esensialisme watak bangsa

ketika jepang dilanda bencana gempa, tsunami dan bocornya reaktor nuklir, ada banyak tulisan yang saya baca mengenai watak bangsa tadi:

  • orang jepang pantang menyerah
  • harga diri dan percaya dirinya besar
  • mereka pantang mengemis
  • mereka juga taat antri
  • pemerintah mereka benar-benar melayani masyarakat
  • mereka sudah pengalaman dengan gempa
  • tidak mungkin ada penjarahan
  • tidak mungkin ada rush di pasar atau toko

komentar sanjungan itu disertai dengan anak kalimat berikut: “sangat berbeda dari tempat kita”

saya kali pertama membaca “sanjungan pada jepang dengan menghina diri sendiri” itu lewat tulisan pak ajip rosidi di bukunya “orang dan bambu jepang“. saya pikir, cara seperti ini tidak mendidik diri kita.
sebagaimana banyak mahasiswa kita yang belajar di jepang kemudian kejepang-jepangan, juga mengidap penyakit esensialisme watak bangsa ini. mereka mengira, keutamaan yang saya deret di atas itu sudah melekat dari sononya, demikian pula sikap nista kita itu juga dari sononya melekat pada diri kita.

pak gunawan mohamad menulis di twitternya, 22 Maret 23 Heisei 00:39:42, yang ada baiknya saya kutip di sini karena saya bersetuju dengannya :

Kita memang cenderung melihat “tak adanya penjarahan” di Jepang dgn mata yg mencela “watak” bangsa sendiri yg “suka menjarah”.
“Tanpa mengurangi kritik diri, rasanya perlu melihat Jepang sbg contoh: perbaikan kondisi sosial-ekonomi bisa memperbaiki perilaku”.
“Walhasil, bukan “esensi” yg membentuk masyarakat. Masyarakat bisa berubah dgn perbuatan + kerja, dgn kegagalan dan suksesnya.”
“Esensialisme” adalah sebutan utk pikiran yg menganggap ada “esensi” yg tetap yg membentuk perilaku satu bangsa atau ras.
“Ketika media kita beritakan tak ada penjarahan pasca-tsunami di Jepang, dikatakan itu karena watak budaya orang Jepang.”
” Tak ada watak atau “jati diri” bangsa yg tetap. Tak ada budaya yg tak berubah dan bebas pengaruh kondisi sosial-ekonomi.”

memuji orang lain tidak harus dengan mencela diri sendiri. demikian pula sebaliknya, memuji diri sendiri tidaklah dengan mencela orang lain. lagi pula, semua watak itu adalah konstruksi sebagai tanggapan terhadap kondisi sosial ekonomi dan kompleksitas situasinya.

senang, ada yang bisa merumuskan hal itu dengan terang dan sederhana seperti twits pak GM tadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *