segelas beras untuk berdua

Segelas Beras untuk Berdua
seorang jesuit senior pernah berujar: “hari gini kok bikin buku. lebih baik bikin paper seminar. selain honornya gede juga nanti bisa dikumpulin untuk dijadiin buku”.

sekarang saya sedang menghadapi ‘buku’ yang tidak lain adalah bekas kumpulan tulisan-tulisan lepas di kompas. dari seorang jesuit yang lebih junior. seorang rekan mengirimkan buku ini ke rumah ketika saya justru sedang tidak di sana. pagi ini saya sempatkan menengoknya.

karena ini kumpulan tulisan, maka saya bisa mengaksesnya dari halaman berapa pun. tidak harus dari daftar isi atau pengantarnya. tidak pula harus dari tulisan pertama. dan dengan penjelajahan acak, saya mulai menstrukturkan esai-esai yang terhimpun dalam buku ini.

yang paling terasa adalah bahwa semuanya mengandung pelajaran. semua esai ini memulainya dari perjumpaan real dengan tokoh-tokoh kalangan orang biasa [ada juga sih yang mengandalkan sumber lain, misalnya pada tulisan tentang ibu theresa dan putri diana]. dari perjumpaan itu lalu di akhir tulisan ada ‘moral cerita’ yang ingin disampaikan ke pembacanya. ini mirip struktur homili atau kutbah di gereja katolik, yang memulai dari kisah nyata yang kemudian diperas atau disuling hingga didapatkan ‘berita baik’ yang terkandung di dalamnya. rasanya, ‘berita baik’ yang diwartakan dari esai-esai di buku ini adalah ‘pengharapan’ sebagaimana tertera juga di judulnya.

hal lain yang terasa langsung adalah gaya pelaporan perjumpaannya dengan tokoh-tokohnya itu mirip seperti interview seorang wartawan: rinci dan terasa sebagai sumber pertama.

esai-esai yang pernah terbit di kompas sekitar tahun 70-an akhir hingga 90 ini terasa benar ditulis untuk mengajar, untuk mewartakan berita baik kepada pembacanya. karena itu selain deskriptif juga reflektif. selalau berusaha merenungkan hal nyata yang dijumpainya.

membaca buku ini terbayanglah penulisnya, yang pasti adalah manusia pembelajar. selalu belajar dari tiap peristiwa yang dijumpai dan sekaligus menstrukturkannya agar jadi pelajaran bagi orang lain.

dari sini, bukannya saya lalu memuja buku ini maupun penulisnya, tapi saya jadi terdorong untuk berbuat serupa: belajar dari lingkungan dan menjadikannya pelajaran bagi orang lain.

semoga buku ini juga mengubah kita agar tidak hanya jadi konsumen buku, tapi terlebih-lebih, menjadi produsen.
hayooo… nuliiis…

baca-nulis
baca-nulis
baca-nuliiisss..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *