari hidup itu ketika kita sadar sedang hidup.
tiba-tiba saja kita sadar sudah dalam aliran hidup itu.
dan ujungnya? muaranya? parannya?
itu semua berangsur-angsur ditunjukkan pada kita.
ditunjukkan?
rasanya iya. lha apa berani kita bilang bahwa muara itu bisa SAYA LIHAT DENGAN SENDIRINYA? bukankah kemampuan untuk melihat muara atau paran tadi pun berupa proses belajar?
ada godaan -setelah sadar mengenai perlu tahunya paran- untuk juga tahu SANGKAN. kesadaran ini pun baru muncul setelah kita menjalaninya. karena itu, adegan buta cakil menanyai satria “saka ngendi arep menyang endi?” itu diletakkan di pertengahan adegan wayang. di titik kritis pertunjukan di mana sebelum dan sesudah itu sang satria tadi adalah pribadi yang berbeda: belum dan sudah tercerahkan.
lha nek gitu,
rasanya kita sedang berhadapan dengan karunia. yang gak bisa ditolak. ada yang memberikannya pada kita.
ada pandangan lain yang mengistilahkannya sebagai “keterlemparan”, [hehehe... yang ini betul2 meniadakan status sang pemberi.]
tapi, keduanya menyadari bahwa kesadaran mengenai sangkan dan paran itu memang diberikan SETELAH KITA BERADA DI TENGAH-TENGAH ALIRANnya.
tidak menunggu niat kita terumuskan dengan baik dulu.
pak pram -setahu saya- tidak sibuk dengan pertanyaan sangkan maupun paran, tapi mengubah pengalaman hidupnya dan pemikirannya menjadi suatu karya yang memperpanjang atau mengabadikan jalan hidupnya.
memang beda… tidak seperti orang kebanyakan.