jalan sala yogya

di yogya sini sering orang punya hajat menutup jalan -entah separo, entah sepenuhnya- di sekitar rumahnya. beda dari perilaku orang sala. di sala, orang lebih banyak menyelenggarakan hajatan di gedung-gedung pertemuan yang disewa katimbang mengokupasi jalan. ada lebih dari 10 gedung pertemuan di sala, sedangkan di yogya tidak lebih darinya. itu yang sanggup saya ingat.

rama kuntara pernah berujar bahwa orang sala pantang makan di pinggir jalan, sedangkan jalan di yogya adalah tempat berkembangnya warung lesehan. perbedaan penggunaan jalan tadi apakah bisa dianggap sebagai indikator bahwa orang yogya lebih guyup katimbang orang sala sehingga ruang panjang penghubung antar rumah itu bisa digunakan bersama-sama? entahlah.
yang jelas, jalan di sala lebih lebar dibanding jalanan di yogya yg terasa lebih berjubel. karena itu, mungkin, hajatan di yogya bisa berlangsung dengan sebentar meminjam jalan.

sajian hajatan gaya sala dikenal dng rumus USDEK: unjukan, snack, dhahar, es, kondur. urutan ini tidak bisa dilangsungkan sebentar. bila rumusan itu belum tergenapi berarti hajatan belum selesai, dan tamu sungkan utk pulang lebih dulu. dan ini bisa berlangsung lebih dari satu jam.

sekarang ini, sudah banyak orang yogya menyelenggarakan hajatan di gedung sewa, meski tetap dengan ‘standing party’, hal baru yang oleh generasi ibu saya ditentang habis. mungkin jalanan yogya makin poluted sehingga mereka memindah acara itu ke gedung sewa. atau mungkin juga ada anggapan bahwa yang sanggup menyewa gedung adalah yang lebih berada? saya juga tidak tahu. yang jelas di sala, sampai sekarang tetap jarang hajatan diselenggarakan dengan mengokupasi jalan. tidak juga dengan ‘standing party’.

sebagai orang yang lahir dan besar di sala tapi tinggal di yogya, saya menikmati perbedaan pemaknaan jalan ini, khususnya penggunaan jalan untuk dipakai hajatan. momen ketika kehormatan keluarga ditampilkan ke publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *