camera obscura – camera lucida

benar seperti dikatakan marshall mc.luhan bahwa kamera [dengan lensanya] mengubah cara kita bersikap terhadap benda-benda, orang di sekitar kita, bahkan pada diri sendiri…
kamera menyajikan suatu representasi visual yang kadang aneh, tidak lazim.
karena yang dilihat oleh mata kamera itu bisa “aneh-aneh”.

gambar di atas ini sungguh-sungguh ada. gambar yang sungguh-sungguh dilihat oleh kamera, tanpa manipulasi apa pun: suatu komposisi tumpuk-tumpuk yang terjadi karena pantulan berbagai benda, lalu poster, dan benda lain dari berbagai arah yang tidak bisa diseleksi oleh kamera.

mungkin karena bagi mata kamera, semua yang di depannya itu ada. sedangkan mata manusia mungkin akan menyeleksi ini dan menghasilkan semacam kesadaran akan adanya keganjilan, hal yang tidak alami, tidak lumrah, tidak natural dari yang dilihatnya. mata manusia akan memisah-misahkan: ini yang benda tenanan, yang itu cuma pantulan, yang itu lagi cuma poster yang menggambarkan sesuatu…

tapi, justru itulah, justru mata manusialah yang merasakan sensasi ini. mata kamera tidak.

dengan adanya sensasi ini maka tampilan itu jadi menarik perhatian [manusia]. itu rupanya yang terjadi dalam diri saya ketika menghadapinya, ketika saya membiarkan mata natural saya mengalah dan membiarkan mata kamera yang saya inceng itu berkeliaran menjelajahi obyek-obyek di depannya.

dengan demikian, saya menyadari bahwa pemandangan jadi lebih kaya. dalam situasi itu saya tetap sadar akan adanya keganjilan visual dalam gambar, tapi sekaligus membiarkannya untuk melihat lebih banyak lagi dari pada yang bisa diberikan oleh mata natural saya. mata kamera menyumbang sesuatu bagi kekayaan batin saya.

sekarang kita menyadari bahwa kita bisa hidup dengan mata kamera. ada tivi, di mana yang dilihat oleh pemirsa itu adalah yang tertangkap oleh kamera di studio saja. pemirsa tidak akan bisa melihat berantakannya studio tivi di belakang lensa kamera. betapa peralatan dekorasi dan berbagai properti panggung bertimbun-timbun gak keruan.

ada foto pernikahan, di mana semua yang terlibat dalam perhelatan -kedua mempelai, kedua orang tua dan panita yang lain- itu diminta bersikap tertentu di depan kamera, diminta “bermain peran” di depannya.

juga foto wisuda, ketika semua civitas academica termasuk wisudawannya diminta berjalan dengan cara tertentu, berjalan dari dan ke arah tertentu yang kesemuanya agar menghasilkan tampilan yang bagus bagi foto atau video.

juga ketika kita nonton balapan mobil F-1, misalnya, kita bisa mengikuti seluruh track, hal yang mustahil dilakukan oleh mata biasa.

sekarang ini, banyak segi kehidupan kita sudah -dan kadang ingin kita lihat- dengan mata yang sudah diperkaya oleh kemungkinan-kemungkinan yang bisa terlihat oleh mata kamera.

apakah mata kamera tidak menyeleksi pemandangan visual di depannya, seperti halnya mata natural melakukan seleksi? tentu saja mata kamera juga melakukan seleksi. karena toh tidak semua benda dapat “dilihat”nya. benda yang terlalu gelap -misalnya- tidak dilihat. benda yang bergerak cepat, tidak terlihat oleh kamera dengan film ASA 64.

memotret sesuatu di tempat gelap sering tidak berhasil, padahal kita -dengan indera kita yang lain- menyadari bahwa sesuatu itu sungguh-sungguh ada di depannya.

jadi, kamera melakukan seleksi juga seperti mata natural, tapi alat, cara, kriteria yang dipakai untuk menyeleksi itu beda dari mata natural kita.

dulu kita menyebutnya camera obscura [kamar gelap], tapi sekarang kita tidak perlu bergelap-gelapan untuk menghasilkan pemandangan fotografis itu, sekarang segalanya terang benderang. selain karena sekarang kita tidak butuh kamar gelap, juga karena sekarang kita hidup di alam yang disumbang [dalam jumlah besar] oleh teknologi fotografi. dengan sarana itu kita sekarang tinggal di alam [kamar] terang [camera lucida].

mungkin hal ini juga menyadarkan kita, bahwa apa yang kita lihat belum tentu terlihat orang lain. dan sebaliknya, apa yang dilihat orang lain, tidak terlihat oleh kita. dus, berbahagialah yang tidak kecemplung di salah satu lubang itu tapi yang menyadari akan kontribusi keduanya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *