layang balewarna

LAYANG BALEWARNA
amratelakake kahananne bale
pomahanne wong cilik ing tanah jawa,
lan nununtun amurih raharjaning
omah-omah.
anggitanne
mas sasra sudirja.
mantri guru ing pamulangan ongka II
ing
kertek

SURAT BALEWARNA
menguraikan keadaan rumah orang biasa di tanah jawa,
dan memberi petunjuk menuju kesejahteraan rumah tangga.
ditulis oleh
mas sasra sudirja
mantri guru di perguruan “angka loro”
di
kertek

surat ini pernah diulas oleh prof.josef prijotomo [ITS] di berbagai kesempatan. suatu gejala baru tentang bagaimana media cetak dilibatkan dalam penyebarluasan ideologi arsitektur modern -[bersih, sehat, terang, hemat bahan] serta kritik yang ditujukan pada keadaan omah tradisional orang jawa kebanyakan.

artikel lengkap LAYANG BALEWARNA yang saya punya tertulis dalam aksara jawa. terbitan balai pustaka, weltevreden, 1919.

modernisasi rumah pribumi.
yaitu suatu pandangan baru terhadap lingkungan binaan. pandangan ini diformulasikan dan disebarkan melalui media dan pengajaran. karena itu bisa dimaklumi bila ketika “pengajaran pada bumi putra” digalakkan semasa politik etis [1901] dan ketika ada undang2 pers [persreglement 1854] dimaklumkan, maka tradisi membangun lokal berhadapan dengan paham baru yg disiarkan di sekolah2 dan bacaan.
sekitar tahun-tahun itu,
terusan suez dibuka [1869] shg koneksi belanda-indonesia jadi mudah. banyak insinyur berdatangan, dan banyak bahan baru didatangkan. ini pun ikut mengubah wujud dan teknik membangun rumah.

gaya hidup diubah oleh media massa [informasi] dan kemudahan transportasi barang2/bahan2 baru tadi. ada 50 lebih majalah beredar di indonesia di awal abad 20. menawarkan berbagai gambar dan foto rumah2, busana, peralatan sehari2 di luar negeri.
jadi, faktor pengubahnya bukan personal atau individu, tapi sistemik, yakni informasi dan transportasi.
dua kekuatan ini terus bekerja -baik dulu maupun kini- dalam mengubah hunian dan lingkungan binaan kita.
ini yang sedang menarik saya. dengan kekuatan non-personal, lebih khusus: media, dalam merumuskan, membentuk dan menyebarluaskan perubahan.
pada hemat saya, sejarah [arsitektur] harus lebih mengamati dinamika ini.
penulisan sejarah bukan hanya bergulat pada deskripsi peristiwa masa lalu tapi lebih penting adalah menjelaskan kekuatan YANG SEDANG BEKERJA di tengah-tengah kita, masa kini.

tentang pak mantri guru,
jelas beliau bukan tukang.
beliau adalah guru.
tapi, guru di masa itu memiliki peran strategis. dialah yang “menerangi” pikiran pribumi dan membawanya ke pencerahan. pencerahan ke mana?
tentu saja ke barat.
ada bukti2 identifikasi pencerahan akal budi ini dengan westernisasi atau modernisasi. lihatlah gambar berikut: dewi europa membimbing ratu pambayun melangkah ke tangga pencerahan lewat tindakan membaca. judul gambar itu: djalan ke barat.

inilah jalan masuk bagi perubahan arsitektur di tanah air: yakni lewat pikiran. kalau kita baca layang balewarna tadi, maka kategori2 utk mengatakan suatu rumah itu baik, adalah bila sehat, bersih, terang, rapih [segala hal terletak pada tempatnya]…

tentu saja, rumah tradisional pribumi dinilai minus semua….

apakah arsitektur indonesia berubah hanya gara-gara buku kecil dari mantri guru sasra sudirja?
tentu saja tidak.
di tahun itu, ada buanyaak… orang dan institusi yang menyuarakan hal yang kurang lebih sama. saya sedang melacak sebisanya, gagasan dan institusi yang berperan dalam upaya transformatif ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *