jalan kampung kota

malam itu yoshi menelpon, meminta agar saya jadi nara sumber ‘pocokan’ di samping beliau sendiri yang jadi nara sumber utama dalam wawancara di radio eltira.
wah,
lha radio saya tuh nggak akurat lagi dalam mendeteksi gelombang je…
radio ini adalah salah satu kurban gempa kemaren yang bikin dia -kesayangan rewang saya -itu jadi bingun kalau disuruh nyari gelombang pemancar tertentu.
apalagi, di yogya hampir semua radio numplek di sekitar gelombang FM 102-104…yah…jadinya tumpang tindih gak keruan: kadang nyaut kadang enggak.

tapi tawaran yoshi saya sanggupi, mengingat jasa baiknya yang sudah banyak dalam mengenalkan saya pada orang-orang dan guru-guru dalam saya memahami kota dan -khususnya- perkampungannya.
yoshi adalah pahlawan kampunglah..!

moderatornya ons oetoro. ini orang tangkas yen takon…
lewat telepon aku ditanya mengenai mengapa di kota-kota kita makin banyak ruang publik yang hilang?

halah…
lha aku apa ngerti yen ditakoni kaya ngene iki? jaan…
tapi tanpa ragu-ragu -on air lagi- dia menodong sampai saya ngomong. omongan saya apa saya sendiri lupa, pokoke waton njawab. dan entah apa yang kemudian berlangsung di studio, moderator lalu menerima penelpon lain, yang katanya dari sala. dan hubungan denganku putus. dan karena radioku pun tidak bisa ‘nyaut’ acara itu, maka putus pula hubunganku dengan topik itu.

‘mengapa kota kita banyak kehilangan ruang publik?’
saya lalu menulis catatan sedikit tentang itu.
tapi, apa kita pernah punya ruang publik? itu pertanyaan dalam batin saya.
lha apa kita pernah menghargai orang per orang sebagai setara? bukankah kita lebih menindas satu pada lainnya?

mungkin kita pernah bermasyarakat yang egaliter dan tidak terlalu hirarkhis, menilik kita masih mengingat istilah-istilah pasaran ‘legi, pahing, pon, wage dan kaliwon’.
konon, ini menurut ossenbrugen, masyarakat jawa kuna terbangun dalam konfigurasi 4 desa-desa di keempat penjuru mata angin dengan satu desa tengah sebagai koordinator. orang jawa masih mengingat istilah ‘keblat papat, kalima pancer’ sebagai sarana orientasi.
konon, dulu ada empat pasar di keempat penjuru angin [pasar legi di timur, pasar paing di selatan, pon di barat, wage di utara dan pasar kaliwon di tengah]. keramaian dan seluruh kegiatan pasar berpindah-pindah sehingga pada masa itu tidak pernah terjadi akumulasi kekayaan suatu desa. semua desa mendapatkan kesempatan didatangi dan diramaikan oleh kelima warga desa dalam satu mancapat itu.
nah,
‘mancapat’ , itulah sistem klasifikasi dan orientasi masyarakat jawa waktu itu.
dengan sistem penataan seperti ini maka tiap desa mendapat bagian atau berkesempatan menjadi publik pada hari pasaran yang sudah ditetapkan bersama. tidak ada desa lebih makmur dari desa lainnya, tidak ada desa yang jalan-jalannya lebih besar dari jalan desa lainnya…tidak ada bangunan yang lebih megah dari lainnya.

mungkin itu ada benarnya.
kalau kita membaca drama ‘mangir’ karya pak pramoedya, maka jelaslah bisa dipahami mengapa banyak desa di bantul waktu itu memberontak pada mataram yang ingin lebih tinggi posisinya dari pada lainnya. ingin mendominasi desa-desa lain sekitarnya.
maraklah pemberontakan mangir wanabaya.

pemberontakan yang ingin memulihkan martabat desa-desa dan juga watak asli jawa yang egaliter! yaa… mungkin kita pernah punya ruang publik.

[republish dari multiply, 10 oktober 2006]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *