diminta memberikan diri

menulis itu kegiatan yang saya jalani dengan jatuh bangun.
saya bukanlah penulis, meski pun pekerjaan saya meminta untuk justru harus banyak menulis. saya menjalani kegiatan itu dengan derita, meski juga mendatangkan kelegaan sesudahnya.

tidak mudah untuk menyendiri, mengucil dari berbagai rangsangan indera [itu dia ternyata soalnya]. menulis itu seperti tindakan heroik untuk hanya melulu sendirian dengan teks yang saya hadapi.

beda lagi dengan nasihat rekan saya ketika malam-malam saya merasa buntu tidak bisa melanjutkan tulisan yang harus buru-buru dikerjakan. selain dibutuhkan kerelaan untuk menyendiri, dia mengaku bahwa tuhan begitu baik padanya sehingga ia dikaruniai kemudahan dan kelancaran dalam menulis. namun demikian, itu pun tidak mudah baginya. ia butuh mengondisikan diri sebelum memulai mengolah karakter tokoh novelnya: mandi, membersihkan kamar dan mengharumkan badan dengan parfum.

saya paham dengan situasi itu. menulis itu seperti seorang ibu yang harus melahirkan anak, buah tubuhnya. ada rasa kehilangan yang besaar… meski sesudahnya mendatangkan bahagia. karenanya, si penulis membutuhkan saat-saat untuk memanjakan diri agar siap untuk diminta memberikan diri.

derita itu yang sedang saya hadapi tanpa bisa diingkari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *