lalayu

tadi pagi saya mengirim sms ke salah seorang rekan sesama asal sala:

ora nglayat?

dia membalas dengan begini:

ora bisa kang, aku ora bisa budhal sebab aku diundang syukuran mantan napi politik ITB. aku cuma ngirim ucapan ‘selamat menempati rumah baru’

saya mengirim sms di atas karena ada orang yang sangat kami kenal kemaren meninggal. orang jawa menyebut ‘ditinggal’ itu dengan istilah ‘kalayu‘, yang darinya muncul pula istilah ‘layon‘ [jenazah], ‘lalayu‘ [diucapkan sebagai ‘lelayu] yang berarti berita kematian.

dalam istilah-istilah di atas ada pengertian yang mengendap di baliknya bahwa hidup itu dibayangkan sebagai suatu proses yang bergerak. ada yang menganggap pergerakannya berpola linier, ada pula sirkuler, dan ada pula yang dibayangkan sebagai spiral: berputar sekaligus bergerak maju dan meningkatkan mutu. hidup dibayangkan seperti perjalanan, lakon.

dalam membayangkan perjalanan itu, ada yang menganggapnya punya titik awal dan titik akhir. bagi masyarakat yang sudah melek huruf hal itu diistilahkan sebagai ‘punya alfa dan omega‘, mengikuti tradisi tulis jaman gerika kuna. jadi, berada di dalam perjalanan tidaklah tiba-tiba nyemplung dan bergerak atau mengalir, tapi punya awalan dan akan menuju pada akhiran yang dibayangkan sebagai ‘peristirahatan’ [berhenti bergerak]. konsekuensi dari anggapan ini adalah harus dijelaskan bagaimana titik awal dan titik akhir itu bisa dibayangkan. karenanya maka orang butuh untuk menciptakan mitos asal-usul, “mitos penciptaan” dan “mitos akhir jaman”.

siang ini layon dari orang yang kami kenal tadi akan dimakamkan, diistirahatkan. tubuh itu sudah tidak bisa lagi mengisi ruang pergerakan manusia, dia sudah meninggalkannya. dan menurut mitos yang dianut sebagian besar dari kami, termasuk dia, waktu pun sudah berakhir baginya. ruang dan waktu sudah berakhir, sudah tertutup baginya, seiring dengan tubuh yang juga sudah dikeluarkan dari ruang hidup orang sesehari. diistirahatkan dalam rumah tinggalnya yang baru.

kebiasaan kami orang jawa, akan ada bunga yang ditabur sepanjang jalan menuju tempat peristirahatan terakhirnya. bunga-bunga ini [sengaja dibuat agar] meninggalkan jejak yang bisa dilacak mundur… yang darinya kita bisa menilai mutu lakon yang sudah dia mainkan.

selamat jalan, anda meninggalkan kami dengan banyak urusan begitu saja!

3 Comments on lalayu

  1. Eky
    January 29, 2008 at 2:02 pm

    Aku punya teman, teman sepermainan (spt lagu ‘Teman Tapi Mesra’). Dia cewe yang cuek dan cara bicaranya ‘nyablak’ (bhs Betawi). Walau sudah usia di atas 30 th tapi masih single, most probably karena wataknya tadi.

    Berulang-kali dalam pesta pernikahan keluarga atau teman, para sesepuh tanya ke dia ” Kapan nyusul ?”.
    Lama kelamaan dia malu, risih, marah, bahkan dendam.

    Kepada beberapa sesepuh yang ia dendami, dia balik bertanya persis seperti itu, bahkan menggunakan kata-kata yang sama. Bedanya, bukan dalam peristiwa pesta pernikahan, namun dalam peristiwa . . . . . penguburan jenasah !

  2. mahatmanto
    January 29, 2008 at 3:51 pm

    ha..ha.. iki tenan apa karanganmu wae? he…he..
    btw, trims!

  3. Ngawoerdotkom
    February 3, 2008 at 7:46 am

    Saat-saat yang amat dinantikan:pengibaran bendera setengah tiang.Dalam setahun mungkin cuma tgl 30 September,itu pun masih polimistis.
    Makasih ya pak Harto,bagiku engkau benar-benar pahlawan setengah tiang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *