bersahabat dengan alam
tadi siang seharian saya ke tahara. kota kecil di barat daya tempat tinggal saya. kotanya berada di sebuah tanjung. sehingga di kiri-kananya adalah air belaka: laut pasifik di sisi kiri dan teluk gamagori di sisi kanan. ujung dari tanjung tahara ini berdiri menara suar [lighthouse] kuna yang dibangun berhubung dengan lokasi istimewa tanjung ini.
posisi alamiah yang sedemikian telah dikenali orang sejak lama. masyarakat setempat sudah paham betul dengan tabiat alam lokasi sana yang kadang berkabut mendung, kadang berlangit cemerlang. yang pasti, di daerah itu selalu berangin kencang.
kondisi alam yang berangin kencang harus diakrabi agar orang tetap bisa tinggal melangsungkan kehidupan. kekuatan alam harus dikenali tabiatnya. kapan dia marah dan kapan dia ramah. kapan dihindari dengan bersembunyi dan kapan dihampiri untuk diajak bermain-main.
masyarakat setempat mengamankan sumber kehangatan rumah mereka -api- dengan membuat rumah yang menempatkan perapian di tengah. api untuk peneranganpun mereka lindungi dengan membuat lampion dari rangka bambu dan selubung kertas yang cara pembuatannya sudah mereka kenal berabad-abad sebelumnya. kertas dan rangka bambu yang sama, mereka gunakan pula untuk membuat mainan yang bernama layang-layang.
layang-layang dari tahara berbeda strukturnya dibanding dengan layang-layang dari hamamatsu, kota lain di tepi pantai yang sama. layang-layang hamamatsu bergeometri bujursangkar, sedangkan yang dari tahara lebih persegi panjang mendatar.
masyarakat kota-kota pantai timur jepang ini tahu betul bagaimana cara “bersahabat” dengan alam setempat. angin yang bisa mematikan api dikendalikan dengan lampion tadi. angin yang kuat serta sering berbunyi menggemuruh itu dipersonifikasikan dalam rupa dewa yang menakutkan yang wujudnya tergambar di layang-layang mereka.
layang-layang itu terbang… dewa-dewa yang menakutkan itu terbang -atau lebih tepat diterbangkan- diayun angin dan kita arahkan kemana kita suka. sama seperti lampion pun sudah dibentuk untuk menyiasati angin yang bisa mematikan sumber kehidupan rumah mereka.
alam dan kekuatannya, kita akrabi secara bersahabat -karena tidak akan bisa kita lawan- kita siasati kekuatannya, dalam arti kita akui sambil dimanfaatkan kekuatannya untuk kehidupan manusia.
niat yang sama, terwujud di tahara, baik dulu maupun kini.
di tahara kini, berdiri banyak menara-menara kincir angin yang memanfaatkan kekuatan dewa angin tadi untuk energi listrik yang dibutuhkan manusia masa kini. dan orang-orang yang sama, di waktu-waktu tertentu, menerbangkan layang-layang mereka serta mengarak lampion di jalanan kota. yang tradisional dan modern, bisa hadir bersama-sama karena keduanya berangkat dari sikap yang sama: bersahabat dengan alam.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
![layang-layang tahara [tahara type kite]. layang-layang tahara](http://lecturer.ukdw.ac.id/mahatmanta/journal/wp-content/uploads/2010/02/DSC_5708-300x191.jpg)
![lampion tahara dari desa kayamachi [lampion from kayamachi district, tahara] lampion dari desa KAYAMACHI, tahara](http://lecturer.ukdw.ac.id/mahatmanta/journal/wp-content/uploads/2010/02/DSC_5700-300x199.jpg)


