creolization of indies

Being Being “Dutch” in the Indies: A History of Creolisation and Empire, 1500-1920 by Ulbe Bosma

My rating: 4 of 5 stars

pada hemat saya, buku ini adalah suatu usaha untuk memaparkan riwayat suatu ide. riwayat suatu gagasan yang bernama ‘indisch’.
bahan yang digunakan tidak terlalu asing bagi saya, tapi caranya mendekati fakta hibriditas di tanah jajahan ini menarik. hibriditas, creolization atau apa pun istilah yang dipakai, dalam buku ini hendak ditetapkan awal dan akhir pemunculan serta pemekarannya.

penulis menggunakan rentang waktu [1500-1920:] yang dipakai untuk menegaskan fakta sebelum makin membanjirnya orang eropa ke tanah jajahan. yakni rentang waktu ketika jalur transportasi antara belanda dan hindia belum mulus, sehingga gejala hibriditas berlangsung rame-ramenya. seperti kita tahu, rentang waktu sesudahnya adalah masa ketika infrastruktur kota di tanah jajahan sudah ‘baik’ menurut ukuran eropa, banyak orang eropa yang melakukan migrasi ke tanah jajahan sehingga ada di sana kelompok-kelompok orang eropa yang ‘murni’, tidak tercampur dengan pribumi. buku ini mengulas periode sebelum itu.
lebih dari sekadar membicarakan masalah perbauran etnik, buku ini juga membicarakan konsekuensi2 dari pembauran dan penegasan identitas itu kedalam hunian, kota, pekerjaan, konflik-konflik kelas dll.

sebagai pembuka, buku ini mengulas konsep klasifikasi ‘separation and fusion’ yang kemudian diturunkan ke bab-bab beriktu tentang rasisme, perbudakan, konversi ke kristen, jaringan para pedagang pribumi dan asing, kapitalisme perkebunan, rekruitmen pribumi menjadi tentara VOC, pendidikan dan diskriminasinya, koran dan penerbitan serta munculnya kesadaran nationalisme…buku ini menutup dengan menyajikan bab mengenai ‘indische: defined and identified”.

babak yang bagus itu (didirikannya masyarakat baru yang TIDAK berbasis etnisitas) harus berakhir ketika semakin banyak orang eropa membanjir, semakin banyak gaya hidup yang kebelanda-belandaan, makin banyak bahasa belanda dipakai, moda transportasi mobil dan sepeda meninggalkan kereta binatang, ‘rijstafel’ digantikan berbagai jenis masakan eropa, sarung dan kebaya tidak lagi digunakan nyonya2 belanda, maka proses hibridization itu digantikan oleh ‘dutchification’ yang menegaskan pemisahan antara belanda dan pribumi. organisasi2 yang bersifat etnisitas pun muncul… hingga dicapai suatu momen ketika orang bisa merasakan bahwa hubungan “kami” dan “kalian” tidak lagi setara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *