melihat dengan mata orang lain

Met vreemde ogen: Tempo doeloe, een verzonken wereld : fotografische documenten uit het oude Indië 1870-1920Met vreemde ogen: Tempo doeloe, een verzonken wereld : fotografische documenten uit het oude Indië 1870-1920 by Robert Nieuwenhuys

My rating: 4 of 5 stars

membeli buku ini terutama karena provokasi judulnya: “met vreemde ogen”
sebenarnya saya kurang suka buku bergambar, atau buku kumpulan foto.
selain mahal juga biasanya dihimpun hanya untuk memelihara rasa nostalgia belaka.

tapi buku ini tidak sekadar merawat penyakit kehilangan masa lalu itu. ini adalah buku kedua dari tiga buku kumpulan foto dari rob nieuwenhuys [yang lain adalah “tempo doeloe” dan “baren en oudgasten”. yang ini mau melihat diri sendiri melalui mata orang lain. sedangkan sumber fotonya sendiri datang dari berbagai sumber. tidak jarang, foto itu sudah kita kenal semua karena hadir di banyak publikasi sebelumnya.

kalau saya mengganti status buku ini sebagai “read” itu hanya berarti bahwa saya sudah membaca “sebagian besar” teksnya saja, sedangkan foto-fotonya akan selalu saya pakai karena nilai dokumenternya.

karena belanda sudah lama sekali bergaul dengan masyarakat indonesia, maka bisa dipahami bila interaksi selama itu juga tidak hanya pada kelas atas saja, namun sempat sampai ke bawah-bawah pula. tidak hanya mengulas bagaimana proses pembaratan terjadi di kalangan bangsawan, namun juga menyajikan keadaan rumah, busana dan kegiatan masyarakat indonesia [khususnya jawa] di masa kolonialisasi.

foto disadarinya memiliki kekuatan dalam memilih obyek, demikian pula mampu mengabadikan peristiwa yang sifatnya sementara. alat yang masuk ke jawa sekitar tahun 1870-an itu kemudian menakjubkan banyak orang. berhubung bahan dan proses pembuatannya yang mahal, maka peristiwa atau benda-benda yang dipotret pun selektif. dalam arti itu, alat potret menjadi salah satu penunjuk mengenai benda-benda atau peristiwa yang dianggap penting, dianggap perlu diabadikan. gambar foto menjadi pengganti prasasti modern. bukan saja karena foto mengantarkan kita kepada benda dan peristiwa masa lalu, namun fotonya sendiri menjadi dokumen penting yang perlu dirawat, seperti kita merawat lempengan tembaga atau batu prasasti dari masa lalu.

buku ini sedikit memberi pengantar teoretik, tapi langsung menyodorkan banyak sekali gambar setelah pengantar singkatnya. gambar-gambar itu disusun atas pembagian kelas. di awal diberikan foto mengenai kehidupan daerah vorstenlanden [surakarta, yogyakarta], lalu foto keadaan kraton di sekitar 1883, keadaan kadipaten mangkunagaran yang waktu itu dipimpin oleh pemimpin yang pro modernitas. kemudian foto-foto mengenai pejabat dan sistem pemerintahan tradisional jawa: bupati, wedana, dsb. lalu ada bab khusus mengenai kartini berikut kisah mengenai keluarga-keluarga bupati pesisir, yang umumnya berpendidikan barat dan cepat menerima pengaruh dari sana.

setelah foto-foto mengenai rampogan macan, disusul dengan foto-foto mengenai “orang kecil”, babu, buruh, pengamen, keadaan pasar, mainan dan kegiatan anak-anak jawa, pengantin, dan penjahat serta pemberontah yang tertangkap juga [di bagian ini teuku umar dan cut nya dien dimasukkan].

bagian penutupnya adalah dunia etnis cina yang dikatakan agak tertutup dan punya dunia sendiri, serta dunia masyarakat eropa yang tinggal di jawa. tentang bagaimana kebiasaan barat diadopsi oleh mereka.

begitulah, orang belanda sedang melihat dirinya sendiri melalui orang lain. negeri kecil yang tidak bisa hidup selain dengan berdagang dan bersikap toleran kepada bangsa-bangsa lain ini sedang melihat dirinya sendiri dengan meminjam melihat ke orang lain yang pernah bersentuhan dengannya. fotografi membantu dalam mengabadikan hal-hal itu, membantu untuk membuktikan bahwa meski kecil mereka membawa pengaruh besar pada orang lain dan dunia.

” het is het moment dat blijft
de eeuwigeheid is wat vergaat”

keren dah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *