anti antri

baru setelah melihat dengan berjarak, saya menyadari bahwa banyak dari kita tidak menganggap penting antri. setelah beberapa waktu hidup di antara orang yang menganggap penting antri, saya melihat ada benarnya bila kita juga menghargai hal yang sama.
antri -seharusnya ditulis antre- memang konsep asing. kita tidak memiliki gagasan ini sehingga istilah antri pun harus dipungut dari luar. ada yang mengatakan kata ini diserap dari bahasa belanda aantreden yang artinya berbaris berdiri berderet-deret memanjang menunggu untuk mendapat giliran. suatu konsep yang mengandaikan pelayanan satu demi satu menurut siapa yang paling dahulu datang. pelayanan yang sedemikian ini memiliki anggapan bahwa tiap orang itu sama berharganya sehingga setiap orang perlu mendapatkan pelayanan yang sama pula.
penghargaan terhadap orang lain sebagai individu yang setara dengan saya sendiri konon masih menunggu diperkenalkan oleh orang lain. sebelum itu, hubungan antar individu adalah tindas-menindas pada yang lemah, layaknya persaingan di hutan yang berhukum rimba.

kesediaan untuk mau mengantre itu merupakan mentalitas yang dipelajari, bukan bawaan lahir. hasil suatu kegiatan kultural, bukan yang kita miliki secara natural.

bila hari ini saya melihat orang berdesak-desak untuk berada di urutan terdepan di perempatan jalan, saya kira memang bangsa kita ini kurang ajar, kurang belajar, dan tidak punya penghargaan pada sesama sebagai yang setara dengan dirinya.

terlebih bila ia menganut ajaran bahwa tidak ada kebenaran di luar ajarannya…wah… payah!  atas nama kebenaran ajarannya, ia akan bersemangat menista sesamanya. orang seperti ini akan susah diajar mengantri!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *