modernisasi pembersihan badan

kamar mandi tadi menyatu dengan jamban.
hal yang umum pada rumah-rumah yang sudah bisa memisahkan saluran buangan jamban tadi dengan buangan dari air sabun habis dipakai mandi.
ada anggapan bahwa air sabun tidak boleh menyatu dengan buangan dari jamban, agar sabun tidak membinasakan bakteri-bakteri pengurai kotoran yang dibuang di jamban. karena itu, keduanya harus dipisah pembuangannya.

saya tidak tahu, apakah anggapan itu masih berlaku.
tapi yang jelas, dari dulu orang mandi dan membuang kotoran di sungai di tempat yang terpisah. meski pun hasil buangan keduanya bakal menyatu di aliran hilir sungai itu.

kotoran yang menempel pada badan dibuang lewat guyuran air mandi, sedangkan kotoran dari dalam badan dibuang lewat jamban lalu diselundupkan di bawah tanah atau dibuang ‘entah kemana’ melalui aliran selokan dan kali. kedua jenis kotoran itu berbeda nilainya. baik nilai higiene maupun nilai kulturalnya.

kloset -atau jamban- yang saya duduki barusan, berada dalam satu ruang dengan kamar mandi. kamar mandi ini berupa pancuran [shower] yang dipasang di depan kloset tadi, yang dimungkinkan penyatuan ini oleh teknologi bahan bangunan yang memungkinkan pemisahan buangan mandi dan buangan kloset sehingga keduanya tidak tertuang ke satu tempat.
istilah kloset ini mengindikasikan asal-usulnya yang dari barat, yang kita dapat melalui modernisasi dan kolonialisasi. lewat modernisasi cara kita membersihkan diri, kita sekarang lebih memilih mengikuti cara baru ini. cara-cara lama telah kita -paling tidak untuk keluarga tempat saya membersihkan diri ini- tinggalkan, digantikan oleh cara modern yang lebih bisa diterima dan memberi berbagai kemudahannya.

dulu, kita mandi dan buang air besar di tempat terpisah, meski muara dari buangannya menyatu. sekarang setelah modernisasi, kita mandi dan buang air besar di tempat yang menyatu, tapi buangannya terpisah satu dari lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *