membantu katak melawan gempa

ada orang bersyukur karena terhindar dari bencana tsunami dan gempa. sementara ribuan orang meninggal diiringi tangisan keluarga.
demikian pula ketika kota kobe dilanda gempa hebat tahun 1995, kota tokyo selamat.
ada yang bersyukur di sana, sementara media memperdengarkan tangisan saudara-saudaranya di lain kota. kisah ini ada dalam cerpen murakami haruki “superfrog saves tokyo” yang masuk dalam kumpulan enam cerpen “after the quake”

gempa itu selalu ada.
dalam mitologi jepang, ia seumpama ulat tanah yang meski pun diam di dalam tanah, tapi kadang menggeliat karena marah. entah apa pun yang membuatnya marah.
dalam mitologi yang sama, penanda kemarahan ulat tanah itu -dengan kata lain, tanda adanya gempa- adalah kodok atau katak. katak dipercaya sebagai binatang yang pandai meramalkan kedatangan gempa.

dan katagiri-san kedatangan katak tadi di rumahnya.
katak sesungguh-sungguhnya katak. murakami membuat deskripsi panjang untuk meyakinkan bahwa ini adalah katak beneran yang bertandang. tapi katak ini bisa berkomunikasi lancar dengan katagiri. bahkan katak ini kenal dostoevsky mau pun leo tolstoy! murakami pun memberikan banyak halamannya lagi untuk mengolah keraguan katagiri tentang katak yang bisa bicara ini. dengan kata lain, murakami sedang mau mengatakan kepada kita bahwa dalam karya sastra, realita dan imajinasi itu susah dikatakan mana yang lebih nyata di antara keduanya.

yes, of course, as you can see. a real frog is exactly what i am. a product neither of metaphor nor allusion nor deconstruction nor sampling nor any other such complex process, i am a genuine frog…

gempa adalah hal yang potensial ada. ia ada, tapi juga tidak/belum nyata.
seperti halnya tokyo yang tidak terkena gempa, tidak berarti gempa tidak ada di sana.

katak tadi datang untuk mengajak katagiri menyemangatinya dalam melawan si ulat tanah.
ia sendiri yang akan bertempur, tapi ia butuh supporter seperti katagiri.

ia katak biasa. tapi ia pun bisa mewakili metafora tentang peringatan dini sebelum gempa. bahwa katak tadi datang dan mengajak untuk memperkuatnya agar bisa mengalahkan si “ulat”, dalam tidur mau pun dalam sadar, kadang berhasil kadang gagal. bahwa tokyo terhindar dari gempat tanggal 18 januari 1995, itu bukan keberuntungan. itu karena pengurbanan si katak yang telah berjuang habis-habisan melawan ulat.

tapi kisah perlawanan katak tadi tidak banyak yang mau mendengar. bahwa di dalam diam itu berlangsung pertempuran, tidak ada yang memerhatikan.

katagiri dianggap sedang bermimpi. tapi buat murakami, yang meminjam kisah “white nights” dari dostoevsky, realita gempa adalah seperti yang dikisahkan dalam kisah-kisah mitologi: yang bisa dianggap sekadar kisah, tapi jelas-jelas ia nyata. bagi katagiri [agaknya ini juga harapan murakami bagi para pembacanya] kisah dan realita itu tidak bisa dipisah-pisah begitu saja.

ada orang-orang egois di luar sana, yang bersyukur karena terluput dari gempa seperti yang ditanggung orang-orang lain.
rasa syukur yang egois macam ini hanya karena tidak sadar bahwa gempa itu bukan sekadar berita di media, namun juga realita yang bisa menimpa siapa saja yang lengah tidak mau membantu si katak… pahlawan yang sering mengajak kita mempersiapkan diri tapi sering pula dilupakan dan hanya pantas melompat-lompat di lumpur saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>