merayakan hari raya

sabtu pagi ini gerimis.
saya menamainya demikian, karena turunnya hujan tidak sederas di kampung halaman.
dan hujan di awal musim semi ini sudah saya rasakan dinginnya dua malam belakangan.

sejak kamis malam lalu, gereja sudah terang benderang.
beberapa orang umat terlihat bayang-bayangnya, bergerak dari balik jendela.
tidak banyak,
sementara, imam yang akan melayani misa malam itu dua orang, lebih dari biasa. begitulah peraturan perayaan ekaristi malam itu, harus konselebrasi.
kamis putih, imam-imam berbusana serba putih pula.
lagu-lagu brazilian digunakan dalam misa ini.
dan imam membacakan homili dalam tiga bahasa: brazil, jepang dan inggris.

setelah homili, duabelas orang duduk di kursi depan.
ada agung ikut serta di sana, mengikuti pascal tahun lalu, untuk dibasuh kakinya.
imam menuang air dalam bejana kayu yang bisa diseret di lantai. dia sendiri melepas casula dan mengenakan busana pembantu, membasuhi kaki kanan masing-masing perwakilan umat. dua belas handuk kecil digunakan masing-masing untuk mengeringkan kaki satu per satu.
adegan yang mengharukan, karena dibawakan dengan kesungguhan oleh imam yang saya tahu telah bekerja keras di paroki kecil toyohashi ini.

setelah ekaristi, hosti disimpan dalam wadah tertutup. diarak bersama umat masuk ke ruang samping yang sudah dipersiapkan untuk “memakamkan” tubuh kristus. kami semua ke sana, dan misa berakhir tanpa berkat pengutusan. demikianlah misa kamis putih, diakhiri tanpa pengutusan dan nyanyian penutup…

jumat malam kami bertiga datang kembali.
salib terbungkus kain ungu dipersiapkan di depan dekat pintu.
dan misa dimulai dengan sunyi.
kedua imam menggelosor di lantai depan altar. sekujur tubuhnya rapat dengan lantai, dari kaki hingga kepala. dan misa malam itu merupakan rekonstruksi peristiwa penangkapan dan penyaliban yesus. ingatan yang tidak ingin kami lupakan.

kami mendengarkan kisah detik-detik kematian yesus. dibaca bergantian atas tiga pemeran kisah, kami mendengarkan katimbang melihat pementasan tableau, berhubung tidak adanya umat yang bisa mempersiapkannya.

merayakan misa agung paskah di gereja paroki kecil ini mengharukan, bagi saya yang juga merasa nyaman di dalamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *