raker[ja…]

saya pamit untuk mengikuti rapat kerja, di tempat saya bekerja. suatu kegiatan yang sudah lama tidak saya ikuti, berhubung saya tidak aktif lagi sebagai pejabat struktural di tempat ini.
pamit dua hari, namun hanya sanggup saya ikuti sehari semalam. tidak ada lain alasan, selain karena ada bersamaan juga dengan kegiatan lain yang saya sanggupi, dan peran saya yang memang tidak lagi menentukan dalam rapat kerja tadi.
di tawang mangu yang sejuk, dan di penginapan yang membelakangi keributan jalanan menghadapi lembah yang dialiri sungai jernih di dasarnya, membikin raker kali ini seperti refreshing jiwa kami.

tawang mangu, seperti halnya kaliurang, sudah kumuh dengan berbagai macam penginapan. berjejal-jejal bangunan dengan kamar-kamar kosong yang disewakan, tanpa pelayanan yang pantas bagi orang yang ke sana untuk berekreasi. mungkin orang-orang ini belum tahu apa yang dicari orang ketika berekreasi. orang-orang ini mungkin juga nggak ngerti cara melayani tamu. gak ngerti dengan apa itu ‘pelayanan’. tempat di desa yang didatangi orang kota sudah persis kota saja: berjejal-jejalan bangunan-bangunan dengan kamar-kamar kosong…

orang pergi rekreasi, refreshing, itu membutuhkan dan menciptakan “jarak” dengan kegiatan sehari-harinya. membutuhkan suatu suasana yang “berbeda”. bila sehari-hari dia adalah unsur kecil yang tunduk pada suatu sistem besar, maka dia butuh suasana di mana dia adalah pribadi unik yang berdaulat atas dirinya. bila ia sehari-hari menghirup udara kaleng AC atau udara berpolusi jelaga, maka kini ia butuh udara bersih yang alami. bila sesehari ia tinggal dan bekerja di tempat yg berimpitan padat, maka kini ia butuh kelegaan…

tawang mangu, juga tempat-tempat rekreasi yang saya tahu, memaknai tempat rekreasi hanya sebagai tempat untuk tidur. tempat untuk ngamar dengan hawa dingin. perencana kota atau wilayah tempat-tempat rekreasi itu tidak sadar bahwa yang dibutuhkan adalah justru keadaan alami dengan sedikit bangunan. sebaliknya, orang tidak dicegah untuk membangun tanah-tanahnya menjadi penginapan-penginapan kosong dengan kamar-kamar tidur tadi.

rusak sudah tempat-tempat sakral yang alami, tempat kami bisa melakukan refreshing jiwa dan rekreasi. tidak ada tempat untuk mengambil jarak… yang untuk itu negara-negara tetangga sudah siap. mereka menyediakan tempat yang layak untuk kita “mengambil jarak”. selain memang harus melancong ke luar negeri menuju negeri mereka, juga mereka sudah lebih sanggup menyediakan kebutuhan orang-orang akan tempat alami tadi…

raker di river hill kali ini cocok disebut sebagai rakerja -tidak bekerja- yang sebagai komplemen dari kerja juga amat kita butuhkan. untuk itu, saya sempatkan merebahkan diri di batu-batu besar kali, juga di empuknya kasur di kamar river hill.

lie down on a river stone...

sudah lama tidak saya alami pengalaman menyegarkan seperti ini. terima kasih teman-teman!

2 Comments on raker[ja…]

  1. greg
    July 19, 2010 at 2:54 am

    mesake …golek nggon penak ndadak nganggo rapat sik….lalu kehadiranmu disana memaknai apa saudaraku? hahahha…..pernyataanmu tentang jabatan struktural dan peran didalamnya itu cukup menggelitiku….: suatu kegiatan yang sudah lama tidak saya ikuti, berhubung saya tidak aktif lagi sebagai pejabat struktural di tempat ini….hahah…melu rapat yen jd pejabat struktural….apik kuwi….hahah

  2. anto
    July 19, 2010 at 8:22 am

    hehe… saya menulis laporan di atas untuk mengungkapkan syukur kok. setiap tempat punya potensi untuk ditemukan alasannya untuk bersyukur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *