hari haiku

hari ini tadi tiba-tiba sensei memanggil kami semua ke ruangnya yang sekaligus perpustakaan yang dipenuhi buku-buku.

di dalam sudah tersedia kue ketan yang dibungkus kacang kedelai mirip isi mochi [mochi adalah kue ketan/jadah yang dalamnya kacang kedelai, sedangkan kue yang dibagi tadi adalah kebalikannya: ketannya di dalam balutan kacang kedelai]. kami makan bagian masing-masing.
konon, menurut sensei,
kue ini biasa dimakan untuk menandai awal musim semi seperti sekarang ini. kadang dibawa ke taman untuk dimakan di bawah bunga-bunga sakura yang mulai bermekaran.

setelah kami makan bagian kami, maka sensei meminta masing-masing dari kami untuk membuat haiku di kertas yang ia berikan. saya mendapat giliran kedua setelah teman dari cina, dan saya memilih syair terkenal dari rendra “langit di dalam, langit di luar, bersatu dalam jiwa” sambil saya bubuhi gambar rumah sebagai representasi ruang buatan yang menyelaraskan langit luar dan langit dalam tadi. ini saya cocokkan dengan suasana hati saya yang sedang terkesan dengan cara orang jepang menyelaraskan diri dengan alam, bukan mengalahkan dan menundukkannya. lain dari itu, saya juga mengaku tidak siap membuat puisi yang tercipta dalam waktu cepat. saya hanya mencari yang cocok dengan situasi kami [pelajar arsitektur] sehingga  saya memilih untuk tinggal mengambil puisi pendek yang sudah tersedia di ingatan saja. tidak mencipta yang baru.

sedangkan ibu hiroko yang menulis setelah saya membuat haiku mengenai kue ketan yang dimakan di antara buku-buku. cocok dengan situasi kami yang makan mochi di ruangan penuh buku tadi. demikianlah setelah itu kami bergiliran menceritakan isi haikunya.

yang mengherankan saya adalah bahwa mereka [orang-orang jepang dan cina] semuanya mampu membuat haiku dalam waktu yang cepat sekali. rupanya, demikian kisah ibu hiroko, anak-anak jepang memang sudah terbiasa diminta oleh guru mereka di sekolah untuk membuat puisi pendek sependek dua larik itu.

haiku, puisi pendek, ringkas, langsung pada intinya… amat bagus untuk latihan pikiran kita agar terfokus, tidak bercabang kemana-mana dan dalam waktu cepat. saya mengaku kalah dengan anak-anak muda itu!

3 Comments on hari haiku

  1. daniel
    May 16, 2010 at 4:11 pm

    Dalam kemampatannya haiku tidak memberikan ruang untuk kenes2an langsung menghujam han menghanyutkan rasa … Bicara apa adanya, spontan mak bleng … Kayaknya kita emang gak bisa karena gak biasa

  2. sabbath
    November 18, 2010 at 12:52 am

    Saya baru tahu tentang haiku ini, Pak Anto…
    Jepang sangat menarik ^ ^

  3. anto
    November 18, 2010 at 1:05 am

    hehe…
    iya.
    latihan zen diberikan sejak kanak-kanan melalui haiku tadi.
    sehingga sejak kecil mereka sudah terbiasa berkonsentrasi lama.
    karena itu, mungkin, mereka sangat produktif hari-harinya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *