abstraksi dan pengalaman

saya sadari, selama ini rupanya saya belajar arsitektur dari abstraksi. kita perlakukan arsitektur sebagai komposisi dari konsep-konsep abstrak seperti: titik, garis, bidang, volume. dengan mengabaikan bahan yang akan berperan sebagai titik, garis, bidang dan volume itu, maka dilakukanlah transformasi padanya: ditambah, dikrowok, ditempel, ditopang, digantung, dipuntir, ditekuk dan berbagai operasi transformatif lainnya.

kita diminta untuk menyebut dinding sebagai bidang tegak, lantai sebagai bidang horizontal bawah, langit-langit [dan kadang-kadang atap] sebagai bidang horizontal atas, kaca sebagai bidang transparan, pintu dan jendela disebut sebagai bukaan

begitulah, maka kegiatan di studio adalah kegiatan yang mengolah konsep-konsep abstrak tadi menjadi suatu komposisi abstrak pula, suatu abstraksi mengenai arsitektur yang tersusun atas elemen-elemennya. bila pun arsitektur abstrak ini hendak diletakkan di suatu situs yang real, maka situs tadi harus juga diabstraksikan, diubah menjadi suatu benda abstrak yang terbangun dari komposisi titik, garis, bidang atau volume.

karena komposisi ini adalah abstraksi, maka ia bisa divisualisasi dengan bahan dan media yang bermacam-macam: model grafis CAD, maket dari karton maupun plastik, gips, dsb. maket-maket tersebut memodelkan pohon, tanah, genting, kaca, teraso, beton, kayu dengan bahan yang sama. tidak hadir di sana kualitas atau karakteristik masing-masing bahan. demikian pula dengan model CAD, maka arsitektur yang dilahirkan seolah mengapung tanpa berat, tanpa tarikan gravitasi, bisa diputar kesana-kemari dengan ringannya.

beda halnya dengan cara memandang arsitektur yang berangkat dari pengalaman. pengalaman tubuh dengan segenap inderanya dalam berinteraksi dengan pasir, tanah, bata, batu, bambu, kayu, plastik, besi, kaca yang memiliki segenap sifat-sifatnya: berat, ringan, porous, getas, lentur, mengilap, kusam, kasar, licin…

bila kita melihat bangunan atau arsitektur sebagai realitas yang tersusun atas bahan-bahannya, maka kita akan tahu bahwa itu semua punya bobot, punya kualitas permukaan, kelenturan, porositas yang berbeda-beda dari bahan satu dengan yang lain.  kita tidak bisa memaksa bambu dibuat bidang datar sedatar beton pracetak. sulit pula membuat sambungan bambu sebersih sambungan las pada besi baja. sebenarnyalah, bahan-bahan itu sudah punya sifat yang justru harus ‘diajak bekerja sama’ katimbang ditundukkan untuk menuruti kemauan arsiteknya.

belajar arsitektur bisa menempuh kedua hal itu sekaligus. untuk itu nantikan posting berikut…

1 Comment on abstraksi dan pengalaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *