berhenti di halte

andalan saya bepergian di jakarta adalah bus trans-jakarta. suatu proyek idealis yang saya pahami sebagai jalan keluar dari kemacetan lalu lintas ibukota selama ini.

dengan membuat jaringan darat bebas hambatan di sisi jalan yang sudah ada, tanpa harus membangun jaringan baru, maka proyek ini terhitung realistik dengan anggaran dan kondisi yang ada. suatu jalan tengah untuk nantinya menuju terciptanya jaringan transportasi massal yang adalah satu-satunya solusi kemacetan di kota ini.

jaringan ini selain mengiris jalanan yang sudah ada, juga membangun titik-titik perhentian (halte) di sepanjang jalannya. juga memanfaatkan titik-titik yang sudah secara tradisional dikenal oleh sistem transportasi kota sebelumnya. halte-halte ini dirancang bagus. bentuknya pantas untuk kota modern, dan menggunakan bahan yang mudah pemeliharaannya. paling tidak, mudah untuk dibersihkannya.

tapi tidak untuk pemeliharaannya sebagai sistem. dua hari ini saya dengan sedih melihat sistem transportasi yang digagas dengan bagus ini mulai memudar. halte-halte sudah pada rusak, pintu otomatis nyaris semua tidak berfungsi, kotornya minta ampun. jalur-jalur bebas hambatan pun sudah lebih sering diserobot oleh sepeda motor dan mobil pribadi yang tidak tahan terhadap kemacetan di jalur regular.

pengantri di halte-halte itu sungguh luar biasa. saya tidak mengira bahwa sebenarnya kebanyaka penduduk kota memilih modus ini, tapi mengapa banyak pula yang melakukan perusakan atasnya? kapasitas atau daya dukung halte-halte ini pasti dirancang TIDAK untuk manusia sebanyak itu. tidak mengira bahwa akan segitu banyak pemakai yang harus dilayani, dan agaknya ini bukan hanya karena banyak orang berpindah modus tapi memang penduduk jakarta bertambah secara luar biasa banyaknya.

gejala baru yg menarik saya lihat kemaren adalah di halte tersebut ada pemisahan penumpang atas jenis kelamin. ada pintu untuk pria dan ada pintu untuk perempuan.

gila!
sejak kapan halte, sebagai fasilitas publik seperti ini, memisah-misahkan ruang atas jenis kelamin? persis kakus.

halte-halte bus trans jakarta, tempat semua orang yang dalam perjalanan singgah sementara, selain sekotor toilet dan kakus umum juga sekarang menegaskan citranya seperti itu: seperti toilet dan kakus!

2 Comments on berhenti di halte

  1. Mel B
    August 16, 2010 at 10:37 am

    sejak yang antri luar biasa makanya dipisahin line antri nya pak, karena dari sekian banyak yang pakai trans-jakarta untuk bepergian ada sedikit orang yang pakai trans-jakarta untuk “berpegangan dalam kesempitan”, hahaha…memang gila kan pak 😀

  2. anto
    August 16, 2010 at 10:55 am

    selain keberatan di aspek teknis [ibu dan anak lelakinya, kakek dan nenek pasangannya, masak mereka harus dipisah?], keberatan saya ada pada pra-anggapannya. pemisahan ini melestarikan anggapan bahwa lelaki berpotensi usil. semua lelaki dicurigai bakalan usil terhadap lawan jenis. ini pun melestarikan anggapan bahwa perempuan itu harus diamankan, lemah, selalu terancam lelaki dan tidak bisa membela diri.
    pada hemat saya, anggapan ini pantasnya ada di masyarakat yang dekaden yang hubungan perempuan-lelakinya tidak saling terbuka, tidak saling menghargai. dan masyarakat kita BUKAN seperti ini! [maaf] mungkin cocok untuk arab sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *