presensi dan representasi

from www.astrosoft.de
dalam pandangan mata masa kecil saya, baluwerti karaton surakarta adalah struktur yang menakjubkan. masuk ke halaman-halaman di baliknya pun merupakan pengalaman yang menakjubkan. dinding setinggi 6 meteran dan tebal 2 meteran itu mengesankan ketertutupan dan misteri. bahkan hingga kini pun.

saya sesekali pernah masuk ke dalamnya, sebagai turis ke kadhaton dan museum kraton, atau ketika saya remaja, ketika berlatih menari di sana. pendeknya, masuk ke sana menenggelamkan saya dalam suasana yang kata-kata pun tidak memadai untuk melukiskan sepenuh-penuhnya.

berbeda halnya ketika saya menemukan peta, atau denah, dari kompleks karaton surakarta sebagaimana disajikan oleh victor zimmerman ini [dimuat dalam berkala TBK pada tahun 1919 dan saya temukan kembali dalam versi bahasa inggris dalam buku suntingan stuart robson, lihat posting saya terdahulu mengenai buku robson ini]. di situ, berkat gambar itu, keraton jadi terbuka di hadapan semua orang [paling tidak bagi banyak ilmuwan pelanggan berkala tadi], karena zimmerman menyajikan suatu denah, yakni visualisasi hubungan ruang yang terskala, dari karaton yang ia lihat pada tahun 1915.

From jawanese arch…

jadi, sebenarnya, sudah sejak 1919 isi keraton surakarta sudah diketahui umum: nama bagian-bagian bangunan dan ruang-ruang yang berada di balik dinding tebal dan tinggi itu. bagi para ilmuwan pelanggan berkala tadi, keraton sudah tidak misterius lagi. pengalaman unik yang terasakan ketika kita hadir di sana, menguap seketika.

demikian pula dengan karaton yogyakarta di tangan lucien adam, yang telah memindah pengalaman ruang itu menjadi visualisasi berupa denah yang kemudian diterbitkan dalam berkala DJAWA. berkala yang pelanggannya jauh lebih luas dari pada TBK dan mencakup berbagai kalangan itu.

visualisasi dalam arti tertentu memang memerosotkan pengalaman/penghayatan [ruang].

pengalaman ruang adalah presensi, yakni pengalaman ketika kita hadir di dalam ruang, kecemplung di dalamnya. sementara, ketika ruang itu divisualisasi maka kita hanya menerima representasinya yang hanya menyajikan segi-segi tertentu dari pengalaman mula-mula.

bila dalam presensi kita seperti disergap oleh berbagai rangsangan inderawi [bau bunga melati, dupa dengan asap yang meliuk-liuk, sayup-sayup kicauan burung dan gender yang ditabuh, telapak kaki yang merasakan taburan pasir seolah di pantai laut selatan dst.] maka pada representasi kita hanya bisa menerima hal-hal tadi secara bagian demi bagian, sejauh medium mampu menangkap dan menyampaikannya pada kita.

bila presensi adalah pengalaman menyeluruh sebagaimana tubuh dan inderanya [entah 5 entah 6 atau tujuh] menangkap fenomen yang tampil, maka representasi adalah pengalaman parsial yang sampai pada kita lewat perantaraan mediumnya.

di beberapa tempat suci, ada larangan untuk memotret. di makam kotagede, di imagiri dan beberapa tempat lagi, ada larangan untuk memotret. hal yang sangat bisa dimengerti.

sakralitas tempat memang mengandaikan adanya kehadiran. kita harus kecemplung di dalamnya. oleh sebab itu tindakan memotret [membuat representasi visual] dikhawatirkan akan memerosotkan sakralitas tadi.

7 Comments on presensi dan representasi

  1. Benny P
    January 25, 2007 at 7:41 am

    Cak Mahatmanto,
    Pengalaman anda menunjukkan betapa masih ampuhnya konsep pemisahan daerah ‘sakral dan ‘profan’ dalam perancangan wilayah dan bangunan Jawa. Di daerah sakral semuanya serba teratur (diusahakan untuk tertatur). Diluar daerah sakral adalah daerah profan yang chaos. Cak, saya tanya, kapan publik boleh memasuki daerah sakral di keraton Surakarta ini ?Kalau di Jogja mungkin baru setelah kemerdekaan 1945 , betul?
    Di abad ke 20 dimana kita ini hidup dalam keadaan ‘living in a desacralized cosmos’, semuanya menjadi berubah. Sekarang yang penting mana privat dan mana publik. Kesakralan yang dulu ada sekarang mengalami degradasi.

  2. mahatmanto
    January 25, 2007 at 8:03 am

    siapa yang kita maksud dengan “publik” dan apa artinya “masuk”.
    sampai sekarang pun masuk ke kraton itu hanya bisa jam-jam tertentu. artinya, ada seleksi, ada filter, ada pembatasan antara teritori ‘sakral’ dan ‘profan’ dengan menggunakan alat ‘waktu’.
    tiap hari, kori brajanala sudah tutup pada pukul 22.00.
    sedangkan waktu-waktu di luarnya orang umum bisa masuk “dengan membayar karcis” sampai ke halaman kadhaton. ‘karcis’ di sini adalah alat seleksi juga.
    sejak kapan kraton membukakan diri untuk dimasuki sebarang orang -dengan berbagai alat seleksi tadi- saya tidak punya keterangan. apakah ketika modernitas yang dicirikan -misalnya, oleh daniel bell- sebagai rontoknya seluruh rajutan sistem simbolik tradisional, itu mulai masuk?
    purwalelana yang bupati pesisir itu sudah pernah masuk ke kraton surakarta pada puluhan tahun sebelumya dan memberikan deskripsi itu dalam buku perjalanannya yang terkenal. meski tanpa visualisasi.
    so,
    siapakah ‘publik’?

  3. Benny P
    January 25, 2007 at 8:19 am

    siapa yang kita maksud dengan “publik” dan apa artinya “masuk”.
    sampai sekarang pun masuk ke kraton itu hanya bisa jam-jam tertentu. artinya, ada seleksi, ada filter, ada pembatasan antara teritori ’sakral’ dan ‘profan’ dengan menggunakan alat ‘waktu’.

    Yang dimaksud dengan ‘publik’ disini adalah ‘bukan kerabat’ atau orang dalam keraton. Kalau kita masuk keraton (biyen), kita langsung tahu kedudukan kita ada dimana dalam urutan kekerabatan keraton (lewat: sebutan, bahasa dsb.nya)- seperti yang ditulis dalam disertasinya ibu Darsiti, tentang keraton Solo. Seingat saya keraton baru dibuka untuk umum (publik), baru setelah kemerdekaan. Alun-alun adalah batas paling luar dari daerah ‘sakral’ tersebut.

  4. mahatmanto
    January 25, 2007 at 8:37 am

    di sinilah perlunya klarifikasi istilah ‘publik’ dan ‘masuk’ tadi, dalam konteks ‘presensi’ dan ‘representasi’.
    secara fisik, tubuh orang lumrah seperti saya ini baru bisa masuk ke kraton, sampai ke halaman kadhaton [jadi hanya sampai di situ, tidak lebih masuk lagi] pada waktu-waktu tertentu, mungkin memang setelah keraton kehilangan kedaulatannya atas teritorinya. setelah kemerdekaan RI ya? [meski momen ini pun juga tidak bisa digaris secara tajam].
    tapi,
    sejak purwalelana menerbitkan catatan perjalanannya, atau sejak zimmerman menerbitkan petanya maka tanpa harus saya masuk memakai tubuh ini pun saya sudah bisa ‘masuk’ ke kraton, bahkan ke tempat-tempat yang muskil saya masuki sampai sekarang pun.
    jadi dengan demikian, media atau representasi, memungkinkan kita untuk memerosotkan sakralitas tadi, tapi juga sekaligus menjadi kekuatan baru yang bahkan sunan da sultan pun tunduk.
    [saya sedang membayangkan betapa kedua raja itu manut-manus saja pada fotografer yang menata caranya duduk, pada pertimbangan-pertimbangan komposisi fotografis. jadi, media representasi, dalam hal ini kompleks produksi foto, menjadi penguasa baru!]
    sejak kapan ‘ketertiban’ tradisional dari kraton itu berakhir dan mengalami ‘degradasi’? saya yakin momen itu tidak bisa ditarik garis tegas, itu berlangsung berangsur-angsur, secara gradual dilakoni melalui “kuasa-pengetahuan” yang tidak disadari oleh pelakunya sendiri, tapi jelas-jelas bekerja dan mengubahnya…

  5. Benny P
    January 25, 2007 at 8:57 am

    “sejak purwalelana menerbitkan catatan perjalanannya, atau sejak zimmerman menerbitkan petanya maka tanpa harus saya masuk memakai tubuh ini pun saya sudah bisa ‘masuk’ ke kraton, bahkan ke tempat-tempat yang muskil saya masuki sampai sekarang pun.
    jadi dengan demikian, media atau representasi, memungkinkan kita untuk memerosotkan sakralitas tadi, tapi juga sekaligus menjadi kekuatan baru yang bahkan sunan da sultan pun tunduk.”

    Tanya Cak, apakah zimmerman, yang anda maksud ini adalah zimmerman insinyur kereta api, yang punya hobi ngeluyur dan dijuluki ahli purbakala amatir pada jamannya itu? Wah anda ini ternyata sakti sekali cak bisa memasuki keraton, tanpa tubuh, ha, ha,ha, ha….. apa saya boleh berguru pada anda?

  6. Eko Rizkiyanto
    March 6, 2018 at 4:04 pm

    Apa saja cerita yang ada di keraton surakarta

  7. Rani S
    May 14, 2018 at 1:23 am

    apa perbedaan presensi dan representasi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *