monopoli

di kalangan mahasiswa asia tenggara yang belajar di sini banyak yang memiliki iphone, telepon genggam dan sekaligus komputer mini yang bagi orang jepang sendiri tidak begitu umum diterima.

iphone baru saja memiliki saudara, ipad, yang juga dikeluarkan oleh apple yang selalu mengawali nama produknya dengan “i”: ipod, iphone, iwork, dan kini ipad.

pesawat baru ini mengundang banyak kontroversi. dari antaranya, yang menurut saya paling menohok adalah tulisan yang dibuat oleh tom conlon dalam buletin POPSCI. persoalan yang diangkatnya adalah masalah dominasi yang terungkap dalam istilah dia “oppression, censorship and monopoly”. pesawat baru yang bernama ipad ini menciptakan ketergantungan kita pada produk apple. ipad sama sekali bukan komputer yang memungkinkan penggunanya bisa memilih sendiri perangkat yang dibutuhkannya untuk produksi.

dalam bingkai itu, saya pikir semua produk apple memang menciptakan ketergantungan pada satu sumber. apple tidak memberi peluang bagi penggunanya untuk melakukan modifikasi pada produknya. tidak ada interaksi. pengguna hanya diposisikan sebagai konsumen belaka, menikmati karya agung disain yang hebring tea… tentu dari elit disainer yang mereka bayar mahal.

heranlah saya… di hari gini masih saja ada yang mengagungkan egoisme elitis gini!


2 Comments on monopoli

  1. annisa
    February 3, 2010 at 5:12 pm

    HIDUP FUNGSIONALISM ^^
    – buat kerjaan: pake PC
    – butuh nlp: pake hp
    – pengen jeprat-jepret: beli kamera
    – kuping ga mau lepas dari musik: ada ipod
    – ngerasa bego sama bahasa orang: beli dictionary

    jadinya kalo kemana2, tasnya jadi penuh, hahaha…..

  2. anto
    February 3, 2010 at 6:38 pm

    hehehe.. iya sa.
    semua kebutuhan itu sudah dimampatkan dengan menempatkannya ke dalam platform digital. ngetik, ngolah data, nyimpen dan dengerin musik, motret, nyimpen dan mendistribusikannya… semua nyemplung dalam ranah yang sama: digital.
    tapi, itu baru membantu kita dalam mengefisienkan pekerjaan kita: mempercepat dan membuat akurat.
    yang belum tertampung di situ adalah partisipasi pengguna dalam ngoprek atau customizing alat-alat tadi.
    jam yang pakai per itu bila rusak masih bisa dibongkar dan “disesuaikan” oleh penggunanya, tapi jam digital bila rusak, tinggal dibuang saja. mesin ketik manual bila rusak bisa dicari komponen mana yg bisa diperbaiki. tapi komputer [apalagi laptop apple] benar-benar tertutup dari konsumen utk ambil bagian melakukan customisation. kita hanya bisa terima bulat-bulat dari pabrik.
    seperti kita cuma bisa minta ayam goreng paket A atau paket B di restoran cepat saji paman sanders itu. bukan seperti kita beli bakso yang bisa minta “kuahnya dikit, gak pakai saus, gak pakai vetsin…” dsb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *