semoga

ada teman yang tidak nyaman dengan penggunaan kata “semoga” ketika ia sedang berharap.
baginya, kata itu menyimpan keraguan atas keterlaksanaan harapan yang ia punyai. ia lebih memilih ungkapan yang lebih mantap, seperti “saya yakin”, sebagai ganti kata semoga tadi.
kata semoga itu terumus kala kita berhadapan dengan hal yang ingin kita alami tapi sedang tidak kita hayati kini. ia berada di depan, bukan di luar. ia kita yakini bisa diraih tapi belum atau bakal diraih tapi dengan tidak mudah.
berani  merumuskan kata semoga itu berarti sudah berani memasukkan hal yang ia ingini tadi ke dalam radius jangkauan yang mungkin bisa diraih. ia berada di depan atau dalam jangkauan, tidak di luarnya.

mengharapkan sesuatu terjadi itu membuat aktivitas kita berarah. punya tujuan. sehingga karenanya kata semoga juga selalu hadir dalam hidup sehari-hari kita. kata semoga menyimpan di dalamnya pengakuan bahwa pemenuhan harapan itu tidak mudah, membutuhkan pengarahan atau orientasi aktivitas, bahkan pengakuan bahwa sebagian besar faktor penentu tercapainya tujuan itu berada di luar kemampuannya.
mengakui bahwa dibutuhkan kekuatan tambahan selain yang sudah ia miliki untuk mencapai harapan tadi membawa kata semoga ini beredar di kalangan rohaniwan. orang-orang yang suka memelihara hidup kerohaniannya.
“semoga”, “kiranya”, “bila tuhan berkenan”, adalah kata-kata yang banyak beredar di kalangan itu untuk mengungkapkan kebutuhan orang-orang tadi akan campur tangan aktor lain [tuhan] yang dipercaya selalu campur tangan membantu kelemahan mereka.
kata semoga, dengan demikian, mengungkapkan posisi kita dalam berhadapan dengan harapan-harapan: bahwa ada kekuatan lain yang kita harap ikut membantu proses pencapaian atau penenuhan harapan itu.

karena kata ini menyimpan pengakuan atas kekuatan lain itu, maka kata ini juga bisa berbahaya. bisa melemahkan atau menganggap remeh kekuatan sendiri. bisa membikin kita malas menggali potensi diri.
tapi, kata ini juga bisa sebaliknya menguatkan karena ada anggapan bahwa di balik semua prestasi pencapaian dia itu adalah tuhan yang sangat kuat itu [ikut] bekerja.

dalam terang pemahaman itu, saya tidak keberatan menggunakan kata semoga.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Comments »

 
  • Nuning says:

    wah, saya juga termasuk orang yang kurang senang menggunakan kata “semoga”, sebab bagi saya itu terkesan ragu-ragu. saya juga lebih suka mengatakan “harus bisa” atau “saya yakin”, sehingga tidak perlu kuatir mengenai segala kemungkinan yang akan terjadi :-)

  • anto says:

    siip… semoga [eh!] anda selalu dimudahkan jalan anda…

 

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>