amish dan pemurnian ajaran

pennsylvania

saya memuat kembali foto buatan 2007 ini, berhubung tiba-tiba ingat pada seorang rekan asal amerika [pennsylvania] yang pernah tinggal di mesir lama. dia anak baik, sopan dan religius.
bila pergi ke gereja, selalu mengenakan pakain pantas, bahkan kadang berdasi pula.

di mesir dia mengikuti pergolakan politik di sana, meski kemudian dia harus menyingkir keluar untuk beberapa minggu. dua hari lalu dia mengabari akan balik lagi ke mesir.
dia sudah kadung cinta dengan negeri yang sebenarnya tidak ramah dengan orang kristen, meski di sana ada gereja koptik tapi makin lama makin ditekan saja oleh perkembangan politik dan gerakan pemurnian islam.

foto di atas adalah foto rumah dan gudang dari orang amish, yang tinggal tidak jauh dari rumah teman saya tadi.
rumah yang bersahaja dan bersih. tempat orang-orang kristen amish menjalani hidup seperti di abad 18 ketika mereka datang dari belanda dan jerman. saya ambil foto rumahnya karena kami dilarang memotret orangnya.

begitulah,
mereka menjalani hidup yang tertutup dan cinta damai, anti kekerasan.
mereka menjalani hidup yang kembali “murni” sebagaimana dijalani oleh gereja awal.

kembali memurnikan gaya hidup. konsekuensinya adalah dengan menyendiri, atau bila cukup kuat, menekan pihak lain agar menurut gerakan pemurnian tadi.
orang amish memang minoritas. mereka tidak kuat, tidak pernah mau diajak masuk angkatan bersenjata. karena itu juga mereka hidup mengumpul di kawasan tersendiri, punya pasar sendiri, kendaraan sendiri, cara berbusana sendiri.

begitu berbeda alam yang dihayati teman saya tadi: di rumahnya sendiri pemurnian ajarannya membuat ia dan keluarganya menyendiri dan tidak pernah mengganggu orang lain, tapi sekarang di mesir dia ketemu dengan pemurnian ajaran yang dilakukan dengan mengusir atau menindas orang lain.

saya tinggal di jawa, pulau dengan masyarakat yang dibentuk oleh kondisi geografisnya yang terbuka dan mau tidak mau harus toleran dengan semua ajaran. buat orang jawa, kemurnian itu sesuatu yang asing bagi kami. oleh sebab itu kekerasan tidak pernah, atau sedikit sekali, berlangsung dengan motif kemurnian identitas. lebih sering karena rebutan potensi ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *