biar lambat asal nikmat

bersepeda itu berbeda dari bersepeda motor, seorang rekan memberi nasihat.
ada kepentingan yang berbeda dari kedua moda kendaraan tadi.
bukan yang kemudian menyempurnakan yang pertama.
sepeda motor memang mempercepat perpindahan, tapi perpindahan yang meminimalkan partisipasi energi kita, karena kita menggunakan energi bensin untuk menggantikannya.
lain dari itu,
“kelambatan” sebagai lawan dari kecepatan, sebenarnya ┬ájuga punya kualitas. buktinya, banyak orang masih mempertahankan bersepeda meski pun dia bisa saja membeli sarana untuk mempercepat pergerakannya.
lambatnya kecepatan bersepeda bila dibandingkan dengan sepeda motor, punya berkah tersendiri, mana kala kita menyusuri jalanan kota yang jalanannya kontinu ini. dengan kontinu yang saya maksudkan adalah tidak terputus-putus oleh lubang jalanan atau oleh macam-macam hambatan.
ada pengalaman ruang yang tidak  putus-putus juga. misalnya kita mengambil waktu start pagi dan pulang siang, maka sudut-sudut kota bisa kita nikmati sambil menikmati juga perubahan waktu dan mungkin juga suhu udara yang mengenai tubuh kita.
roda, suatu temuan revolusioner itu, diberi kebebasan oleh sepeda dalam menggelindingkan kita menyusuri ruang dan waktu kota. suatu proses yang langsung terkena pada tubuh. proses yang bukan sekadar pindah lokasi tapi suatu peralihan situasi-situasi.
di situ, tubuh kita ikut ambil bagian.
bila jalan mendaki, engahan nafas menyertai perpindahan lokasi. demikian pula sebaliknya bila meluncur turun, perasaan seperti terayun bisa dinikmati…
saya sedang menikmati inovasi kendaraan beroda ganda ini. berkah luar biasa bagi kemanusiaan…

Posted via email from lihatlah

5 Comments on biar lambat asal nikmat

  1. roos
    December 1, 2009 at 4:03 pm

    Photonya keren Om….paling suka matahari. set apa rise tu Om?

  2. anto
    December 1, 2009 at 5:26 pm

    foto ini diambil sore hari, sekitar jam 4 sore.
    saya sudah kedinginan sehingga dari sini saya langsung ambil jalan pulang.
    matahari di sebelah kanan saya, sedangkan foto ini diambil di sekitar pusat kota.
    apartemen saya ada di pinggiran selatan kota, deket kampus.
    keranjang di sepeda itu isinya syaal, kaos tangan dan aqua.

  3. Andreasap
    December 5, 2009 at 3:56 am

    Melihat mereka yg melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, atau gesit meliuk-liuk di sela-sela kemacetan jalan raya, kerap memunculkan pertanyaan di kepala saya: “Dengan sebegitu tergesanya mereka bepergian, sebenarnya apa yang mereka cari? Apa yang mereka buru?”

    Keselamatan sebuah nyawakah yang mereka pertaruhkan dalam pacuan itu? Uangkah yang mereka buru? Kesempatan? Kepatuhan bawah sadar apa yang begitu dahsyat menggerakkan mereka? Bukankah nyatanya sering kali mereka, saya, kita, semua saja, cuma orang-orang kalah, dari banyak hal besar yang mempengaruhi hajat hidup kita yang prosesnya sama sekali tidak melibatkan kita, faktor dan variabelnya tak bisa kita kontrol?

    Barangkali mereka yang bersepeda, mengayuh pedalnya sendiri sesuai kemampuan otot-otot kakinya, kekuatan nafasnya, suasana hatinya, boleh dianggap jauh lebih beruntung. Karena mereka lebih berkuasa atas nasibnya sendiri. Lebih berdaulat, lebih menghayati setiap kayuhan di tarikan dan hembusan nafasnya. Ia menentukan sendiri perjalanannya berdasarkan apa yang ada pada dirinya. Orang-orang otonom. Merdeka.

  4. anto
    December 5, 2009 at 9:04 am

    penyepeda adalah orang-orang yang berdaulat, punya otoritas atas pergerakannya sendiri.
    iya,
    pergerakannya sendiri saja. karena dia gak bisa mengatur pergerakan orang lain. ia berbeda dari sepeda motor, mobil atau kereta api yang bisa mengatur sarana transportasi lain berhubung dengan kecepatan dan kekuatan mesinnya. bahkan kota-kota di seluruh dunia wajahnya berubah gara-gara harus menuruti jalur-jalur pergerakan motor, mobil dan kereta.
    mesin,
    sebuah kekuatan baru yang mengubah wajah ruang kota. juga mengubah cara kita menghayati waktu.
    sepeda?
    dia tidak terlibat dalam proses pengubahan itu…dia tidak bisa mengatur pihak lain.
    hehehehe… nggayaaa…

  5. annisa
    February 10, 2010 at 10:39 pm

    wah sa suka fotonya.
    tapi kalo naik sepeda sambil diterpa angin dingin, tampak kurang nikmat ya pak, apalagi ditambah nyasar ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>