kirab pusaka kangjeng kyahi tunggul wulung

tanggal 22 januari, tepat seperti hari ini saya menuliskan posting ini, pada tahun 1932, di kota yogyakarta, dilangsungkan kirab pusaka kangjeng kyahi tunggul wulung.
From jawanese arch…

kirab dari pusaka keraton yang berbentuk bendera itu dilaporkan oleh soedjana tirtakoesoema dalam berkala DJAWA. saya diingatkan tentang teks ini oleh komentar dari saudara yang menggunakan ‘nama samaran’ benny p [on Thursday, January 18th, 2007 at 7:25 am:] dalam tulisan terdahulu mengenai “tamansari”.
teks ini jadi monumental karena -sejauh saya ketahui- hanya inilah teks yang mencatat pernah dilangsungkannya kirab pusaka yang setelah kirab tahun 1932 itu -juga sepengetahuan saya- tidak pernah dilakukan lagi. jadi, bila catatan saya ini akurat, baik peristiwa maupun laporannya sama-sama unik, monumental. tirtakoesoema mencatat bahwa kirab terakhir yang ia ketahui adalah pada bulan desember tahun 1918 pada masa pemerintahan sultan ketujuh.

kirab pada tahun 1932 ini dilangsungkan berkenaan dengan adanya wabah penyakit diare yang disertai muntah-muntah yang menewaskan banyak rakyat yogyakarta. sedangkan prosesi pada tahun 1918 sebelumnya itu dilakukan berkenaan dengan penyakit “flu spanyol“.
prosesi itu dipilih harinya pada malam jumat kliwon yang kali itu jatuh pada tanggal 21-22 januari 1932. suatu pemilihan waktu yang sudah disepakati secara tradisi, bahwa pada hari itu rakyat harus mengkhususkan kegiatannya untuk kepentingan publik, baik untuk keraton maupun untuk agama. banyak kegiatan publik dan yang berhubungan dengan kraton yang membutuhkan partisipasi banyak peserta, menjatuhkan harinya pada hari jumat kliwon. atau pada putaran bulan, dijatuhkan pada bulan sura, yang secara tradisional juga mendapat keistimewaan serupa.

prosesi ini melewati jalur yang cukup jauh. keluar dari kraton lalu menuju ke utara sampai jetis di utara tugu putih, lalu ke barat hingga mencapai jalan magelang, lalu belok ke selatan…terus…sampai ke sebelah selatan dari pojok beteng kidul, belok ke timur sampai suryadiningratan, karangkajen lalu ke utara lagi menyusuri kali code, lalu ke timur lowanu, masuk ke bathikan ke utara, melewati gunung ketur hingga ke klitren dan berbelok ke barat untuk mencapai tugu putih lagi, lalu belok ke selatan kembali ke kraton.

di sepanjang jalan itu perarakan berhenti di beberapa persimpangan [tugu putih, pertigaan jalan magelang, jokteng kiduln kulon dan kidul, lowanu, gunungketur, dan sagan atau klitren lor] untuk mengumandangkan azan, atau panggilan untuk shalat.

From jawanese arch…

yang menarik untuk diperhatikan dari jalur di atas adalah bahwa pola pergerakan prosesi ini tidak searah jarum jam, sebagaimana dikenal dalam pola pradaksina, tapi berlawanan dengannya. saya belum menemukan alasan mengapa pola pergerakan ini dibalik, karena sampai sekarang prosesi mengelilingi benteng kraton itu dilakukan dengan pola pradaksina warisan hindu-budha itu.

sama seperti yang dilakukan di surakarta tiap-tiap malam 1 sura, pola pergerakan ini pun harus melewati 9 buah perempatan. suatu tindakan simbolik untuk menutup 9 lubang dalam tubuh sebagai prasyarat memasuki suasana meditasi. karena alasan simbolik inilah maka bentuk pola pergerakan ini tidak geometris [bujur sangkar, melingkar, segitiga dsb.],

tirtakoesoema mencatat bahwa prosesi untuk mencegah meluasnya wabah ini sudah menimbulkan polemik. di antara agamawan ada yang menganggapnya syirik seraya menuntut bukti “tunjukkanlah, apakah prosesi ini terbukti menyembuhkan penyakit yang sedang mewabah?” mereka mendorong agar prosesi macam ini dihapus saja dan wabah ini harus ditangani secara medis ilmiah.

tapi ada pula yang sebaliknya menyatakan bahwa prosesi ini mendapat dukungan ribuan rakyat dan mereka percaya bahwa prosesi ini mendatangkan ketentraman batin, ketenangan dan keadaan yang lebih baik dari sebelumnya.

teks berbahasa belanda ini sudah diinggriskan oleh rosemary robson-mckillop dan terhimpun dalam buku suntingan stuart robson THE KRATON: selected essays on javanese courts” [ISBN: 90 6718 131 5] sebagai bagian dari seri penerjemahan KITLV.

bencana gempa bumi yang melanda yogya tempo hari, dan flu burung yang menyusul kemudian tidak mendorong keraton untuk mengirabkan pusaka berwarna biru kehitaman [wulung] ini lagi. mungkin karena sekarang sudah banyak rumah sakit di yogyakarta, juga puskesmas, yang dengan jaringan komunikasinya dalam waktu cepat bisa menghimpun berbagai obat dan peralatan kesehatan untuk menangai wabah yang dikhawatirkan meluas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *