blangkon dan mondholan

pada masyarakat archaic, rambut panjang merupakan gejala umum. mengikat rambut menjadi kebutuhan ketika pekerjaan orang-orang itu tidak mengijinkan rambutnya berseliweran di muka maupun di bahu. dengan mengikat rambut maka ia bekerja lebih tangkas, tanpa gangguan.
tentunya, ikat kepala ini semakin dipercanggih dengan berbagai cara mengikat, berbagai bahan, ornamen, warna dst. seturut dengan stratifikasi masyarakatnya. karena disain barang-barang kebudayaan -setelah kebutuhan fungsionalnya terpenuhi- hanya akan berupa pencanggihan mengikuti kekuatan sosial, politik, ekonomi.
dalam hal busana orang jawa, misalnya, setelah kebutuhannya sebagai masyarakat perkotaan terpenuhi [berkain batik, telanjang dada, berikat kepala] maka kesibukannya dalam disain hanyalah pada menciptakan pola-pola dan warna kain batik yang baru, pola dan warna ikat kepala yang belum ada. tapi kesemuanya itu tidak mengubah dasar-dasar cara ia berbusana: telanjang dada, berkain batik dan berikat kepala.

sepengetahuan saya, ikat kepala orang jawa jaman kuna tidak jauh beda dari ikat kepala orang bali atau madura. kain segitiga dilipat-lipat menyerupai sabuk, lalu dibelitkan ke sekeliling kepala sehingga mengikat rambut panjangnya, tanpa menutupi ubun-ubun. ujung ikatan pengunci diletakkan di depan atau atau di belakang.

seperti kita tahu, orang-orang dengan tradisi rambut panjang amat menghormati rambutnya itu. dan mereka akan sangat tersinggung bila ikatan rambutnya itu terurai.
setelah berkenalan dengan etika islam yang melarang mempertontonkan rambut panjang, maka orang jawa lalu menutup rambut mereka setelah mengikatnya terlebih dulu di belakang. jadilah suatu busana untuk kepala yang menutup rambut sepenuhnya.

karena ikatan rambut orang kebanyakan ada di belakang maka nampaklah apa yang disebut sebagai ‘mondholan‘ yakni benjolan di belakang yang mula-mula adalah penutup bagi gumpalan ikatan rambut di belakang kepala orang tersebut.

mondholan ini pun beriwayat. setelah kebutuhan fungsional dalam menutup seluruh rambut terpenuhi maka terjadilah pembekuan disain penutup kepala. yogyakarta yang konservatif melestarikan bentuk mondholan itu, sementara di surakarta sudah mengabstraksikannya hanya dengan menyisakan ‘tanda’ seperti mondholan tapi tanpa volume.

blangkon mangkunagaranblangkon surakartatradisi mangkunagaran memilih untuk lebih logis: karena trend berambut panjang dan bergelung sudah berakhir [bersamaan dengan berakhirnya tradisi berkuncir di kalangan orang tionghua] maka blangkon mangkunagaran menghilangkan jejak-jejak mondholan dan menggantinya dengan ikatan belaka.

7 Comments on blangkon dan mondholan

  1. Anthony
    March 6, 2008 at 12:01 am

    I would like to buy a blangkon. I live in USA. How can I buy one? Please email me. Thanks.

  2. bimo
    October 30, 2008 at 1:50 pm

    salam kenal… kami adalah salah satu pengrajin blangkon di Kotagede, mungkin kami bisa melakukan semacam penawaran untuk produk blankon..
    hubungi kami di senaruci@yahoo.co.id atau 081392036653 (mobile)

  3. wardoyo
    January 14, 2009 at 9:51 pm

    salam kenal…..kami salah satu pengrajin Blangkon tertua d kota solo,yang terletak d salah satu perkampungan blangkon potrojayan.di potrojayan kurang lebih sudah ada sekitar 25 home industri blangkon.dan usaha home industri blangkon sudah saya tekuni sejak tahun 1964.dan juga kami sudah pernah membuat blangkon dengan jumlah 4150 blangkon dalam jangka waktu 1 bulan pemecahan rekor MURI dalam acara pembuatan goa natal dari rangkaian blangkon yg terlaksana pada tgl 22 des 2008.mugkin anda berminat pesan …/mungkin kami bisa bantu anda untuk belajar cara membuat blangkon…

    silahkan hub kami di jl,arjuna 1 no 06 serengan solo telp (0271)665568/085647090771 email: pepywongpro@yahoo.com

  4. titi
    March 15, 2009 at 4:49 pm

    saya mau tanya, apakah blangkon itu seni kerajinan kriya? saya ada tugas kesenian, dan bisakah saya memasukkan blangkon sebagai salah satu seni kriya Indonesia?
    terima kasih

  5. v vandeta
    March 26, 2010 at 1:16 pm

    saya mau nanya gi mana sih cara buat blangkon mangkunagara, cara lipat kainnya karena saya tertarik dengan seni budaya ini,

  6. anto
    March 27, 2010 at 10:14 pm

    wah,
    saya sendiri tidak bisa melakukannya.
    setahu saya, blangkon versi mangkunagaran ini sudah benar-benar menginggalkan citra bundelan rambut di belakang itu [mondholan]. seperti kita tahu, blangkon yogyakarta masih mempertahankan citra bundelan rambut itu dengan gumpalan kain yang dibentuk seolah-olah ikatan rambut. sedangkan blangkon surakarta sudah meninggalkan citra bundelan rambut tadi dengan hanya memberi “kesan” bahwa di belakang kepala itu dulunya pernah ada ikatan rambut yang dibundel..
    sedangkan blangkon mangkunagaran yang lahir kemudian, ketika rambut panjang sudah tidak lazim lagi dipelihara pria jawa, maka blangoknnya benar-benar bersih dari citra bundelan rambut tadi. di belakang hanya ada ikatan belaka sebagai pengunci ikatan penutup rambut itu.
    semoga ada teman lain yang bisa menerangkan proses membuat ikat kepala gaya mangkunagaran ini. dari saya hanya itu yang saya tahu…. salam hangat!

  7. AHMAD AMIN
    September 4, 2019 at 10:23 pm

    Sangat bermanfaat akan saya coba, terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *